Cerita Penggali Kubur di DKI, Pernah Makamkan 46 Jenazah COVID-19 Sehari

Rahmat Fathan - detikNews
Jumat, 22 Jan 2021 15:58 WIB
Haerudin (52), penggali kubur di TPU Pondok Ranggon (Foto: Rahmat Fathan/detikcom)
Haerudin (52), penggali kubur di TPU Pondok Ranggon. (Rahmat Fathan/detikcom)
Jakarta -

Ragam cerita datang dari penggali kubur untuk jenazah pasien COVID-19 di Jakarta. Cerita salah satunya datang dari Haerudin (52), yang mengaku pernah memakamkan 46 jenazah dalam satu hari.

Haerudin merupakan petugas penggali kubur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Dia mengatakan setiap hari paling tidak ada 25 jenazah pasien COVID-19 yang dimakamkan di TPU Pondok Ranggon.

"Minimal 25 (jenazah), lebihnya 30 sampai 45 sehari. (Lebih dari itu) 46," ujar Haerudin saat ditemui detikcom di TPU Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (22/1/2021).

Haerudin mengatakan jumlah jenazah COVID-19 yang dimakamkan dalam sehari tersebut sempat menurun. Namun, angka kembali meningkat usai perayaan hari raya Idul Fitri pada 2020.

"Terus setelah itu turun grafiknya, meningkat lagi," ucap dia.

"Jadi grafiknya turun-naik aja," imbuh Haerudin.

Dia menjelaskan TPU Pondok Ranggon juga sempat tak lagi sanggup menerima jenazah baru. Kala itu, kata Haerudin, diberlakukan peraturan baru, yakni ditumpangkan dengan kuburan yang telah ada sebelumnya.

"Jadi karena Pondok Ranggon udah abis, lahannya udah penuh, dialihkan ditumpang dengan keluarga. Jadi paling mentok (sehari) lima. Setelah itu, sekarang kita ada pelemparan di sini, di Bambu Apus yang baru," tutur dia.

Haerudin mengungkapkan dia pun saat ini tak hanya bertugas di TPU Pondok Ranggon. Sebab, dia dan 11 rekannya diperbantukan untuk proses pemakaman jenazah COVID-19 di TPU Bambu Apus dan beberapa TPU lainnya.

Lebih lanjut, Haerudin turut menuturkan kesannya selama memakamkan jenazah COVID-19. Dia berujar ada perasaan takut dan waswas.

Di sisi lain, Haerudin juga mengaku prihatin melihat proses pemakaman jenazah COVID-19 yang berbeda dengan pemakaman pada umumnya. Terlebih, jenazah tak boleh disentuh pihak keluarga.

"Ya gimana ya. Kita melihatnya karena memang aturan protokol pemerintah sudah seperti itu kan. Jadi kita turut prihatin ajalah," pungkas Haerudin.

(mae/mae)