Kerajinan Gerabah, Industri Turun-temurun Khas Blitar

ADVERTISEMENT

Kerajinan Gerabah, Industri Turun-temurun Khas Blitar

Angga Laraspati - detikNews
Rabu, 17 Feb 2021 11:54 WIB
Perajin Gerabah Blitar
Foto: Ari Saputra
Blitar -

Tak hanya terkenal dengan produksi telurnya, Kabupaten Blitar, Jawa Timur juga terkenal dengan salah satu kerajinan tangannya yang sudah turun menurun. Kerajinan tersebut adalah gerabah yang berada di Desa Plumpungrejo, Kecamatan Kademangan, Blitar, Jawa Timur.

Gerabah sudah menjadi kerajinan turun temurun yang jadi warisan khas Blitar. Setidaknya ada sekitar 200 keluarga di Desa Plumpungrejo yang meneruskan tradisi menjadi perajin gerabah.

Ketika detikcom berkunjung ke desa tersebut, beberapa rumah memamerkan hasil pekerjaan tangan yang sudah mereka buat. detikcom pun berkesempatan untuk mendatangi salah satu pengusaha Gerabah yaitu Muhammad Burhanudin (34).

Ia bercerita awal berdirinya kampung gerabah terutama yang berada di Desa Plumpungrejo, merupakan warisan nenek moyang dan juga leluhur bagi sebagian masyarakat desa. Burhan menjadi generasi kedua dalam pembuatan gerabah ini melanjutkan ayahnya yang juga perajin gerabah di Desa Plumpungrejo.

Pada awalnya, gerabah yang dibuat hanya berupa alat-alat rumah tangga saja. Mengingat pada zaman dahulu, gerabah baru dikenal di masa bercocok tanam sehingga para petani yang sedang menunggu siklus cocok tanam mengembangkan keahlian gerabah.

"Barang gerabahnya berupa alat-alat rumah tangga seperti cobek, kuali, yang sederhana. Kemudian tahun 1995 dikembangkan oleh orang tua saya dikembangkan menjadi barang-barang lain seperti vas bunga, pot bunga," ungkap Burhan kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

"Tahun 2000 ke atas kita mulai merintis membuat kelompok dari beberapa masyarakat supaya lebih berkembang jadi tidak hanya membuat barang yang sederhana," tambahnya.

Perajin Gerabah BlitarPengusaha Gerabah Blitar, Muhammad Burhanudin Foto: Ari Saputra

Adapun perbedaan gerabah yang dibuat pada zaman dahulu dan juga sekarang adalah bahan bakunya. Pada zaman dahulu bahan baku pembuatan gerabah hanya berupa tanah liat, namun sekarang gerabah dibuat dengan campuran tanah kaolin.

"Perbandingannya sekitar 3:2:1, tanah liat 3, tanah kaolin 2, 1 pasir dan airnya sekitar 40% dari campurannya. Kemudian prosesnya digiling 3-4 kali sampai halus lalu bisa langsung dibuat bermacam-macam bentuk gerabah," imbuh Burhan.

Untuk motif, Burhan mengatakan motif turun temurun yang biasanya dibuat oleh para perajin adalah naga dan bunga. Selain itu, dalam membuat gerabah pantangannya adalah tidak membuat patung-patungan seperti manusia seperti arca karena mayoritas masyarakatnya beragama muslim.

"Motif secara umum biasanya karakter hewan seperti naga, rajawali, ikan, arwana atau koi, tumbuhan bunga atau anggur. Kemudian berupa goresan atau ukiran sederhana maupun batik," imbuh Burhan.

Untuk proses pembuatan, gerabah yang dibuat pada masa kali ini juga jauh lebih modern. Kalau dahulu gerabah dibuat dengan manual yaitu dengan diputar, kali ini gerabah dapat dibuat dengan menggunakan 3 cara.

"Pembuatannya ada 3 cara pertama menggunakan cara manual dengan diputar, kedua cetakan, ketiga pakai cetakan tapi pakai mesin dengan dipress," imbuh Burhan.

Perajin Gerabah BlitarPerajin Gerabah Blitar Foto: Ari Saputra

Burhan yang melanjutkan usaha ayahnya di tahun 2014, kemudian memiliki ide untuk menjadikan Desa Plumpungrejo sebagai wisata edukasi gerabah. Dengan Desa tempatnya menjadi desa wisata, Desa Plumpungrejo pun mulai dipasangi gapura yang menjadi penanda kerajinan gerabah oleh Pemerintah Kabupaten Blitar.

Untuk 1 kali produksi, Burhan pun mampu untuk membuatnya sekitar 5-10 menit untuk yang ukurannya kecil. Sedangkan untuk ukuran agak besar bisa menghabiskan waktu sekitar setengah jam hingga 1 jam, dan ukuran 1-2 meter bisa sampai hitungan hari.

"Untuk mengambil bahan baku masih melimpah tersedia banyak di daerah Kademangan. Kami mengambil dari pekarangan sekitar atau perkebunan yang mau dijadikan sawah," ujar Burhan.

Dalam mengembangkan usaha yang turun temurun tersebut, Burhan tentunya membutuhkan dana segar untuk memajukan usahanya. Gayung bersambut, permintaan dari gerabah yang ia buat sangat banyak serta prospek dari gerabahnya sangatnya luas. Ia juga mengaku berusaha untuk mencari rekan dalam memberikan bantuan dana.

"Di kecamatan Pademangan yang paling banyak itu adalah BRI, makanya kita coba untuk ke BRI, dan kita juga arahkan beberapa kelompok untuk ke BRI. Kemudian kebetulan di BRI ada program KUR yang sangat membantu sekali bagi kami dan masyarakat kami karena relative ringan," tutur Burhan.

Berkat bantuan dana dari BRI tersebut, kini bisnis yang dimiliki Burhan sudah mulai berkembang mulai dari total produksi yang meningkat dan juga omzet juga kecipratan naik.

"Sebelum bekerjasama dengan BRI produksi kita masih stagnan atau masih kurang banyak dan setelah ada bantuan dari BRI kita bisa produksi lebih banyak. Kira-kira sekitar hampir 20-40% peningkatan produksi dan itu sangat membantu kita," tandas Burhan.

"Omzet di rumah produksi kita sebelum kerjasama sekitar 20-25 juta sebulan. Setelah kerjasama bisa mencapai 50-70 juta perbulan," pungkasnya.

Ikuti terus jelajah UMKM bersama BRI hanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri

(akn/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT