Melihat Sentra Ikan Koi yang Jadi Julukan Kota Blitar

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 18 Feb 2021 12:36 WIB
Ikan Koi Blitar
Foto: Ari Saputra
Blitar -

Berjarak kurang lebih 170 km dari Kota Surabaya, terdapat sebuah Kabupaten yang terkenal dengan budidaya ikan hiasnya. Kabupaten tersebut adalah Kabupaten Blitar, Jawa Timur yang memiliki budidaya ikan Koi dengan berbagai jenis.

Bila datang ke kota yang menjadi tempat pengistirahatan terakhir Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno ini, Anda akan melihat beberapa patung ikan Koi yang terpampang di beberapa titik kota. Salah satunya tepat berada di depan alun-alun.

Koi memang sudah menjadi primadona di Kabupaten dengan luas wilayah kurang lebih 1588 km2 ini, setidaknya total produksi ikan yang berwarna cerah ini di tahun 2020 berada di angka 260 juta ekor. Wajar saja Kabupaten Blitar juga memiliki julukan tambahan sebagai Kota Koi.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar Adi Andaka mengatakan sebenarnya ikan koi di Blitar sudah ada sejak sekitar tahun 1980-an. Konon ceritanya, bibit-bibit ikan koi dibawa oleh istri dari Soekarno yang berasal dari Jepang, Naoko Nemoto atau yang lebih dikenal dengan nama Ratna Sari Dewi.

"Konon ceritanya, bibit ikan koi ini dibawa oleh istri dari Soekarno yaitu Ratna Sari Dewi. Mengingat beliau adalah orang Jepang dibawalah bibit ikan koi tersebut ke Blitar," ungkap Adi kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Adi mengatakan koi bisa menjadi primadona di Blitar karena berbagai faktor yang ada di Kabupaten Blitar. Faktor yang paling penting adalah agroklimat, sebab alam yang disediakan oleh Blitar sangatlah bagus dan cocok untuk membudidayakan ikan koi.

"Barangkali kualitas air dan sebagainya, sehingga warna koinya itu bisa cerah seperti yang ada di Jepang dan itu menjadi berkembang. Dan sekitar tahun 1980 sudah berkembang hingga sekarang," kata Adi.

Setelah itu, koi di Blitar semakin berkembang ketika Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan pada zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Fadel Muhammad berkunjung ke Blitar dan mengadakan kontes koi dengan membawa nama 'Piala Presiden'.

"Waktu itu Pak Fadel minta izin ke Pak SBY untuk membuat kompetisi ini, dan akhirnya di Blitar itu ada Piala Presiden dan salah satunya adalah kontes koi. Jadi Piala Presiden untuk koi adanya cuma di Blitar. Jadi nggak cuma bola, koi juga ada Piala Presidennya," tutur Adi.

Di Kabupaten Blitar ada beberapa tempat yang menjadi sentra ikan koi di Blitar, salah satunya bisa ditemukan di Desa Sumbersari, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar Jawa Timur. Di tempat itu, Anda akan menemukan satu kelompok yang menamai diri mereka Beringin Koi.

Di tempat ini Anda akan melihat lahan sekitar 30 hektar dengan 225 kolam yang berisikan ikan koi kecil (nener) 2.100.000 ekor, ukuran 10- 20cm 700.000 ekor dan ukuran 20-25cm, 70.000 ekor milik anggota peternakan di Desa Sumbersari.

Dari 30 hektar tersebut, seluas 240 RU atau 3.160m persegi adalah milik salah satu kelompok koi yang pernah memenangkan kontes. Kelompok tersebut adalah Beringin Koi yang dipimpin oleh Krisnowo (48).

"Yang kualitas dan semua aspeknya yang paling bagus itu harga untuk ukuran ikan 15-20 cm sekitar Rp 2.000.000-3.000.000 dari petani. Saya juga pernah menjual satu ikan koi seharga Rp 10.000.000 lokalan saja, itu baru di tahun 2020 kemarin. Ikan koinya punya panjang 45 cm," ungkap Ketua Kelompok Beringin Koi Krisnowo.

Ikan Koi BlitarKetua Kelompok Beringin Koi Krisnowo Foto: Ari Saputra

Krisnowo mengatakan koi dapat berkembang di daerahnya karena kualitas airnya. Idealnya untuk merawat ikan koi dibutuhkan kondisi air yang pH tidak terlalu tinggi atau berada di kisaran pH 7 dan 7,5. Ia juga mengatakan untuk perawatan koi yang paling pengaruh kadar oksigen di air, suhu di air. Suhu yang bagus agak hangat sekitar 30 C.

"Jadi yang mempengaruhi warna ikan koi itu adalah kualitas air. Setiap kolam itu pun bisa berbeda-beda. Bisa juga di lain wilayah, di beda kecamatan bisa saja hasilnya berbeda. Jadi memang kualitas air itu membedakan, mulai dari kadar oksigennya, pHnya itu mempengaruhi," jelas Krisnowo.

Untuk menjaga kualitasnya, Krisnowo juga kerap membeli bibit yang diimpor langsung dari Jepang. Sebab, acapkali keturunan yang tidak langsung dari Jepang kualitasnya juga akan ikut menurun, seperti pada body ikan dan juga bintik yang menjadi mahkota dari ikan koi.

"Nah, karenanya kita terus melakukan perbaikan dengan mengimpor pejantan dari Jepang setiap 5 tahun sekali," imbuh Krisnowo.

Krisnowo yang juga memiliki 12 kolam ikan koi tersebut juga menuturkan ia mengikuti program KUR untuk mengembangkan usahanya di tahun 2013. Ia mengatakan sebelum melakukan pinjaman untuk mengembangkan kolam sangatlah sulit karena kebanyakan peternak koi pendapatannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

"Setelah pinjaman ini kita bisa sewa lahan, pendapatan lebih, punya tabungan. Untuk omset sesudah pinjam ini ya meningkat sampai 300%. Karena kita kan jika mau menambah lahankan harus sewa dan otomatis butuh modal dan jika tidak ada pinjaman ya pasti susah. Ketika lahan sudah bertambah ya pendapatan juga otomatis bertambah," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

(akn/ega)