RGE Indonesia Klaim Tak Terkait Pembelian Gedung Ludwig di Jerman

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 11 Feb 2021 22:46 WIB
Memburu Harta Gelap Keluarga
Memburu Harta Gelap Keluarga
Jakarta -

Ramai diberitakan grup dari keluarga Tanoto membeli sebuah Gedung Ludwigstrasse 21 di Muenchen, Jerman. Pembelian gedung tersebut dipastikan tidak berkaitan dengan kelompok usaha yang dikelola oleh Royal Golden Eagle (RGE) Indonesia.

"Terkait pemberitaan di sejumlah media tentang Pembelian Gedung Ludwigstrasse 21 di Muenchen, Jerman, kami dapat sampaikan bahwa kelompok usaha yang dikelola Royal Golden Eagle (RGE) Indonesia tidak ada kaitannya dengan pembelian gedung tersebut," kata Head Corporate Communications RGE Indonesia, Ignatius Purnomo, dalam keterangan tertulis, Kamis (11/2/2021).

Ignatius menjelaskan pembelian gedung tersebut merupakan kegiatan investasi keluarga Bapak Sukanto Tanoto. Kegiatan itu disebutnya telah dilakukan secara profesional dan telah memenuhi persyaratan serta prosedur yang berlaku di negara tersebut, serta sesuai dengan best practices internasional.

"Perlu kami tegaskan bahwa kelompok usaha yang dikelola oleh RGE tidak hanya menjalankan kegiatan operasional di Indonesia , namun juga di beberapa negara, antara lain China, Brasil, dan Kanada," ujarnya.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, kata Ignatius, RGE senantiasa memenuhi ketentuan dan peraturan yang berlaku di negara-negara tersebut serta menjunjung tinggi prinsip-prinsip bisnis berkelanjutan.

"Kehadiran RGE Indonesia juga telah memberikan manfaat yang luas bagi Indonesia, baik berupa penyediaan lapangan pekerjaan di berbagai perusahaan yang tergabung dalam RGE Group, serta berbagai program sosial yang dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan yang ada dalam naungan RGE," ujarnya.

Ignatius menjelaskan keluarga Tanoto juga menjalankan organisasi filantropi melalui Tanoto Foundation. Sepanjang 2020, Tanoto Foundation telah menjalankan berbagai program yang meliputi partisipasi dalam penanganan dan pencegahan COVID-19, pencegahan stunting, hingga pendidikan dan pemberian beasiswa.

"Total kontribusi yang diberikan Tanoto Foundation sepanjang 2020 mencapai Rp 157 miliar (un audited per 31 Desember), naik dibanding kontribusi pada 2019 yang sebesar Rp 155 miliar. Dalam rangka pencegahan dan penanganan Covid-19, Tanoto Foundation memberikan donasi sebanyak 1,3 juta masker, 1 juta sarung tangan, 100.000 pakaian pelindung, 3.021 kacamata, serta 10.200 alat tes PCR," ujarnya.

"Sementara dalam rangka ikut pencegahan stunting dan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia, Tanoto Foundation memperkuat kemitraan dengan berbagai PAUD mitra, memberi pelatihan kepada 107 guru PAUD, serta memberikan bantuan kepada 824 anak-anak penerima manfaat," lanjut Ignatius.

Lebih lanjut, melalui program PINTAR (Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran), jelas Ignatius, Tanoto Foundation menggandeng 588 sekolah mitra, 2.228 sekolah diseminasi, serta melibatkan 5.372 pendidik/guru. Setidaknya, 24 ribu mahasiswa calon guru dan 626 ribu siswa menerima manfaat dari program yang dilaksanakan di 20 kabupaten/kota di 5 provinsi ini.

"Tanoto Foundation juga berkolaborasi dengan lembaga internasional. Misalnya, melalui hibah US$ 2 juta kepada World Bank dalam Multi Donor Trust Fund (MDTF) for Indonesia Human Capital Acceleration (IHCA) yang sebagian digunakan untuk mendukung pelatihan 72.636 Kader Pembangunan Manusia yang direkrut oleh pemerintah," ucapnya.

"Hibah US$ 200.000 juga diberikan kepada UNICEF Indonesia untuk menerjemahkan dan mengadaptasi instrument pengukuran Early Childhood Development Instrument (ECDI) dan Caregiver-Reported Early Development Index (CREDI) untuk Indonesia. Dalam hal pendidikan, Tanoto Foundation telah memberikan beasiswa kepada para mahasiswa di Indonesia. Selama kurun 2005-2020, Tanoto Foundation telah meluluskan 156 mahasiswa di berbagai perguruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia," imbuh Ignatius.

Sebelumnya, Kolaborasi jurnalis internasional dalam proyek OpenLux menyisir data-data yang ada di perbankan Luxembourg yang dicurigai menjadi bagian dari operasi pengemplangan pajak para miliarder dunia. Hal serupa pernah dilakukan kolaborasi jurnalis yang mengungkap skandal Panama Papers. Dari dokumen-dokumen Open Lux, terungkaplah kepemilikan gelap gedung-gedung Sukanto Tanoto dan anaknya Andre di Jerman.

Andre Tanoto disebut membeli satu dari tiga gedung mewah rancangan arsitek kondang Frank O. Gehry di kota pusat perekonomian Dsseldorf, ibukota negara bagian Nordrhein Westafalen. Tapi gedung seharga 50 juta euro itu belum seberapa dibanding bekas istana Raja Ludwig di Mnchen, yang dibeli Tanoto Sukanto tidak lama sesudahnya.

Gedung empat lantai itu, yang sekarang menjadi kantor pusat perusahaan asuransi Allianz di kawasan prestisius Ludwigstrasse, menurut dokumen OpenLux, dibeli seharga 350 juta euro atau sekitar 6 triliun rupiah.

(eva/dhn)