Bacakan Eksepsi, Pengacara Bantah John Kei Terlibat Kasus Penyerangan

Luqman Nurhadi A - detikNews
Rabu, 20 Jan 2021 18:45 WIB
Polda Metro Jaya menggelar jumpa pers terkait kasus penembakan di Perumahan Green Lake, Tangerang. Dalam jumpa pers ini, John Kei dkk dipamerkan.
John Kei (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Tim kuasa hukum John Refra alias John Kei membacakan nota keberatan atau eksepsi atas dakwaan kasus penyerangan di Green Lake City, Tangerang, dan Duri Kosambi, Jakarta Barat, terhadap kliennya. Pengacara membantah John Kei terlibat dalam penyerangan di Green Lake City dan Duri Kosambi.

"Dakwaan bertentangan dengan akal sehat dan tidak sesuai fakta. Bahwa Terdakwa bukanlah orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan kematian atau kekerasan/penganiayaan kepada para korban sebagaimana diuraikan jaksa penuntut umum dalam dakwaannya. Karena dalam kejadian 21 Juni 2020 Terdakwa tidak berada pada tempat kejadian atau di Perumahan Green Lake City, Cluster Australia. Tapi kenyataannya Terdakwa berada di kediamannya," ujar tim kuasa hukum John Kei, Anton Sudanto, di PN Jakarta Barat, Jl Letjen S Parman, Rabu (20/1/2021).

Anton mengklaim John Kei tidak pernah memberi perintah untuk melakukan penyerangan. Dia menyebut narasi yang menyebut John Kei memberi perintah melakukan penyerangan adalah fiksi.

"Terdakwa dikondisikan sebagai orang yang memberi perintah untuk membunuh para korban, padahal perintah ini hanyalah fiksi belaka dan tidak pernah ada," ujar Anton.

Tim penasihat hukum mengatakan John Kei telah meminta bantuan seorang pengacara untuk melakukan penagihan utang kepada Nus Kei. Karena itu, menurutnya, John Kei tidak mungkin menghendaki kematian Nus Kei, karena akan mempersulit pembayaran utang.

"Terdakwa meminta bantuan untuk menagih utang kepada yang berkompeten, yaitu Daniel Farfar, yang merupakan seorang advokat. Kemudian dibuatkan surat kuasa tanggal 18 Mei 2020. Dari fakta itu nyata sekali niat Terdakwa adalah untuk mendapatkan pembayaran hutang melalui jalur yang dibenarkan hukum," tutur Anton.

"Jadi bagaimana mungkin Terdakwa menghendaki kematian debitur yang akan mempersulit Terdakwa memperoleh pembayaran hutang apabila Nus Kei meninggal dunia," imbuhnya.

Anton juga menyebut terdakwa sama sekali tidak pernah memberi perintah menganiaya korban ER. Pihaknya juga membantah senjata yang digunakan untuk membunuh korban berasal dari John Kei.

"Bahwa senjata tajam parang/golok yang digunakan Saudara Yeremias dkk untuk melakukan pembunuhan dan/atau penganiayaan dan/atau kekerasan terhadap Saudara Erwin dan Saudara Angki bukanlah berasal dari Terdakwa. Terdakwa juga tidak menyediakan apa pun kepada Saudara Yeremias dkk, termasuk tidak menyediakan senjata tajam," sebut Anton.

Selengkapnya simak di halaman berikutnya.