Pedagang soal Pasar Muamalah Depok Transaksi Pakai Dinar: Tak Ada Paksaan

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Kamis, 28 Jan 2021 20:53 WIB
Lokasi pasar muamalah di Depok, jual beli dengan dinar-dirham. Salah satu pedagang Pasar Muamalah bernama Yasser mengatakan kabar viral di medsos soal transaksi pakai dirham dan dinar tidak sepenuhnya benar karena tak ada pemaksaan (Sachril/detikcom)
Lokasi pasar muamalah di Depok, jual-beli dengan dinar-dirham. (Sachril/detikcom)
Depok -

Aktivitas jual-beli di salah satu Pasar Muamalah, Beji, Depok, jadi sorotan di media sosial (medsos) karena transaksi menggunakan mata uang dinar dan dirham, bukan rupiah. Pedagang Pasar Muamalah mengatakan kabar di medsos tersebut tidak benar.

"Salah. Jadi di sini bukannya mengatakan hanya menerima (mata uang) dinar (atau) dirham. Pakai beras pun boleh. Di sini yang dilarang memaksakan alat tukar. Jadi kalau punya rupiah dipaksain nggak boleh, punya dinar pun dipaksain nggak boleh. Tapi kalau memang pedagang mau menerima rupiah, boleh, mau terima dirham, boleh, menerima beras, boleh. Jadi nggak ada paksaan," kata salah satu pedagang pasar Muamalah, Yasser, saat ditemui di pasar Muamalah, Jalan Tanah Baru, Beji, Kota Depok, Kamis (28/1/2021).

"Ya kalau (transaksi jual-beli) pakai dinar (atau) dirham, benar. Tapi tidak diwajibkan dan tidak dipaksakan. Rupiah pun boleh, itu," tambahnya saat kembali dimintai konfirmasi.

Yasser menjelaskan, Pasar Muamalah di Depok sudah ada sejak 2013. Ketika awal pandemi COVID-19, lanjutnya, Pasar Muamalah sempat berhenti beroperasi.

Lalu, dari 3 bulanan lalu sampai sekarang, dia mengatakan, Pasar Muamalah beroperasi tiap 2 minggu sekali.

Lokasi pasar muamalah di Depok, jual beli dengan dinar-dirham. Salah satu pedagang Pasar Muamalah bernama Yasser mengatakan kabar viral di medsos soal transaksi pakai dirham dan dinar tidak sepenuhnya benar karena tak ada pemaksaan (Sachril/detikcom)Salah satu pedagang Pasar Muamalah bernama Yasser mengatakan kabar viral di medsos soal transaksi pakai dirham dan dinar tidak sepenuhnya benar karena tak ada pemaksaan. (Sachril/detikcom)

"Ya kalau secara ini kan, kan pasar kita pasar memang muamalah yang mengutamakan dinar (dan) dirham. Ya otomatis pasti dominan dirham. Berikutnya rupiah, berikutnya lagi saling barter barang," jelasnya.

Yasser menyayangkan video viral soal aktivitas jual beli di Pasar Muamalah. Menurutnya, orang yang memviralkan video tersebut tidak mengetahui keadaan sesungguhnya di Pasar Muamalah.

Dia menduga video Pasar Muamalah yang viral tersebut direkam 1-2 tahun lalu.

"Bahwa ini pasar yang kita lakukan mencontoh Rasulullah. Lalu mengenai dengan dinar (dan) dirhamnya itu ya keterkaitan dengan zakat. Lalu soal transaksi bebas, tidak ada paksaan," jelasnya.

"Jadi gini, contoh gini, (mencontohkan memegang handphone) ini barang harganya dalam rupiah. Otomatis di sini pasti, karena ini kita tulisnya dalam (mata uang) dirham. Jadi kalau misalnya (barang) ini Rp 50 ribu, (ditulis) 1 dirham kembali Rp 20 ribu. Atau kalau harganya Rp 90 ribu, 1 dirham plus Rp 20 ribu. Kalau dia harganya pas 1 dirham, ditulisnya ya 1 dirham," ujar Yasser.

Lanjutnya, Yasser menerangkan Pasar Muamalah di Beji, Kota Depok, terakhir buka Minggu (24/1) kemarin. Pasar Muamalah akan buka kembali pada 7 Februari 2021.

Bagaimana Pasar Muamalah ini bisa menjadi sorotan? Simak halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2