Secercah Harapan dari Embung Grigak bagi Petani Gunung Kidul

Abu Ubaidillah - detikNews
Selasa, 26 Jan 2021 20:06 WIB
Embung Grigak
Foto: 20detik
Jakarta -

Seorang petani di Pantai Grigak, Gunung Kidul, Yogyakarta, Wasiman, memandang lahan padi yang ia garap. Setiap bertani, ia selalu menyelipkan doa agar tanaman yang ia garap tumbuh subur.

Sebagai petani yang mengandalkan perairan dari air hujan, Wasiman memang tak bisa menanam sepanjang tahun. Jadi, setiap kali bisa menanam, ia berharap agar lahannya bisa panen besar.

Ketika musim hujan tiba, Wasiman biasa menanam padi, singkong, cabai, terong, dan sayur-sayuran lainnya. Namun di saat musim kemarau, tak banyak pilihan yang bisa ia tanam. Maklum, Pantai Grigak yang terletak di Dukuh Karang, Kelurahan Girikato, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul ini memang tanah yang tandus.

"Di sini masalah paling utama adalah air. Kalau tanah, saya jamin tanah di sini subur," kata pria paruh baya ini dalam keterangan tertulis, Selasa (26/1/2021).

Andai air selalu mengalir di tempat itu, para petani tentu bisa menanam apa saja sepanjang tahun. Saking tandusnya, masyarakat Dukuh Karang punya ungkapan untuk menggambarkan desa mereka, yaitu 'cedak watu, adoh ratu' (dekat dengan batu, jauh dari raja). Ini yang membuat petani pesimis menanam sehingga tanaman yang ditemukan di daerah ini juga tidak banyak, hanya ketela, pisang jagung, dan padi gogo.

Kepala Dukuh Karang, Ratno kerap mendengar keluh kesah warga ketika musim kemarau tiba. Ia mengatakan warga yang sebagian besar petani mengalami kekurangan apapun, airnya kurang, makanan juga tidak ada.

"Jadi warga harus membeli air dan makanan, baik untuk mereka sendiri maupun untuk ternak," ujar Ratno.

Ratno juga mengatakan bagi warga yang tidak sanggup menanggung kebutuhan ini, terpaksa harus menjual sebagian ternaknya untuk melanjutkan hidup.

Air dari Embung Pelengkap Kesuburan Tanah

Secara geografis, tanah di Pantai Grigak adalah tanah kaya akan mineral esensial yang diperlukan oleh tanaman. Terlebih tanah di Pantai Grigak termasuk tanah karst atau tanah kapur dengan tingkat kesamaan (pH di atas 6).

"Ini sangat bagus untuk tanaman, di mana penyerapan fosfor dan kalium akan semakin mudah dengan pH yang di atas 6," papar Direktur Eksekutif Yayasan Obor Tani, Pratomo.

Berdasarkan hasil laboratorium, lanjut Pratomo, tanah di Pantai Grigak tersebut cocok untuk tiga jenis tanaman, yaitu alpukat, kelengkeng, dan mangga. Namun komoditas ini baru bisa berhasil tumbuh jika tersedia cukup air. Untuk mengatasi masalah kekurangan air, beberapa universitas sempat melakukan penelitian. Hasilnya menunjukkan sumur tidak cocok dibangun di Pantai Grigak lantaran daerah itu tidak dekat dengan sumber mata air.

Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) bekerja sama dengan Yayasan Obor Tani menginisiasi pembangunan embung geomembran untuk memenuhi kebutuhan air di kawasan Pantai Grigak. Embung geomembran adalah infrastruktur penangkap air hujan agar kemudian bisa dimanfaatkan sepanjang tahun untuk sarana irigasi pertanian hortikultura.

