Sebar Hoax Warga Kena Corona, 2 Orang di Sulteng Dibui 5 Bulan

Andi Saputra - detikNews
Kamis, 28 Jan 2021 14:42 WIB
Caucasian woman holding gavel
Ilustrasi Pengadilan (iStock)
Jakarta -

Pengadilan Negeri (PN) Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng), menjatuhkan hukuman 5 bulan penjara kepada Fandi Purnaya (29) dan Fadlan. Sebab, keduanya menyebarkan hoax bila salah satu warga di lingkungannya terkena Corona.

Hal itu tertuang dalam Putusan PN Parigi, yang dilansir website Mahkamah Agun (MA), Kamis (28/1/2021). Di mana kasus bermula saat Fandi dan Fadlan membuat video pendek dengan HP di dalam mobil pada 31 Maret 2020.

"Sidole positif Corona. Ini bukan hoax. Asli!" kata Fadlan.

"Kirim ke group," kata Fandi.

"Rumahnya sudah di anu ini," ujar Fadlan.

"Disegel," ucap Fandi.

"Hancur kalau begini ini," ucap Fadlan.

Video berdurasi 52 detik itu kemudian di-share ke grup WhatsApp. Akibatnya, warga Desa Sidole panik dan melaporkan kasus ini ke kepolisian. Fandi dan Fadlan diproses secara hukum dan diadili.

"Menyatakan terdakwa Fandi Purnaya S.Ip alias Fandi tersebut di atas, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang menyuruh lakukan dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dalam dakwaan alternatif kesatu. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 5 bulan," kata ketua majelis hakim Ramadhana Heru Santoso.

Majelis hakim mengutip kesaksian ahli yang menyatakan 'di dalam transaksi elektronik terdapat pengirim (yang mengirim informasi/dokumen elektronik) dalam hal ini dapat dikatakan sebagai produsen dan ada penerima informasi/dokumen elektronik yang dapat dikatakan sebagai konsumen'. Sehingga ketika seseorang/ akun melakukan posting-an informasi/dokumen elektronik dan yang menerima merasa dirugikan maka dapat dikatakan telah terjadi kerugian konsumen.

"Situasi yang sebenarnya pada waktu itu adalah petugas kepolisian sedang memasang Maklumat Kapolri di Desa Sidole Timur. Namun pada waktu itu di dalam video Fadlan mengatakan 'Sidole positif Corona. Ini bukan hoax. Asli! Rumahnya sudah disegel. TKW dari Malaysia'.

"Terdakwa belum pernah dihukum. Terdakwa sopan dan mengakui terus terang perbuatannya, sehingga memperlancar jalannya persidangan. Terdakwa menyesali perbuatannya," ujar majelis hakim mempertimbangkan hal yang meringankan kedua terdakwa.

Pengakuan Terdakwa

Fandi di persidangan mengakui perbuatannya dan tidak membantah dakwaan. Fandi menyatakan di antaranya:

1. Sepengetahuan Terdakwa sampai saat ini belum ada warga Desa Sidole maupun desa sekitarnya yang terjangkit virus corona, karena Terdakwa belum pernah mendengar ada pihak terkait yang dalam hal ini Dinas Kesehatan Kab Parigi Moutong yang menyampaikan berita tersebut, sehingga berita yang disampaikan dan kemudian disebarkan oleh Saksi Fadlan melalui Grup WhatsApp adalah tidak dapat dipastikan kebenarannya.
2. Terdakwa menyatakan video tersebut telah menjadi viral di Facebook sehingga membuat sebagian masyarakat merasa cemas dan ketakutan.
3. Bahwa atas barang bukti yang diperlihatkan oleh majelis hakim di hadapan persidangan, Terdakwa menerangkan barang bukti tersebut adalah yang digunakan Saksi Fadlan untuk melakukan perekaman video pada saat itu.

(asp/idn)