Menko PMK Kaget Tenaga Tracing COVID-19 Tak Sampai 5 Ribu

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Kamis, 11 Feb 2021 22:22 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy seusai bertemu Presiden Jokowi di Istana.
Muhadjir Effendy (Rusman/Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, kaget ketika mengetahui jumlah tenaga tracing COVID-19 di Indonesia tak sampai 5 ribu. Bahkan sebagian besar ada di wilayah DKI Jakarta.

"Saya kaget waktu dapat laporan jumlah tracer kita tidak sampai 5 ribu seluruh Indonesia dan hampir 1.600 lebih ada di DKI. Jadi sebetulnya memang selama ini kalau dilihat dari jumlah tracer-nya, kita belum melakukan upaya 3T yang serius," ujar Muhadjir dalam keterangannya, Kamis (11/2/2021).

Ia berharap, dengan pendekatan pemerintah yang mendepankan aspek mikroskopik, COVID-19 di Indonesia bisa tertangani. Muhadjir Effendy menilai penularan COVID-19 paling banyak terjadi di level komunitas, termasuk lingkungan keluarga.

"Saya yakin betul kalau 3T bisa kita lakukan sungguh-sungguh dan optimal, kita akan bisa mengatasi COVID-19 ini. Di samping juga tenaga tracer terus kita tingkatkan dan kita kerahkan semaksimal mungkin," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Muhadjir juga bicara mengenai donor plasma konvalesen. Di Indonesia, kata Muhadjir, donor plasma konvalesen meningkat 4 kali lipat.

"Donasi plasma konvalesen secara nasional terus meningkat. Saya harap ini bisa menjadi faktor pengubah dan kita bisa menggerakkan semangat donor plasma konvalesen ini agar dapat menjadi faktor pembeda dari proses upaya kita untuk menangani COVID-19, di samping tentu saja vaksin dan 3T," terang Muhadjir Effendy.

Muhadjir mendorong para penyintas COVID-19 berkenan menjadi donor plasma konvalesen. Diketahui, rata-rata rumah sakit membutuhkan donor plasma konvalesen.

Sementara itu, laporan dari Ketua Bidang Unit Donor Darah PMI Pusat Linda Lukitari menyatakan jumlah pemenuhan kebutuhan plasma konvalesen sebanyak 15.738 kantong per 9 Februari.

Berdasarkan uji klinik terhadap 50 pasien RS dr Saeful Anwar, Malang, Jawa Timur, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Putu Moda mengatakan pasien gejala ringan yang diberikan terapi plasma konvalesen sembuh 100 persen.

"Yang tidak diberikan jatuh pada level severe dan critical. Namun demikian pemberian terapi plasma konvalesen terhadap pasien dengan severe dan critical ill masih memberikan efek yang bagus karena terapi plasma konvalesen selain membunuh virus juga sebagai immunomodulatory," imbuhnya.

(isa/dhn)