Sosok Eks Kasat Reskrim Polres Wonogiri: Suka Bercanda-Sigap Bekerja

Audrey Santoso - detikNews
Jumat, 05 Feb 2021 22:52 WIB
Mantan Kasat Reskrim Polres Wonogiri, Kompol Aditia Mulya jadi korban pengeroyokan saat melerai perkelahian 2 kelompok silat
Mantan Kasat Reskrim Polres Wonogiri, Kompol Aditia Mulya jadi korban pengeroyokan saat melerai perkelahian 2 kelompok silat. (dok. istimewa)
Jakarta -

Kondisi Kompol Aditia, eks Kasat Reskrim Polres Wonogiri yang menjadi korban pengeroyokan brutal, selama hampir dua tahun menjadi kesedihan tersendiri bagi para sahabatnya, Detasemen 38/Setia (sebutan alumni Akademi Kepolisian angkatan 2006). Kompol Aditia dinilai sebagai teman yang hobi bercanda, tapi sigap saat bekerja.

Kabar terbaru, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berkomitmen akan membantu sepenuhnya biaya pengobatan Kompol Aditia. Hal tersebut membuat istri Kompol Aditia, Dewi dan para sahabatnya mengucap syukur. Berikut cerita teman-teman Detasemen 38/Setia tentang Kompol Aditia.

"(Aditia) lebih mirip sosoknya itu seperti motivator teman-temannya. Karena pada saat kita ada kesusahan dan lain halnya, dia tidak segan memberikan semangat dan juga tidak segan segan membantu. Contohnya banyak, misalkan saat belajar, rekan-rekan yang ketinggalan, dia bersedia membantu untuk motivasi belajar, membantu belajarnya," kata Wakapolsek Metro Penjaringan, Kompol Alrasyidin Fajri Gani kepada detikcom, Jumat (5/2/2021).

Ketua Angkatan Detasemen 38/Setia ini juga menyebut Kompol Aditia memiliki dedikasi tinggi dalam hal kedinasan. "Bahkan dedikasinya salah satu yang paling tinggi di antara angkatan kami, orangnya sigap kalau kerja, nggak omdo (omong doang)," sambung dia.

Fajri mengingat kala masih menjalani pendidikan di Akademi Kepolisian, saat itu Kompol Aditia suka memotivasi teman-temannya saat kegiatan latihan fisik. Kompol Aditia, sebut Fajri, menyemangati teman-temannya untuk dapat menyelesaikan latihan fisik dengan baik.

"Terus di keterampilan juga misalkan kita ada latihan fisik itu pada saat di akademi, dia memacu kita supaya lebih baik," ucap Fajri.

Kompol Aditia disebut sebagai sosok yang menghadirkan suasana keakraban di Detasemen 38/Setia. Fajri menyebut teman-temannya merasa akrab dengan Aditia karena sosoknya yang kerap membantu.

"Dan dia sosok sangat hangat di antara teman-teman itu, sangat hangat dan mudah bergaul. Siapa saja dibantu sama si Adit, yang lagi susah dibantu sama Adit. Jadi benar-benar sigap dalam membantu kita," ujar Fajri.

Sejak Kompol Aditia mengalami pengeroyokan dan luka parah, Fajri menuturkan dia dan rekan-rekannya mengumpulkan tali asih untuk membantu meringankan bebas istri Kompol Aditia yang harus merawat tiga anak mereka. Kondisi Kompol Aditia pun selalu dipantau mereka, meski hanya melalui komunikasi dengan sang istri, Dewi.

"Dari angkatan ada tali asih , insyaallah terus akan kita ulurkan tali asih kepada keluarganya. Dari awal kita sudah tali asih, karena memang Adit ini sosok setia kawan sama temannya," tutur Fajri.

Simak cerita Kompol Aditia meneteskan air mata saat dijenguk sahabat di halaman berikutnya.

Di antara anggota Detasemen 38/Setia, Kompol Didik Sulaiman yang paling sering menjenguk Kompol Aditia. Wakasat Reskrim Polrestabes Semarang ini bersyukur, tempat dinasnya berdekatan dengan rumah Kompol Aditia.

Didik dapat disebut memiliki ikatan emosional dengan Kompol Aditia. Semasa di Akpol, mereka tinggal satu barak.

"Keakraban saya dan Adit terbentuk dari kami pendidikan di Akademi Kepolisian tahun 2003 sampai 2006. Jadi kalau saya menengok ke sana, dia berupaya komunikasi dengan saya. Cuman karena sampai saat ini beliau masih ada keterbatasan secara fisik, yang terlihat hanya meneteskan air mata," cerita Didik.

