TNI Latihan Makan Tokek Hidup Dinilai Survival, Atraksinya Diminta Hilangkan

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Jumat, 19 Feb 2021 06:34 WIB
Prajurit TNI dari kesatuan Yonif Raider 600/Modang bersama Tentara Diraja Malaysia (TDM) melakukan patroli gabungan menembus hutan dan pegunungan kawasan perbatasan Krayan-Malaysia, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Patroli gabungan tersebut dilakukan dengan tujuan memeriksa patok batas Indonesia -Malaysia serta menjaga keamanan wilayah teritorial.
Foto: Ilustrasi (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Latihan prajurit TNI memakan tokek hidup diminta dihentikan oleh People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) dengan menyurati Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto. Latihan makan tokek tersebut dinilai berguna sebagai bentuk pembekalan bertahan hidup di hutan.

"Latihan memakan hewan hidup itu sebenarnya kan bagian dari pembekalan cara bertahan hidup. Ini salah satu skill atau kecakapan penting yang harus dimiliki oleh personel militer tentang bagaimana mereka harus bisa bertahan hidup dalam keadaan terburuk, semisal ketiadaan logistik atau saat ruang gerak terbatas, sehingga harus sanggup mengonsumsi segala sesuatu yang dapat dimakan di sekelilingnya, seekstrem apapun," kata pengamat militer Institute for Security and Stategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi kepada wartawan, Kamis (18/2/2021).

Latihan memakan hewan hidup menurut Fahmi memang memiliki dua sisi. Bila prajurit TNI tak dilatih memakan hewan hidup, maka bisa menjadi malapetaka di kemudian hari, namun menjadi polemik dari sisi kesehatan dan pegiat hewan.

"Dalam konteks latihan, hal ini memang akan selalu dilematis. Di satu sisi, latihan survival memang diperlukan oleh militer, karena tanpa bekal pengetahuan dan pelatihan yang memadai, niatan bertahan hidup itu bisa saja berubah jadi malapetaka. Namun di sisi lain, penggunaan hewan tertentu bisa saja mengundang polemik, baik dari perspektif kesehatan maupun dari perspektif lain, misalnya para pencinta hewan ini," ujar Fahmi.

Bagi Fahmi, pelatihan prajurit TNI makan hewan hidup tak bisa dihindari. Namun, menurutnya bisa dikurangi bahkan dihilangkan atraksi memakan hewan hidup.

"Nah menurut saya, karena pelatihannya boleh dibilang tak terhindarkan, maka yang bisa dikurangi atau dihilangkan adalah atraksi, demonstrasi atau unjuk kebolehannya. Karena sebenarnya jika ditiadakan sekalipun, tak akan mengurangi kecakapan atau tak berarti harus diragukan, sebab sekali lagi, kecakapan tersebut hanya perlu dipraktikkan dalam keadaan terburuk," ucapnya.

Senada dengan Fahmi, pengamat militer dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi menilai pelatihan prajurit TNI memakan hewan hidup bagian dari strategi bertahan hidup. Hal itu, menurut Muradi sesuai dengan kondisi cuaca di Indonesia. Pelatihan memakan hewan hidup menurut Muradi tak bisa diandaikan atau digantikan.

"Itu bagian pelatihan untuk bertahan hidup, dan saya kira, saya nggak tahu di tempat lain, kalau di Indonesia masih hutan hujan lembap, ya nggak bisa kemudian membuat api, bukan api pakai korek ya, api yang pake batu itu loh, pakai ulir, maka kemudian pilihannya adalah dengan tetap survive dengan cara kaya tadi memakan (hewan hidup). Kalau dengan kondisi itu ya harus dilatih, tetap dilatih dan nggak bisa berandai-andai seolah-olah normal saja, dengan diasumsikan bahwa pelatihan berubah dengan pelatihan biasa," sebut Muradi.

Lagi pula, kata Muradi, selama ini hewan yang dimakan hidup-hidup bukanlah hewan yang dilindungi. Muradi pun menjelaskan alasan latihan memakan tokek hidup, sebab tokek mudah dijumpai di hutan dan memiliki daging yang cukup.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya:

Selanjutnya
Halaman
1 2