45 Pelaku Skimming Ditangkap di Bali Sejak 2018, Terbanyak WN Bulgaria

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 09 Feb 2021 16:16 WIB
Polres Jakarta Barat berhasil mengungkap modus baru pembobolan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di daerah Kebon Jeruk, Jakbar. Dari hasil pengungkapan sebanyak 3 orang pelaku berhasil ditangkap. Tiga pelaku yaitu Aris, Yuskandar, dan Ismail dihadirkan dalam jumpa pers di Mapolres Jakarta Barat, Selasa (17/3/2015).
Ilustrasi pembobolan ATM (Foto: dok detikcom)
Denpasar -

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Bali menangkap sebanyak 45 pelaku kejahatan skimming di Pulau Dewata. Sebanyak 45 pelaku ini terdiri dari 22 kasus yang berhasil diungkap sejak 2018.

"Jadi dari 2018 sampai 2021 ini kami sudah berhasil mengungkap 22 kasus dengan menangkap 45 pelaku skimming," kata Wadirreskrimsus Polda Bali AKBP Ambariyadi Wijaya di Mapolda Bali, Selasa (9/2/2021).

Dia merinci 22 kasus itu diungkap pada 2018 sebanyak dua kasus, 2019 diungkap lima kasus, 2020 ada 13 kasus, dan 2021 ada 2 kasus. Kemudian 45 orang pelaku tersebut terdiri dari warga negara (WN) Bulgaria 19 orang, WN Rumania 12 orang, WN Polandia 2 orang, WN Filipina 2 orang, WN Ukraina 1 orang, WN Turki 1 orang, dan 8 orang WNI.

Atas banyaknya pengungkapan kasus skimming ini, Wijaya meminta masyarakat mematuhi petunjuk yang sudah diberikan oleh pihak perbankan. Salah satunya tidak memberikan pin ATM terhadap siapa pun, termasuk kepada pegawai bank.

"Dari beberapa kasus, banyak yang tergiur oleh hadiah, apalagi dengan situasi yang saat ini serba susah. Yang kedua pada saat transaksi mengambil uang atau yang lain di ATM, tolong rahasiakan pin tersebut tutup dengan tangan. Minimal sebagian yang diketik tidak terlihat sehingga pelaku tidak bakal tahu nomor PIN. Kalau PIN ketahuan pasti akan jebol, kuncinya PIN," kata Wijaya.

Kasus terbaru, ada tujuh pelaku yang ditangkap. Mereka terbagi dua kelompok yang sama-sama menjadi agen atau proksi dari WNA.

Kelompok pertama ialah empat WNI yang dikendalikan WNA asal Bulgaria bernama Aldo, yang merupakan narapidana Lapas Kerobokan. Kelompok ini juga punya bisnis haram narkoba.

"Kelompok ini dikendalikan oleh pelaku yang dari lapas, warga negara asing asal Bulgaria. Jadi mereka ini pemetiknya. Yang pengendali atau otaknya adalah pelaku yang ada di lapas. Juga ini terafiliasi dengan pelaku narkoba," kata Wijaya.

Para pelaku ditangkap pada Jumat (8/1). Keempat pelaku tersebut adalah Aris Said asal Jember, yang merupakan mantan narapidana narkoba, serta Endang Indriyawati asal Solo, yang juga istri Aris Said. Kemudian ada Putu Rediarsa asal Buleleng, yang merupakan mantan narapidana kasus penggelapan, dan Christopher B Diaz asal Papua, yang juga mantan narapidana narkoba.

Mereka adalah 'murid' WN Bulgaria bernama Aldo yang masih menjalani hukuman di Lapas Kerobokan. Mereka mendapatkan ilmu skimming saat masih sama-sama mendekam di Lapas Kerobokan.

Sementara 3 pelaku skimming lainnya ialah WNI yang menjadi agen WN Malaysia dari negaranya. Polda Bali akan bekerja sama dengan Interpol untuk menyelidiki WN Malaysia yang dikabarkan sering datang ke Bali tersebut.

"Pelaku yang kelompok kedua ini ada tiga orang, tugasnya adalah memasang dan narik skimming dan ini dikendalikan oleh warga negara Malaysia," kata AKBP Wijaya.

Wijaya mengatakan ketiga pelaku skimming bernama Junaidin, Alamsyah, dan Miska ini berasal dari Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan ditangkap pada Senin (25/1). Mereka merupakan pelaku lintas negara dan provinsi. Peralatan ketiga tersangka pun terbilang banyak.

Lokasi yang pernah dijadikan sebagai tempat aksi kejahatannya antara lain Bali, Tarakan Kalimantan, Surabaya, Jember, Solo, Bima, Sumbawa, Kupang, dan Palembang. Pelaku melancarkan aksinya sejak 2018.

Tonton Video: PPATK Sebut Kejahatan Skimming Melonjak di Tengah Pandemi

[Gambas:Video 20detik]



(jbr/jbr)