Jaga Laut Natuna, Kapal Bakamla Dilengkapi Senjata Berkaliber 30 mm

Faidah Umu Safuroh - detikNews
Rabu, 03 Feb 2021 13:58 WIB
Bakamla
Foto: Bakamla
Jakarta -

Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto telah memperkuat kapal Bakamla RI dengan senjata berat dan canggih. Hal ini bertujuan untuk menjaga keamanan Laut Natuna agar kapal China tidak seenaknya melakukan manuver di perairan Natuna, Indonesia.

Sejak 1 Februari 2021, armada penjaga pantai (coast guard) China resmi diperbolehkan menggunakan senjata untuk mengusir atau menangkap kapal asing di perairan yang disengketakan. UU Penjaga Pantai China itu menimbulkan protes dari negara tetangga yang selama ini bersengketa teritorial dengan Negeri Tirai Bambu, seperti Jepang, Vietnam, dan Filipina.

Indonesia juga berkali-kali berhadapan dengan kapal penjaga pantai China di zona ekonomi lepas pantai kepulauan Natuna. Beberapa kali juga terjadi insiden antara kapal pengawasan perikanan Indonesia dan kapal penjaga pantai China.

Sekadar diketahui, coast guard China sudah dilengkapi dengan senjata berat seperti meriam kaliber 75 mm. Tentu sangat berbahaya jika Bakamla berhadapan dengan kapal tersebut. Akhirnya Badan Keamanan Laut (Bakamla), yang mengoperasikan kapal penjaga pantai (coast guard) Indonesia, telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri.

"Ini secara formal sudah disampaikan, kami juga sudah berkoordinasi dengan Ibu Menlu (Retno Marsudi) untuk menanyakan perihal ini," ujar Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksdya Aan Kurnia dalam keterangan tertulis, Rabu (3/2/2021).

Dalam mengantisipasi hal itu, lanjutnya, Bakamla sudah mendapat dukungan dengan dikeluarkannya izin pembelian senjata sejak 2020. Pada Agustus 2020, Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto bahkan memperbolehkan Bakamla menggunakan senjata berkaliber besar untuk mengamankan laut.

Salah satu pengamanan yang menjadi perhatian besar adalah wilayah Natuna. Sebab, lokasi ini berdekatan dengan Laut China Selatan, yang belakangan mengalami eskalasi tinggi antara Negeri Tirai Bambu dan Amerika Serikat. Aan Kurnia mengaku bersyukur karena Bakamla mendapat dukungan penggunaan senjata.

"Bakamla baru mendapat izin beli senjata baru bulan Agustus tahun lalu, tapi ini masih bersyukurlah karena kita sudah ada senjata," kata dia.

Ia menyebut kondisi Laut China Selatan saat ini sangat dinamis seiring kian asertifnya posisi China yang direspons negara besar, misalnya AS. Ketegangan di kawasan tersebut pun diprediksi akan terus mengalami eskalasi.

"Di mana ada risiko peningkatan eskalasi dan spill over konflik," ucapnya.

Sebelumnya, Aan Kurnia mengungkapkan senjata yang dibeli Kemenhan untuk Bakamla masih kalah besar dari coast guard China yang sudah memakai meriam kaliber 75 mm.

"Jadi selama ini coast guard China, coast guard Vietnam meriamnya sudah gede-gede, sudah 75, 57. Saya mau beli senjata saja nggak boleh. Kemarin saya menghadap Pak Menhan langsung, aturan-aturan kita lihat ternyata boleh, bisa, dan alhamdulillah bisa," ujarnya.

Sebelumnya, Bakamla hanya dibekali senjata peluru karet. Aan Kurnia mengungkapkan tahun ini petugas Bakamla sudah boleh menggunakan senjata berkaliber 30 mm dan senjata perorangan.

"Senjata kaliber diizinkan sementara hanya menggunakan 30 mm paling besar, kemudian ke bawahnya 12.7 sama senjata perorangan itu saja," ungkapnya.

Namun Aan Kurnia menegaskan petugas yang menggunakan senjata tersebut tidaklah mematikan. Sebab, petugas Bakamla dipersenjatai hanya untuk keamanan diri apabila sedang bertugas di laut.

"Ingat, senjata yang saya gunakan ini bukan untuk mematikan, tapi hanya untuk self defense, hanya untuk bertahan saja, kita tidak perlu senjata besar, kaliber besar seperti angkatan laut tapi paling tidak untuk membela diri kalau memang ini diperlukan. Izinnya sudah secara resmi kita dapat bulan Agustus tahun 2020," tambahnya.

Penandatangan kontrak kerja sama pengadaan senjata dan amunisi 12,7 mm dari Pindad dilaksanakan di gedung Perintis, Mabes Bakamla RI, Jalan Proklamasi Nomor 56, Jakarta Pusat, 9 September 2020.

"Saya gunakan nanti di kapal (ukuran) 48 meter, 80 meter, dan 110 meter. Semua kapal yang dimiliki Bakamla akan saya gunakan ini," kata Aan Kurnia.

Menurut dia, mitraliur 12,7 mm merupakan senjata yang tergolong ringan. Senjata tersebut hanya digunakan untuk pertahanan diri. Nantinya dalam satu kapal patroli akan ditempatkan dua pucuk mitraliur 12,7 mm.

"12,7 ini mitraliur ringan, ini untuk self defense, yaitu untuk pertahanan diri di kapal kapal," katanya.

Untuk diketahui Bakamla RI memiliki sejumlah kapal patroli. Di antaranya kapal markas yang berukuran 110 meter, kapal patroli berukuran 80 meter, 48 meter, serta 15 meter. Bakamla juga memiliki rigid inflatable boat berukuran 12 meter. Semua kapal diberi kode KN, yaitu Kapal Negara.

Saksikan juga Video: Diamankan Bakamla, 2 Tanker Berbendera Iran-Panama Dibawa ke Batam

[Gambas:Video 20detik]



(akn/ega)