Didik mengaku kerap mengajak bicara Kompol Aditia saat menjenguk. Obrolannya ringan saja, tambah Didik, hanya untuk memecah suasana sedih.

"(Kompol Aditia) cuma melek. Jadi kalau saya di sisi kanan, saya panggil 'Dit, Didik datang, Dit', dia berusaha mencari sumber suara dari mana. Kemudian kalau saya ke sebelah kiri, 'Dit, aku di sini, kita dolan (main) ke mana yuk Dit. Udud yuk udud (merokok yuk, merokok)', (Kompol Aditia) berusaha nengok ke kiri, berupaya mencari sumber suara," tutur Didik.

"Paling nanti tangannya saya genggam, tapi saya tahu Adit berupaya menggenggam balik, lebih erat lagi. Tapi dia tidak bisa," imbuh Didik.

Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP Aditia Mulya RamdhaniKasatreskrim Polres Wonogiri, AKP Aditia Mulya Ramdhani (kanan) (Aris Arianto/detikcom)

Didik mengaku sudah 7 bulan tak menjenguk Kompol Aditia. Kondisi pandemi Corona (COVID-19) membuat dia takut menjenguk sahabatnya.

"Terakhir menjenguk fisik tahun 2020 tepatnya 1 Juli 2020, Hari Bhayangkara. Mengapa selama itu tenggat waktunya? Mohon maaf karena situasinya lagi COVID-19 seperti ini, sayanya khawatir kalau saya menjenguk ke sana secara fisik, justru mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan," jelas Didik.

Didik menyampaikan dirinya sangat berharap Kompol Aditia pulih secepatnya. Salah satu yang dirindukan Didik dari Kompol Aditia adalah candaannya.

"Kalau kita berkumpul bersama teman, kalau ada dia, ya udah yang ada ketawa semua. Orangnya seperti itu, suka ngebanyol (bercanda). Makanya kita merasa, ya Tuhan, orang yang selama ini sering membuat kita bisa ketawa, sekarang kondisinya seperti itu. Kami dari angkatan (Akademi Kepolisian 2006), mohon doanya saja, semoga bisa disembuhkan dan Adit bisa beraktivitas seperti sedia kala." ungkap Didik.

Simak reaksi teman-teman saat tahu Kompol Aditia dikeroyok dan upaya galang dana di halaman berikutnya.

Saat mendengar kabar Kompol Aditia menjadi korban kebrutalan kelompok silat yang sedang bentrok, teman-teman angkatannya mengaku kaget. Saat tahu kondisi Kompol Aditia yang terluka parah dan memerlukan pengobatan yang serius, Detasemen 38/Setia ramai-ramai menggalang dana untuk membantu biaya pengobatan Kompol Aditia.

"Jujur, kami kaget juga dia bisa sampai cedera parah seperti itu. Terus seluruh angkatan berdoa supaya teman kita ini segera diberikan kesembuhan walaupun kurang lebih 2 tahun sudah melalui upaya maksimal dengan bantuan dari kedinasan, kami pun dari angkatan turut, dari ketua paguyuban angkatan 2006 kita sudah berupaya termasuk menggalang dana dari senior, junior, dari kedinasan termasuk otomatis untuk membantu pengobatan teman kami ini," terang teman Kompol Aditia yang lain, Kompol Ade Papa Rihi.

Dia berharap metode stem cell dapat membuahkan kemajuan signifikan bagi Kompol Aditia. "Harapan kami kalau pengobatan stem cell ini bisa berjalan mulus, bisa cepat diberikan kesembuhan bisa kembali normal, bisa kumpul kembali bersama keluarga dan berdinas," tambah Ade.

Kondisi terkini Kompol Aditia pasca dikeroyok di Wonogiri lima bulan silam, Jumat (18/10/2019).Kondisi Kompol Aditia pada 18 Oktober 2019 (Angling Adhitya Purbaya/detikcom)

Ade mengaku teman-teman dari Detasemen 38/Setia selalu memantau kondisi Kompol Aditia dan menanyakan hal-hal yang dibutuhkan keluarga Kompol Aditia lewat istri Kompol Aditia, Dewi.

"Kami pun sudah sampaikan ke keluarga, ke istri, terutama apabila ada hal-hal yang bisa kami bantu, kami berusaha bantu semampu kami," tandas Ade.

(aud/fjp)