Bareskrim Bongkar Jaringan Narkoba Malaysia, Dikendalikan Napi Lapas di Batam

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Jumat, 29 Jan 2021 16:51 WIB
Bareskrim Polri.
Bareskrim Polri (Kadek Melda Luxiana/detikcom)
Jakarta -

Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mengungkap peredaran narkoba jaringan internasional Indonesia-Malaysia di Batam. Puluhan ribu butir ekstasi disita.

Pengungkapan tersebut berawal dari adanya laporan masyarakat terkait informasi peredaran narkoba di Batam, Kepulauan Riau. Tim penyidik Bareskrim Polri kemudian melakukan pengintaian terhadap sebuah mobil hitam berpelat BP-1249-AR, yang diduga membawa narkoba.

"Kita mendapatkan target yang akan kita lakukan penangkapan sekitar hari Kamis, 21 Januari 2021, tim membuntuti sebuah mobil Daihatsu warna hitam BP-1249-AR di daerah Agas Tanjung Umma di daerah Kota Batam," kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono saat jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (29/1/2021).

Dari pengintaian itu, penyidik berhasil mengamankan dua karung berisi narkotika jenis sabu, ekstasi, dan H5. Dua orang tersangka inisial SK dan MNS yang berada dalam mobil tersebut diamankan.

"Setelah tersangka dua orang kita dapatkan, anggota ini menggeledah mobil dan ternyata di dalam mobil kita temukan apa, ada dua buah karung warna putih yang masing-masing di dalamnya ada jerigen plastik warna biru di dalamnya ada berisi narkotika jenis sabu ada ekstasi dan H5 kita amankan," ujarnya.

Argo menyampaikan, tim penyidik kemudian melakukan pengembangan. Satu hari setelahnya, tim penyidik berhasil menangkap tiga tersangka lainnya inisial RFH, H, dan HY.

"Jadi ada 5 yang kita tetapkan tersangka, kemudian kita periksa. Dari hasil pemeriksaan, barang ini adalah barang dari Malaysia yang mengendalikan adalah warga binaan di suatu LP di Batam dan juga ada satu orang yang disebut bos dari Malaysia mengendalikan. Ada dua orang yang masih kita kejar, 5 orang tertangkap, dua orang masih kita cari," tuturnya.

Argo mengatakan sebanyak ribuan gram Sabu hingga puluhan ribu butir gram ekstasi telah dijadikan sebagai barang bukti. Barang haram tersebut diedarkan para tersangka ke tempat hiburan di wilayah Kepulauan Riau.

"8 bungkus sabu total 8.206 gram berat bruto, kemudian 21 ribu butir ekstasi. Kemudian ada 20 butir H5, kemudian ada beberapa HP, dan ada mobil juga yang tidak bisa kita hadirkan di sini. Dari keterangan tersangka diedarkan di salah satu tempat hiburan yang ada di Kepulauan Riau. Sistemnya cash and carry bertemu diedarkan," ucapnya.

Lebih lanjut Argo mengatakan dengan pengungkapan peredaran narkoba jaringan internasional ini, sebanyak 30 ribu nyawa berhasil diselamatkan.

"Dengan adanya penangkapan ini, kita bisa menyelamatkan 30 ribu orang yang kita asumsikan per orang mengkonsumsi satu butir dan atau satu gram sabu," ujar Argo.

Para tersangka disangkakan Pasal 114 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 1 UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup atau pidana paling singkat 6 tahun dan denda Rp 1 miliar.

Kemudian Pasal 112 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 1 UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan ancaman hukuman mati, pidana seumur hidup paling sebentar 5 tahun dan paling lama 20 tahun penjara. Denda minimal Rp 800 juta dan maksimal Rp 8 miliar.

(idn/idn)