Polisi: Penjaga Rumah Ibu Dino Patti Djalal Terlibat Sindikat Mafia Tanah

Mei Amelia R - detikNews
Rabu, 10 Feb 2021 14:55 WIB
Ilustrasi Garis Polisi
Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta -

Polisi mengungkap sindikat mafia tanah yang 'menjarah' rumah ibunda mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal. Penjaga rumah ibunda Dino Patti Djalal bernama Mustofa terlibat dalam sindikat mafia tanah.

"Kita temukan bahwa si penjaga rumah ibu Pak Dino Patti Djalal ini yang ikut dalam perbuatan kejahatan sindikat mafia tanah. Itu faktanya. Mustofa," ujar Kasubdit Harta Benda AKBP Dwiasi Wiyatputera kepada detikcom, Rabu (10/2/2021).

Mustofa terlibat sindikat mafia tanah yang diketuai Arnold Siahaya. Kasus ini terjadi pada 2019 atau kasus kedua yang dilaporkan oleh pihak keluarga Dino Patti Djalal.

Dalam kasus ini, Mustofa melaporkan rekannya, Arnold, ke polisi untuk menutupi kejahatannya. Belakangan diketahui, Mustofa ternyata menerima uang dari Arnold cs.

"(Mustofa melaporkan Arnold) untuk menghilangkan (jejak), untuk mendapatkan alibi biar (Mustofa) tidak terlibat, ternyata faktanya kan dari keterangan saksi-saksi ada transferan uang ke dia," kata Dwiasi.

"Satu kali dia menjual (sertifikat tanah), dia mendapatkan komisi Rp 300 juta," ucap Dwiasi.

Di kasus mafia tanah yang kedua pada November 2020 dan yang ketiga pada Januari 2021, Mustofa juga diduga terlibat.

"Mustofa ini ikut menjual, ikut menikmati hasil dari uang tanda jadi, sehingga sertifikat itu dialihkan kepada nama orang lain," tegasnya.

Polda Metro Jaya menyebut menerima tiga laporan polisi terkait pengalihan sertifikat milik ibu Dino Patti Djalal. Kasus terakhir dilaporkan oleh pihak keluarga Dino Patti Djalal.

Dwiasi menjelaskan kasus ketiga ini bermula ketika sepupu Dino Patti Djalal yang dipercaya mendiami rumah milik ibunda Dino, Yurmisnawita, didatangi oleh seorang pengacara seseorang bernama Fredy Kusnadi. Ia datang untuk proses balik nama sertifikat hak milik rumah tersebut menjadi milik Fredy Kusnadi.

"Padahal Yurmisnawita tidak pernah menjual rumah tersebut. Pelapor kemudian meminta tolong sepupunya, yakni Dino Patti Djalal, untuk mengecek sertifikat ke kantor BPN Jakarta Selatan," kata Dwiasi.

Sebelumnya, Yurmisnawita memang dipercaya oleh ibunda Dino Patti Djalal, Zurni Hasyim Djalal, untuk mengurus proses jual-beli rumah. Hal itu dikarenakan Zurni kerap berada di luar negeri.

"Pada 2019, rumah tersebut sempat akan dijual kepada orang yang mengaku bernama Lina. Saat itu, Lina menghubungi Yurmisnawita dengan membawa calon pembeli bernama Fredy Kusnadi. Dalam proses tersebut, Lina memaksa pelapor untuk menerima penawaran pembelian rumah, namun pelapor menolaknya karena pelapor tidak mau menjual rumah tanpa ada persetujuan pemilik asli rumah tersebut, yakni Zurni Hasyim Djalal. Sehingga dalam pertemuan tersebut tidak terdapat hasil apa pun," paparnya.

Belakangan diketahui, tidak hanya rumah itu saja yang dialihkan kepemilikannya oleh para pelaku. Pihak Dino Patti Djalal juga melaporkan satu perkara lainnya yang sama, sehingga total ada tiga laporan polisi di Polda Metro Jaya.

"Yang ketiga ini informasi dan saran dari penyelidikan kita. Yang sekarang lagi dalam penyelidikan untuk mencari tahu apa yang dipalsukan," ucap Dwiasi.

Dino Patti Djalal di Twitter resminya menyebut rumah ibundanya 'dijarah' mafia sertifikat tanah, dalam artian sekelompok mafia tanah ini melakukan penipuan yang membuat sertifikat rumah ibunya tiba-tiba berpindah tangan. Dino Patti Djalal telah melaporkan kasus ini kepada kepolisian.

"Itu sudah satu rumah (pertama) jadi korban, kemudian ada satu rumah lagi di daerah Pondok Indah dan juga tahu-tahu sertifikatnya sudah balik nama aja dan balik namanya sudah dua atau tiga kali, ibu saya sama sekali tidak tahu apa-apa," ujar Dino saat dihubungi, Selasa (9/2)

Badan Pertanahan Nasional (BPN) angkat bicara terkait kasus ini. BPN mengatakan menduga telah terjadi penipuan.

"Kami sangat prihatin terhadap peristiwa yang menyangkut sertifikat milik ibunda Pak Dino Patti Djalal itu. Diduga telah terjadi penipuan dalam kasus tersebut," kata juru bicara Kementerian ATR/BPN, Teuku Taufiqulhadi.

(isa/mei)