LPSK Siap Dampingi Saksi-Korban Terkait Kasus Rasisme terhadap Natalius Pigai

ADVERTISEMENT

LPSK Siap Dampingi Saksi-Korban Terkait Kasus Rasisme terhadap Natalius Pigai

Yulida Medistiara - detikNews
Jumat, 29 Jan 2021 10:14 WIB
Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Maneger Nasution
Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Maneger Nasution (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

LPSK mengecam kasus ujaran kebencian terkait SARA terhadap mantan komisioner Komnas HAM Natalius Pigai. LPSK siap melindungi saksi dan korban terkait kasus tersebut.

"LPSK siap melindungi saksi dan korban pada kasus ujaran bernuansa rasisme sesuai peraturan perundang-undangan," kata Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Maneger Nasution dalam keterangannya, Jumat (29/1/2021).

Nasution menyebut, dengan adanya perlindungan, diharapkan saksi maupun korban ujaran rasisme akan berani 'bersuara' dan memperjuangkan keadilan. LPSK menyambut baik proses hukum yang dilakukan aparat penegak hukum tanpa memandang siapa dan berafiliasi pada kekuatan politik mana pun. Bahkan ini menjadi tantangan yang harus bisa dijawab Kapolri baru.

"Tindakan dan ujaran rasisme terhadap siapa pun dan dengan dalih apa pun, di samping penistaan terhadap kehormatan kemanusiaan, juga ahistoris dan pengingkaran terhadap sejarah bangsa Indonesia sendiri sebagai bangsa yang majemuk, multikultur," ujar Nasution.

Diketahui, kasus ujaran bermotif rasisme menimpa mantan komisioner Komnas HAM RI asal Papua Natalius Pigai. Perlakuan rasis di media sosial terhadap Pigai bahkan bukan kali pertama.

"Para pelakunya juga secara terbuka menyatakan diri berafiliasi pada politik tertentu," imbuhnya.

Nasution menyebut pelaku ujaran rasisme tidak boleh diberi ruang di Republik karena dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Ia meminta segera pelaku meminta maaf.

"Pelaku (ujaran rasisme) harus segera meminta maaf secara terbuka kepada Pigai dan publik Indonesia, khususnya rakyat Papua, serta berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama di masa mendatang," ungkap Nasution.

Lebih lanjut Nasution mengimbau publik tidak mudah terprovokasi untuk main hakim sendiri. Dia mengajak publik menaruh harapan dan kepercayaan bahwa kepolisian negara dapat menuntaskan kasus bermotif rasisme tersebut secara profesional, transparan, dan imparsial.

"Mendorong negara, terutama pemerintah, hadir memastikan agar peristiwa yang sama tidak terulang pada masa mendatang (guarantees of nonrecurrence)," ujarnya.

Nasution juga mendorong kepolisian responsif dan progresif menuntaskan kasus tersebut. Berkaca dari kasus 2018, keterlambatan penanganan aksi rasis yang akhirnya memicu protes besar warga Papua selama berbulan-bulan.

"Pada tahun itu, korban rasisme adalah orang Papua di asrama mahasiswa Surabaya. Kita tentu tidak berharap situasi demikian," imbuhnya.

Selain itu, Nasution mendorong Komnas HAM menggunakan mandatnya melakukan pemantauan terhadap kasus bermotif rasisme sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

"Khusus kepada penegak hukum agar dapat memberikan sanksi tegas bagi para pelaku rasisme oleh siapa pun, terhadap siapa pun, dan dengan dalih apa pun," ujarnya.

Kasus ini bermula dari laporan terhadap Ambroncius Nababan ke polisi gara-gara unggahan di Facebook. Akun Facebook bernama Ambroncius Nababan mengunggah foto Natalius Pigai yang disandingkan dengan foto gorila.

"Edodoeee pace. Vaksin ko bukan sinovac pace tapi ko pu sodara bilang vaksin rabies. Sa setuju pace," tulis Ambroncius.

Posting-an di Facebook tersebut pun menuai kecaman karena dinilai rasis. Tidak lama berselang, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Papua Barat melaporkan politikus Partai Hanura tersebut ke Polda Papua Barat dengan nomor LP/17/I/2021/Papua Barat.

Ambroncius Nababan kemudian diperiksa Bareskrim pada Senin (25/1). Dia dicecar penyidik Siber Bareskrim dengan 25 pertanyaan. Selang sehari, penyidik melakukan gelar perkara dan hasilnya Ambroncius ditetapkan sebagai tersangka.

Kini polisi resmi menahan Ambroncius. Ambroncius Nababan kini ditahan di Rutan Bareskrim Polri.

(yld/fjp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT