Penjelasan Wagub DKI soal 82 RW Masuk Zona Merah COVID-19

Muhammad Ilman Nafian - detikNews
Sabtu, 13 Feb 2021 06:46 WIB
Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria melakukan sidak di perkantoran dan pusat perbelanjaan Ibu Kota. Sidak dilakukan untuk pastikan aturan PPKM diterapkan.
Foto: Wagub DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

82 RW di DKI Jakarta masuk dalam kategori zona merah. Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Ahmad Riza Patria memberikan penjelasan soal banyaknya RW yang menjadi zona merah itu.

"Ya jadi begini, kami sampaikan Jakarta itu pusat interaksi tertinggi, dari seluruh provinsi di Ibu kota, orang yang datang dari luar negeri ke Indonesia ya melalui Jakarta. Kedua, orang yang dari Aceh sampai Papua juga banyak transit di Jakarta. Jakarta pusat pemerintahan, pusat bisnis, segala pusat di Jakarta, sehingga interaksinya juga tinggi, termasuk luar daerah, karena semakin banyak interaksi dari luar negeri, luar daerah maka potensi menimbulkan kerumunan, potensi penyebaran juga semakin tinggi," ujar Riza kepada detikcom, Jumat (12/2/2021).

Riza juga menerangkan meningkatnya zona merah di Jakarta karena tingginya angka testing yang dilakukan. Menurutnya, jumlah testing di Jakarta saat ini sudah 12 kali lipat dari standar WHO.

"Di Jakarta salah satu program kami meningkatkan program 3T, di antaranya testing yang kami tingkatkan, jumlah testing kami sampai 12 kali standar testing yang diminta oleh WHO, nah kalau banyak testing maka potensi penyebaran akan kelihatan. Ini program unggulan kami melaksanakan 3T, dengan 3T kita akan tahu titik penyebaran sehingga kita dengan cepat akan menentukan langkah-langkah pencegahan, penanganan dan pengendaliannya," katanya.

Selain itu, Riza juga bicara soal mulai bosannya warga Jakarta berada di rumah. Kemudian, sisa dampak liburan akhir tahun juga menjadi penyebab meningkatnya zona merah di Ibu Kota.

"Ketiga memang masyarakat Jakarta ini sudah sejak awal melaksanakan protokol kesehatan sejak bulan Maret belajar di rumah, bekerja di rumah, perdagangan juga dilakukan secara online, maka masyarakat cukup jenuh, letih dan capek, jadi memang belakangan ada peningkatan orang keluar rumah, yang keempat memang masih akibat dampak libur akhir tahun ada dampak kecilnya," katanya.

Lebih lanjut Riza mengatakan selama ini Pemprov DKI Jakarta sudah membuat program kampung siaga dengan membatasi orang keluar masih di wilayahnya. Di kampung siaga itu juga tersedia wastafel dengan dilengkapi sabun untuk mencuci tangan hingga membuat WhatsApp group yang berisi informasi seputar penanggulangan COVID-19.

"Bahkan kami membentuk WA group setiap RT, jadi setiap warga bergabung dalam WA group, bahkan di setiap RT masing-masing anggotanya para perwakilan atau kepala keluarga, tujuannya berkoordinasi, saling melengkapi data, saling mengingatkan jadi sudah sedemikian Pemprov DKI membuat program," katanya.

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta melaporkan ada 82 rukun warga (RW) masuk zona risiko tinggi penularan COVID-19 (zona merah). RW terbanyak masuk zona merah COVID-19 ada di Jakarta Selatan (Jaksel).

Berdasarkan data di situs corona.jakarta.go.id, Jumat (12/2), RW berstatus zona merah ini tersebar di lima wilayah kotamadya Jakarta dan Kepulauan Seribu. Data 82 RW masuk zona merah itu berdasarkan data per 4 Februari 2021.

Dengan rincian Jakarta Utara sebanyak 4 RW, Jakarta Timur 6 RW, Jakarta Selatan 41 RW, Jakarta Pusat 16 RW, Jakarta Barat 13 RW, dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu 2 RW.

Wilayah zona merah tersebut berada di 40 kelurahan. Kelurahan dengan RW masuk zona merah terbanyak ialah Kelurahan Joglo (6 RW), Kelurahan Karet Kuningan (6 RW), Kelurahan Srengseng (5 RW), dan Kelurahan Tegal Parang (5 RW).

Tonton video 'Daftar 82 RW Zona Merah Corona di Jakarta':

[Gambas:Video 20detik]



Simak penjelasan lengkapnya di halaman berikutnya.