Soal Ganjil Genap Kota Bogor, Bima Arya: Pengurangan Mobilitas Berhasil

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Minggu, 14 Feb 2021 17:19 WIB
Aturan ganjil genap di Kota Bogor kembali diberlakukan hingga Minggu (14/2/2021). Sedikitnya 20 orang disanksi denda karena langgar aturan ganjil genap di titik check point Tugu Kujang Bogor.
Ilustrasi Ganjil Genap Kota Bogor. (M Solihin/detikcom)
Bogor -

Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan kebijakan ganjil-genap di Kota Bogor berhasil menurunkan pergerakan warga. Bima juga menyebut tidak ada penumpukan kendaraan selama dua pekan ke belakang.

"Tadi berdasarkan laporan di lapangan, lebih landai lagi dibandingkan kemarin. Ini istimewa mengingat long weekend hari Minggu, begitu. Jadi kita sudah pelajari data-datanya yang masuk Bogor dari exit Tol Baranangsiang dan Sentul Selatan, pengurangannya (volume kendaraan) cukup signifikan dan di dalam Kota Bogor juga selama 2 minggu ini nggak ada kemacetan. Nggak ada kemacetan, nggak ada penumpukan," kata Bima Arya kepada wartawan, Minggu (14/2/2021).

"Itu artinya dari segi mobilitas, kebijakan ganjil-genap ini berhasil, pengurangan mobilitas ini berhasil," lanjutnya.

Bima menjelaskan kasus COVID-19 di Kota Bogor per Sabtu (6/2) atau di pekan pertama penerapan ganjil-genap ada 187. Lalu pada Sabtu (13/2) kemarin, kasus COVID-19 di Kota Bogor menurun menjadi 128.

"Kalau dihitung-hitung sekitar 31 persen menurunnya, ya. Ini berita yang baik, kabar yang baik tapi kira-kira masih harus kita analisis lagi," ujarnya.

Meski demikian, Bima mengatakan penerapan ganjil-genap harus melihat 3 dimensi, yakni dari segi kesehatan, mobilitas warga, dan ekonomi.

"Dari aspek kesehatan, indikasi kuat (berhasil). Saya tidak mau mengatakan ini berhasil karena masih melihat beberapa hari ke depan. Tapi ada satu variabel lagi yang harus kita hitung untuk memutuskan apakah (ganjil-genap) ini berlanjut atau tidak, yaitu dimensi ekonomi. Saya mau lihat data hotel, restoran, toko-toko, UMKM, pasar, dan lain sebagainya, karena prinsip kita kan mencari titik temu antara dimensi kesehatan dan dimensi ekonomi. Ya apakah kebijakan yang diambil setiap akhir pekan secara permanen merugikan secara ekonomi atau tidak, kita akan hitung lagi beberapa hari ke depan," beber dia.

Bima tidak ingin berspekulasi lebih lanjut. Dia mengatakan kajian masih dilakukan.

"Tapi kita masih melihat karena terlalu dini menyimpulkan berdampak signifikan atau tidak berdampak signifikan. Saya mau lihat lagi, sekali lagi. Karena jangan-jangan tanpa ganjil genap pun kondisinya tidak berbeda, kira-kira begitu. Jadi perlu hati-hati melihat data. Prinsip kita adalah analisis secara holistik, harus komprehensif," tandas dia.

Simak video 'Langgar Aturan Ganjil-Genap Bogor, 132 Kendaraan Diputarbalikkan':

[Gambas:Video 20detik]



(sab/idn)