Bamsoet: Kemampuan Advokat Tak Akan Tergantikan dengan Teknologi

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Kamis, 11 Feb 2021 19:36 WIB
MPR
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengajak para advokat untuk senantiasa menjaga kehormatan profesinya. Hal ini mengingat masih banyak masyarakat yang menggantungkan harapannya terhadap proses peradilan yang jujur, adil, dan memberikan kepastian hukum.

"Merujuk survey Indonesia Political Opinion pada Oktober 2020, angka ketidakpuasan publik terhadap penegakan hukum di Indonesia mencapai 64 persen. Menunjukkan bahwa persoalan penegakan hukum masih menyisakan berbagai persoalan. Di tengah kebutuhan perlindungan hukum bagi masyarakat yang hampir tiada henti, keberadaan advokat ibarat sebuah oase di tengah padang pasir," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (11/2/21).

Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri Pelantikan Pengurus DPN PERADI periode 2020-2025 secara virtual dari Studio Digital Black Stone Bamsoet Channel, Jakarta. Ketua DPR RI ke-20 ini lantas mengapresiasi langkah PERADI yang mengedepankan regenerasi organisasi, dengan mempercayakan 70 persen kepengurusan kepada generasi muda, sebagai persiapan untuk menyongsong era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.

"Kemajuan teknologi telah mendorong lahirnya berbagai inovasi pada berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam bidang penegakan hukum. Ke depan, dengan laju modernisasi di sektor penegakan hukum, bisa jadi pelayanan jasa hukum dapat dilakukan oleh mesin-mesin cerdas (artificial intelligence), yang bisa menghasilkan layanan jasa hukum secara lebih taktis, cepat, akurat, dengan biaya lebih terjangkau," tandas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini yakin, secanggih apapun teknologi artificial intelligence, tak akan mampu melangkahi para advokat. Sebab, para advokat dinilainya punya keunggulan yang tidak mungkin dilampaui kemampuan mesin, yakni akal dan nurani, yang membuat mereka lebih bijaksana.

"Kemampuan advokat dalam memformulasikan keseimbangan antara intelegensi (olah pikir), emosional (olah rasa), dan moral-spiritual (olah jiwa), tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi. Karena pertimbangan dan putusan hukum tidak semata-mata membutuhkan kemampuan kognitif, tetapi mesti dilandasi kode etik dan moralitas," pungkasnya.

(akn/ega)