Pembangunan embung yang kemudian dinamakan Embung Grigak ini berlangsung 3 bulan sejak Maret 2020. Director of Public Affairs Communications and Sustainability PT Coca-Cola Indonesia dan Wakil Ketua Pelaksana CCFI, Triyono Prijosoesilo mengatakan pembangunan Embung Grigak ini adalah salah satu wujud visi global 2020 The Coca-Cola Company yang disebut Water Neutrality yang lahir pada 2006-2007. Dalam visi Water Neutrality tersebut, The Coca Cola Company ingin mengembalikan air ke alam atau masyarakat sejumlah yang dipakai perusahaan pada tahun 2020.

Komitmen ini di Indonesia diwujudkan dalam dua garis besar kegiatan, yaitu big drop dan small drop. Big drop adalah upaya konservasi air dalam bentuk pembangunan embung yang bisa menampung air hujan dan pembuatan sumur resapan yang bisa menangkap air hujan agar bisa meresap ke tanah. Sementara small drop adalah kegiatan terkait konservasi air yang memberikan dampak langsung pada masyarakat seperti peningkatan air bersih, perbaikan kualitas air, dan sanitasi.

"Alhamdulillah pada tahun 2014-2015 kami sudah mencapai 100% untuk Indonesia, bahkan di tahun 2019 angka kami mencapai 141%. Artinya kami mengembalikan air 41% lebih banyak daripada yang kami pakai di Indonesia," papar Triyono.

Berdasarkan klasifikasi tersebut, lanjut Triyono, maka Embung Grigak yang terdapat di Pantai Grigak ini termasuk kegiatan big drop. Embung seluas 1 hektare ini bisa menampung sekitar 10.000 meter kubik air hujan. Air hujan tersebut kemudian bisa digunakan untuk mengairi 20 hektare sawah yang diharapkan bisa bermanfaat bagi 150 petani di sekitarnya. Pertanian berkelanjutan pun bisa tercipta di Gunung Kidul.

Pembangunan Embung Grigak adalah wujud kerja sama CCFI dengan Yayasan Obor Tani, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berpengalaman di bidang pembangunan embung, masyarakat setempat, dan pemerintah daerah yang terdiri dari pemerintahan desa, kelurahan, dan kecamatan.

Embung Juga Hadirkan Efek Luas

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Yogyakarta, Benny Suharsono mengatakan pemerintah menyambut baik pembangunan Embung Grigak. Pemerintah juga memandang keberadaan embung tidak berhenti sebagai infrastruktur penangkap air hujan saja, namun juga mendatangkan efek luas bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Masyarakat yang tadinya harus membeli air kini tak perlu mengeluarkan uang untuk memperoleh air. Di samping itu, embung juga bisa dimanfaatkan untuk tujuan wisata sehingga keberadaan embung ini berpotensi mendatangkan investasi lain yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.

"Kami menangkap ini peluang yang luar biasa, sehingga kami dukung dengan program perpipaan," kata Benny.

Supaya bisa dimanfaatkan dengan baik untuk pertanian dan peternakan, pengelolaan Embung Grigak ini akan diatur bersama di antara warga dan lembaga terkait, seperti Eco Camp Mangunkarsa. Petani dan warga Gunung Kidul kini bisa tersenyum sejak Embung Grigak selesai dibangun. Lahan yang tadinya kering nantinya akan bisa dialiri air sehingga bisa ditanami sepanjang tahun.

Manfaat adanya Embung Grigak ini juga dirasakan oleh petani setempat, Sarinem. Sebelumnya ia mengatakan lahan yang tandus membuat petani hanya bisa menanam saat musim hujan yang hanya berlangsung 5 bulan hingga 7 bulan dalam setahun.

"Setelah dibuat embung, saya akan menanam bawang merah, jagung, dan sayuran seperti kacang panjang, bawang merah, dan semua yang bisa ditanam di musim kemarau," ujar Sarinem.

Dengan demikian petani pun bisa menikmati lebih banyak panen dalam setahun yang pada akhirnya akan membawa perbaikan ekonomi.



Simak Video "Melihat Embung Tadah Hujan, Solusi Kemarau Panjang Warga Gunung Kidul"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)