Langka, Warga Minahasa Temukan Tarsius Berambut Putih & Bermata Hitam

Inkana Putri - detikNews
Senin, 08 Feb 2021 16:59 WIB
Tarsius Leucistic
Foto: KLHK
Jakarta -

Seekor tarsius dengan kelainan berupa leucistic (warna rambut putih dan mata hitam) ditemukan oleh Into, seorang warga di Desa Lemoh Timur, Kecamatan Tombariri Timur, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Jumat (5/2). Jenis Tarsius yang dikenal sebagai Krabuku Tangkasi (Tarsius tarsier/Tarsius spectrumgurskyae) ini ditemukan di atas pohon kecil dengan ketinggian ± 1 meter di kebun milik warga sekitar pukul 10.00 WITA.

Atas dasar pertimbangan keamanan, Into memutuskan untuk melaporkan ke Kepala Resort Taman Wisata Alam Batuputi Cagar Alam Duo Sudara, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jenli Gawina. Di samping itu, berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor. P.106/MENLHK/ SETJEN/KUM.1/12/2018, Tarsius merupakan hewan yang dilindungi di Indonesia dan berbeda dengan Tarsius normal yang memiliki warna rambut cenderung coklat kemerahan dan mata coklat.

"Atas pertimbangan keamanan, saya menyarankan untuk dikembalikan ke alam atau ke induknya. Namun karena warga tidak tahu dimana lokasi induknya, selanjutnya pihak BKSDA Sulawesi Utara berkoordinasi dengan Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki dan dibantu masyarakat setempat, sejak hari Sabtu (6/2) secara bersama-sama mulai melakukan pemantauan di lokasi penemuan tarsius untuk menemukan induknya," ujar Jenli dalam keterangan tertulis, Senin (8/2/2021).

Lebih lanjut Jenli menjelaskan pihaknya telah melakukan pemantauan dengan menempatkan tarsius leucistic di beberapa lokasi yang diduga menjadi habitat induknya. Namun hingga hari ini, lokasi keberadaan induk tarsius belum ditemukan. Oleh karena itu, pihak BKSDA Sulawesi Utara dan PPS Tasikoki masih tetap melakukan pemantauan di lokasi penemuan.

Jenli menambahkan saat ini, satwa tersebut masih dalam penanganan dokter PPS Tasikoki. Berdasarkan hasil observasi rutin yang dilakukan dokter dan personil BKSDA, hingga Senin pagi (8/2), kondisi tarsius masih dalam keadaan sehat. Bahkan, Jenli menyebut gerak motoriknya, kemampuan menangkap mangsa dan kemampuannya meraih airnya cukup baik.

Sementara itu, Plt Kepala BKSDA Sulawesi Utara, Rima Christie Hutajulu mengatakan mengembalikan tarsius ke habitatnya merupakan hal terbaik. Mengingat umur tarsius tarsius leucistic tersebut diperkirakan antara bayi (infant) dan remaja (juvenile) atau ± 6 bulan.

Selain itu, ukuran badan tarsius tersebut juga cukup kecil sekitar ± 7 cm, dengan berat ± 50 gram. Meskipun hewan tersebut sudah dapat mencari makan sendiri, namun tetap masih dalam pengawasan induknya.

"Kondisi tarsius yang masih sangat kecil, menyebabkan pilihan terbaik untuk penyelamatannya saat ini adalah dengan mengembalikan ke alam atau ke induknya. Proses penyelamatan dengan membawa ke PPS Tasikoki merupakan pilihan terakhir yang akan diambil, apabila proses pengembalian ke alam tidak dapat dilakukan," ujarnya.

Terkait hal ini, KLHK menyampaikan terima kasih kepada warga Desa Lemoh Timur, khususnya Into dan keluarga Tangkilisan-Kolondam karena telah berinisiatif melaporkan penemuan tarsius leucistic ke pihak BKSDA Sulawesi Utara.

Melalui Balai KSDA Sulawesi Utara, KLHK juga mengimbau masyarakat Sulawesi Utara dan Gorontalo untuk melaporkan kepada BKSDA Sulawesi Utara jika menemukan satwa dilindungi yang perlu segera diselamatkan.



Simak Video "Polisi Tangkap Pedagang Satwa Langka di Media Sosial"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)