Penipuan Modus Proyek Fiktif, Pasutri Ditangkap Tilap Rp 39 M

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Rabu, 27 Jan 2021 15:07 WIB
Polda Metro Tangkap Pasutri Pelaku Penipuan Modus Proyek Fiktif
Polda Metro menangkap pelaku penipuan modus proyek fiktif. (Luqman Arunanta/detikcom)
Jakarta -

Polda Metro Jaya menangkap pasangan suami-istri tersangka kasus penipuan dengan modus proyek fiktif. Total kerugian korban, yang merupakan seorang pengusaha, mencapai Rp 39 miliar.

"Pertama DK alias DW, dia yang mempunyai ide penipuan untuk proyek fiktif, kemudian kedua, istrinya sendiri, inisialnya KA. Jadi dua pelaku kita lakukan penahanan sampai saat ini berdasarkan laporan dari (korban) ARN ke Polda tanggal 21 Januari (2019) bahwa korban merasa ditipu, digelapkan uangnya, dipalsukan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (27/1/2021).

Yusri menyampaikan penipuan itu dilakukan kedua tersangka sejak Januari 2019. Keduanya menawari korban untuk berinvestasi di sejumlah proyek yang ternyata fiktif.

Kedua tersangka bekerja sama mengelabui korban. Tersangka DK berperan membujuk korban, sedangkan istrinya, KA, bertugas menerima transfer dari suaminya.

"DK ini mengubah KTP-nya, namanya sebenarnya awalnya DK, dengan KTP palsu inilah dia mulai membuka rekening dan perjanjian dengan nama DW kepada korban. Dengan rayuannya, korban kemudian ikut melakukan investasi yang disampaikan tersangka. KA, istrinya, berperan yang menerima transferan dari suaminya," jelasnya.

Pelaku juga diketahui menggunakan hasil uang penipuan untuk membeli sebidang tanah dan rumah. Tersangka juga dijerat dengan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU) atas perbuatannya itu.

"Kenapa kami arahkan ke TPPU, karena dia TPPU pasif karena dari hasil kejahatan dibelikan kembali untuk mencuci uangnya dalam bentuk beberapa aset, termasuk sebidang lahan dan rumah di daerah Perumahan Bintaro Jaya," ucap Yusri.

Kedua tersangka saat ini ditahan di Polda Metro JAya. Yusri mengatakan pihaknya masih mendalami kemungkinan adanya korban lain.

Sementara itu, Kasubdit Harta dan Benda (Harda) Polda Metro Jaya AKBP Dwiasi Wiyatputera mengatakan korban mengalami kerugian mencapai Rp 39 miliar. Dwiasi menjelaskan ada lima orang lain yang terlibat, namun hanya DK dan KA yang ditahan.

"Mengungkap investasi bodong dengan kerugian Rp 39 miliar dan jumlah tujuh tersangka. Namun yang kita lakukan penahanan 2 orang, karena 5 orang ini pasif tapi masing-masing perannya ada. Dua orang ini yang aktif melakukan rangkaian kata-kata bohong sehingga korban menjadi yakin salah satunya untuk meyakinkannya adalah dia seorang anak mantan putra pejabat Polri dan menjanjikan keuntungan besar investasi tambang sehingga korban menjadi yakin menginvestasikan uangnya," ujarnya.

Para tersangka dikenai Pasal 378 KUHP dan/atau Pasal 372 KUHP dan/atau Pasal 263 ayat (2) KUHP juncto Pasal 3,4,5 UU RI No 8 Tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang (TPPU), dengan ancaman hukuman maksimal 12 (dua belas) tahun penjara.

(mei/mei)