Kolom

Curhat Guru Mengajar Daring Selama Pandemi

Indriawan Teguh - detikNews
Kamis, 28 Jan 2021 14:00 WIB
Belajar daring melalui Zoom (Foto: istimewa)
Jakarta -

"Kalau kamu sampai mengajar tatap muka, kamu harus resign!" Kalimat pedas itu meluncur dari istri saya. Namun, kemudian istri saya dapat sedikit lega karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) diterapkan. Artinya, pembelajaran tatap muka belum akan dibuka dalam waktu dekat. (Terima kasih, Mas Menteri!)

Seperti buah simalakama. Pembelajaran tatap muka ataupun pembelajaran daring merupakan pilihan yang pelik. Satu sisi, guru, orangtua, dan siswa ingin belajar tatap muka. Sisi yang lainnya, Corona semakin menggila dengan ribuan orang terinfeksi setiap harinya.

Pembelajaran daring memang banyak menimbulkan celah. Mulai dari kesehatan mata guru dan siswa yang berpotensi menjadi minus karena berjam-jam menatap layar laptop. Beberapa rekan guru sudah mengeluhkan minus matanya bertambah sejak pembelajaran daring. Wajar saja, hampir 6-7 jam menatap layar laptop. Pastinya mata menjadi merah, iritasi, bahkan kepala bisa pusing.

Pembelajaran daring juga bisa meningkatkan obesitas. Anak saya yang kelas dua SD berat badannya naik sekitar 8 kg selama belajar daring. Bukan karena makannya bertambah banyak, tapi karena kurangnya aktivitas olahraga di luar ruangan. Selama belajar daring, siswa tidak bisa olahraga di bawah sinar matahari pagi bersama teman-temannya. Olahraga hanya dilakukan sekadarnya via Zoom atau Google Classroom. Itu pun dilakukan di dalam ruangan.

Dan yang paling nyesek dari belajar daring adalah perpisahan dengan Mbak Cinta, petugas kantin sekolah. Malam itu dia mengirimkan pesan perpisahan di grup sekolah. "Selamat Malam Bapak/Ibu Guru dan Staf, sekedar info, mulai minggu besok dan seterusnya, catering Bu Lili yang biasanya berjualan makan siang di kantin SD, sudah tidak berjualan lagi ya, terima kasih."

Kantin sekolah sudah melakukan berbagai inovasi selama berbulan-bulan agar mereka tetap bisa survive. Seperti membuat menu paket ekonomis seharga Rp 15 ribu, plus diantar pula. Tidak hanya itu, dia juga sering promo di grup WA bahwa kantin sekolah tetap buka. Tapi, semua itu tidak dapat meningkatkan penjualan. Ya, pasti, karena target market kantin sekolah adalah siswa. Sedangkan selama belajar daring, tak ada satu pun siswa yang datang, apalagi jajan di kantin sekolah.

Senegatif apapun pembelajaran daring, ternyata ada ancaman yang lebih mengerikan. Yaitu kematian. Bayangkan bila sekolah dipaksakan dibuka, padahal protokol kesehatan belum tentu dapat diterapkan kepada siswa. Siapa yang bisa mengontrol ratusan siswa untuk tetap jaga jarak? Gurunya aja belum tentu bisa menerapkan jaga jarak. Godaan ngobrol dan berkerumun tentu lebih menggoda, apalagi sudah lama tidak jumpa.

Belum lagi kalau setelah dibuka ternyata ada yang terinfeksi. Pasti sekolah akan ditutup dan belajar daring lagi. Kalau begitu, mending daring saja terus sampai virusnya hilang.

Memberi Ruang

Sebenarnya, belajar daring memberikan ruang kepada guru untuk mengembangkan pendidikan karakter kepada siswa. Bagaimana tidak? Banyak kesempatan siswa untuk meninggalkan kelas. Bisa dengan alasan: tidak ada jaringan, tidak ada kuota, gangguan cuaca buruk, dan ribuan alasan bagi siswa yang ingin bolos kelas. Siswa yang berbohong itu pada dasarnya membohongi diri mereka sendiri. Toh, dia sendiri nantinya yang akan rugi, karena tidak mengerti materi.

Sabar, tenang, Bapak/Ibu! Siswa seperti itu hanya segelintir oknum. Bukan mewakili mayoritas siswa di Indonesia. Saya meyakini siswa itu bukan siswa pemalas atau dugal. Siswa seperti itu menganggap belajar adalah kewajiban, bukan kebutuhan. Sekarang, jangan heran kalau banyak orang yang hanya menjalankan kewajibannya. Bekerja hanya sekadar menunaikan kewajiban.

Lantas bagaimana dengan siswa yang bolos kelas daring? Nah, di situlah peran kita sebagai guru. Apakah kita menjadi guru sebagai pengajar atau pendidik. Rasanya di tengah arus informasi yang melimpah ruah, peran guru sudah bergeser. Guru bukan lagi sebagai sumber ilmu tunggal yang dielukan dan dihormati. Bisa jadi siswa sudah paham tentang suatu materi, karena memang saat ini informasi sebatas jempol jari. Namun, guru harus tetap memiliki pengetahuan yang lebih luas daripada muridnya, meskipun hanya beberapa menit sebelum dia mengajar.

Jangan sampai guru hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge saja. Kalau itu terjadi, bisa berbahaya. Jangan sampai siswa merasa bisa mendapatkan ilmu pengetahuan cukup dengan browsing. Di sinilah peran kita sebagai guru jadi pembeda. Guru bukan hanya melakukan transfer of knowledge, tapi memiliki peran yang lebih mulia lagi. Tentu, saya tidak mau Google disejajarkan atau malah menggantikan guru --bisa nganggur saya!

Guru era modern tidak hanya mengajarkan, tetapi juga mendidik para siswa. Akan terlihat jelas bahwa peran guru dalam mengajar bisa saja terganti. Namun, peran guru dalam mendidik tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi informasi. Teknologi informasi tidak akan pernah bisa mendidik dengan humanis, karena dia hanya seperangkat mesin yang tidak memiliki hati.

Sedangkan guru, selain mengajarkan ilmu, juga memberikan keteladanan akhlak. Nah, guru yang memberikan keteladanan inilah yang akan dikenang oleh siswa.

Seandainya sekolah nanti dibuka, tentu istri saya sudah mengizinkan, karena dia tahu bahwa saya seorang pendidik, bukan pengajar.

Teguh Indriawan guru dan ayah dua anak

(mmu/mmu)