Organisasi Pecinta Hewan Minta Prabowo Akhiri Latihan TNI Makan Tokek Hidup

Audrey Santoso - detikNews
Kamis, 18 Feb 2021 12:14 WIB
Ilustrasi personel TNI (dok Puspen TNI)
Foto: Ilustrasi personel TNI (dok Puspen TNI)
Jakarta -

People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) menyurati Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto terkait kegiatan latihan TNI di Thailand. PETA menyebut ada kekejaman terkait latihan bernama Cobra Gold 2021 itu.

Dalam pelatihan Cobra Gold yang diikuti TNI, PETA menyebut ada praktik mengonsumsi hewan-hewan liar dengan cara tak lazim seperti meminum darah ular kobra, memakan tokek hidup-hidup hingga memakan kalajengking dan tarantula untuk bertahan hidup.

PETA mendesak Prabowo Subianto untuk menyampaikan ke penyelenggara latihan Cobra Gold 2021 agar tak melakukan praktik tersebut terhadap hewan.

Dalam rilis PETA, Kamis (18/2/2021), disebutkan peserta terekam membunuh ayam dengan tangan kosong, menguliti dan memakan tokek hidup, mengkonsumsi kalajengking dan tarantula hidup, memenggal kobra dan meminum darah mereka. PETA juga menyebut praktik semacam itu berpotensi menimbulkan penyakit zoonosis dan mengantarkan kobra ke ambang kepunahan.

"Selain menimbulkan risiko penyakit berbahaya, latihan Cobra Gold yang melibatkan hewan juga kejam dan tidak praktis. PETA mendesak Menteri Prabowo untuk mengakhiri pembunuhan hewan yang sadis selama Cobra Gold, yang menodai kehormatan Indonesia, membahayakan kesehatan masyarakat, dan membahayakan spesies yang rentan terhadap kepunahan" kata Wakil Presiden Senior PETA, Jason Baker.

Berdasarkan informasi yang diperoleh pihak PETA, pelatihan Cobra Gold berikutnya dilaporkan ditunda hingga Agustus mendatang karena masa pandemi COVID-19.

Berikut sebagian isi surat yang dikirim PETA kepada Prabowo:

Saya menulis ini atas nama PETA dan lebih dari 4,5 juta anggota dan pendukung kami terkait dengan kerja sama militer Cobra Gold 2021 di mana ribuan personel militer dari beberapa negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dijadwalkan untuk bergabung di beberapa lokasi di seluruh negara Thailand.

Pembunuhan keji binatang-binatang setiap tahun yang menyebabkan aib para tentara, risiko kesehatan publik dan membahayakan spesies yang mudah diserang menjadi punah. Berdasarkan informasi, kami mendesak untuk mendorong penanggung jawab Cobra Gold untuk menyudahi pelatihan yang mengharuskan prajurit untuk makan binatang yang masih hidup dan sebagai gantinya dengan metode lain yang lebih efektif dan layak, serta tidak melibatkan binatang. The Daily Mail sudah melaporkan bahwa selama Cobra Gold, prajurit membunuh ayam-ayam dengan tangan kosong, mengulitinya dan makan mentah-mentah tokek, mengonsumsi kalajengking hidup dan tarantula dan membunuh ular kobra kemudian meminum darahnya. Aksi-aksi kejam ini-seperti terlihat dalam potongan video-mengakibatkan prajurit berisiko terkena penyakit menular binatang yang dapat membahayakan mereka (prajurit) dan masyarakat publik.

WHO menyatakan bahwa "70% dari patogen yang muncul-termasuk yang menyebabkan COVID-19, Ebola, Zika, SARS, MERS, cacar, TBC, serta penyakit menular lainnya-disebabkan dari binatang-binatang. SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19, kemungkinan besar berasal dari kelelawar dan menular ke manusia melalui kontak dengan inang binatang perantara. HIV, sebagai contoh lainnya, telah dikaitkan dengan keterlibatan manusia dalam pembunuhan primata untuk diambil dagingnya.

Sebagai tambahan, dalam risiko penyakit berbahaya, pelatihan Cobra Gold sadis dan tidak praktis yang melibatkan binatang-binatang. Sementara Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (DOD) mengklarifikasi bahwa pembunuhan sadis dan konsumsi binatang-binatang hidup untuk dimakan selama pelatihan militer, tidak ada bedanya dengan praktik ritual sadis barbar dan tidak memberikan kemampuan bertahan hidup sama sekali.

Angkatan Laut Amerika Serikat telah mengakui bahwa tujuan utama pelatihan ini adalah latihan persahabatan dan latihan untuk membangun hubungan prajurit Amerika dengan prajurit lainnya-tujuannya yang mudah tercapai tanpa harus menyakiti, menyiksa dan membunuh binatang-binatang. Kemudian dengan adanya pelatihan Cobra Gold menyebabkan risiko pada spesies yang telah teridentifikasi oleh IUCN, otoritas konservasi global, status dari spesies dan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keanekaragaman hayati.

Beberapa sumber berita militer mengidentifikasi tentang pembunuhan sadis ular kobra selama pelatihan tersebut adalah King Kobra-satu dari dua spesies kobra asli Thailand yang diidentifikasi sebagai binatang yang dilindungi oleh IUCN. Secara khusus, King Kobra masuk dalam daftar 'terancam punah' yang berarti mereka beresiko tinggi punah di habitatnya di masa depan. Terdapat pula paling tidak satu referensi dari Angkatan Laut Amerika bahwa dalam video pelatihan Cobra Gold tersebut mengonsumsi daging Komodo, spesies lain yang berada dalam daftar binatang terancam punah.

Banyak metode pelatihan bertahan hidup yang tidak melibatkan binatang. Contohnya, di dalam buku Primitive Wilderness Skills, Applied & Advanced, penulis buku tersebut telah mendapat pelatihan dari instruktur U.S. Army Survival, Evasion, Resistance and Escape (SERE). Instruktur Angkatan Udara Amerika yang muncul dalam program TV CBS Show Survivor, mengajarkan bagaimana bertahan hidup di hutan belantara melalui seri video yang berjudul Prepared to Survive (Bersiap untuk Bertahan Hidup). Anggota SERE telah mensimulasikan sebagai skenario persiapan terburuk pilot Angkatan Udara Amerika dan video game interaktif yang terdapat komponen pengadaan makanan sekarang sudah dipasarkan. Selanjutnya, seperti pernyataan dari The Daily Mail, terdapat juga opsi vegan yaitu dengan konsumsi banyak buah, tumbuh-tumbuhan yang dapat dikonsumsi.

Isi surat selengkapnya bisa disimak di sini.

Simak juga 'Prabowo Tegaskan Rival Politik Bukan Musuh Politik':

[Gambas:Video 20detik]



(aud/aud)