Amien Rais: Pengosongan Kedubes Denmark Langkah Standar
Senin, 13 Feb 2006 17:39 WIB
Solo - Pakar hubungan internasional UGM yang juga mantan Ketua MPR, Amien Rais, menilai pengosongan Kedubes Denmark dan penarikan para diplomatnya dari Indonesia adalah langkah standar yang harus diambil sebuah negara ketika sedang terjadi konflik. Menurutnya yang diperlukan saat ini adalah normalisasi hubungan."Dalam tafsiran positif langkah Pemerintah Denmark (menarik dubes) itu tidak akan memperuncing situasi. Itu adalah langkah standar yang harus dilakukan Pemerintah sebuah negara terhadap diplomatnya di sebuah negara jika terjadi persoalan atau konflik," ujar ujar Amien kepada wartawan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Senin (13/2/2006).Amien menyatakan persoalan pemuatan karikatur Nabi Muhammad di sebuah media Denmark itu pada cukup rumit karena menyangkut perbedaan tata nilai dan paradigma yang dipakai. Berbeda dengan pandangan kalangan Muslim, bagi dunia Barat tindakan semacam itu bukan kesalahan apa pun."Ketika mendapat reaksi dengan enteng pengelola media itu mengatakan 'nothing wrong' dan ketika didesak meminta maaf mereka mengatakan 'for what?'. Ini memang menjengkelkan umat Muslim di belahan dunia mana pun, dari Merauke sampai Maroko, karena Nabi yang sangat diagungkan dalam lubuk hatinya dilecehkan sedemikian rupa," paparnya.Karena perbedaan paradigma itulah, menurut Amien, yang diperlukan saat ini adalah langkah-langkah normalisasi hubungan dengan berbagai cara dialog terbuka. Kedua belah pihak saling membuka diri dalam posisi yang setara tanpa ada yang merasa lebih di atas atau merasa lebih bisa mendominasi pihak lain.Seminar tentang Barat dan IslamKehadiran Amien Rais di UMS adalah untuk menggelar jumpa pers selaku ketua steering comite seminar internasional bertema 'Islam and The West: Cooperation or Confrontation' yang akan digelar di UMS 21 Februari mendatang. Menurutnya, terciptanya dialog Islam dan Barat adalah sebuah keharusan.Dikatakannya sepuluh tahun terakhir hingga sepuluh tahun ke depan hubungan Islam dan Barat akan menjadi fenomena menonjol. Pertemuan dua peradaban besar itu akan memberi mendominasi arah, suhu dan cuaca hubungan internasional. Tujuan seminar itu, lanjut Amien, adalah untuk mencari titik temu kesamaan antara peradaban Kristiani di dunia Barat dan Islam dalam sebuah perspektif yang jernih. Dengan demikian keduanya harus membuka diri tanpa ada yang merasa lebih superior dibanding yang lainnya."Intinya jika kita ingin menjamin masa depan dunia lebih baik maka jangan sampai ada benturan antaran kedua peradaban besar tersebut. Sebagai negara keempat terbesar dan berwarga negara muslim terbesar di dunia, Indonesia harus berperan aktif dalam memformulasikan hubungan baik itu," kata dia.Amien Rais sendiri akan bertindak selaku keynote speaker dalam seminar itu. Akan tampil sebagai pembicara adalah Dubes Austalia, Dubes Jepang, Dubes Palestina, Kapolri, Cendekiawan Frans Magnis Suseno, pimpinan MMI, pengamat hubungan internasional Reza Sihbudi dan lain-lainnya.
(nrl/)











































