Dijerat TPPU, Pasutri Gunakan Rp 39 M Korban untuk Beli Tanah-Rumah

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Rabu, 27 Jan 2021 23:16 WIB
Polda Metro Tangkap Pasutri Pelaku Penipuan Modus Proyek Fiktif
Polda Metro menangkap pasutri pelaku penipuan modus proyek fiktif. (Luqman Arunanta/detikcom)
Jakarta -

Pasangan suami-istri DK dan KA ditangkap atas kasus dugaan penipuan modus proyek fiktif senilai Rp 39 miliar. Lalu ke mana larinya uang-uang tersebut?

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menjelaskan penipuan ini diotaki DK sang suami. Dia berperan membujuk rayu korban agar mau berinvestasi kepadanya dengan menawarkan proyek fiktif.

Nah, uang hasil penipuan itu ditransfer ke rekening KA, istrinya. Sang istri lalu menggunakan uang haram itu untuk membeli sejumlah aset.

"Hasil dari kejahatan ini kemudian dia belikan beberapa aset lain, aset sebidang tanah dan aset rumah. Makanya kita arahkan ke TPPU," kata Yusri di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (27/1/2021).

Salah satu aset yang dibeli kedua tersangka dari hasil penipuan ini adalah rumah di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Menurut Yusri, keduanya telah melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) hasil penipuan penggelapan tersebut.

"Kenapa kami arahkan ke TPPU, karena dia TPPU pasif, karena dari hasil kejahatan dibelikan kembali untuk mencuci uangnya dalam bentuk beberapa aset, termasuk sebidang lahan dan rumah di daerah perumahan Bintaro Jaya," ucap Yusri.

Pelaku diketahui menawarkan proyek fiktif kepada korban ARN sebanyak enam kali. Keduanya melakukan penipuan ini sejak Januari 2019.

Dalam aksinya, tersangka DK mengaku sebagai mantan menantu petinggi Polri. DK pun turut mengganti namanya di KTP untuk memuluskan aksinya dalam memperdaya korban.

Dalam kasus ini, polisi juga telah menetapkan lima tersangka lainnya. Namun kelimanya tidak ditahan.

Atas perbuatannya, para tersangka dikenai Pasal 378 KUHP dan/atau Pasal 372 KUHP dan/atau Pasal 263 ayat (2) KUHP juncto Pasal 3,4,5 UU RI No 8 Tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang (TPPU), dengan ancaman hukuman maksimal 12 (dua belas) tahun penjara.

Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Dwiasi menyebut kasus itu telah dinyatakan lengkap (P21).

"Ada tujuh tersangka, namun yang dilakukan penahanan dua orang. Lima tersangka perannya pasif," kata Dwiasi.

(mea/mea)