Round-up

Miris Nasib Pasien Corona Meninggal di Taksi Usai Ditolak RS Sana-sini

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 19 Jan 2021 06:17 WIB
Ilustrasi jenazah
Ilustrasi jenazah (Foto: Thinkstock)

Kabar pasien positif COVID-19 di Depok yang disebut meninggal dunia di dalam taksi online langsung mendapat respon dari Satgas Depok. Satgas COVID-19 Kota Depok meminta pihak LaporCovid-19 untuk memberikan data-data terkait kejadian tersebut.

"Saya sudah coba komunikasi dengan pihak LaporCovid-19 terkait dengan informasi ini, karena informasi ini yang di media belum dijelaskan seperti apa kronologisnya dan kami sudah menyampaikan melalui contact person di LaporCovid-19 untuk menjelaskan kronologis kejadiannya, terjadinya di rumah sakit di mana saja dan pasiennya di mana. Karena kan ini kami baru dapat informasi sementara dari pihak Lapor COVID-19 bahwa ada di antaranya rumah sakit di Depok dan juga di Jakarta," jelas Juru Bicara Satgas COVID-19 Kota Depok Dadang Wihana saat dihubungi detikcom, Senin (18/1/2021).

Dadang juga meminta agar pihak LaporCovid-19 memberikan klarifikasi terkait kejadian tersebut agar tidak menimbulkan miss persepsi. Klarifikasi dari Lapor COVID-19 juga diperlukan sebagai bahan evaluasi Satgas COVID-19 Kota Depok.

"Makanya ini yang harus disampaikan. Karena LaporCovid-19 itu kan berdasarkan informasi yang disampaikan oleh warga kepada aplikasi Lapor Covid-19. Makanya kemarin sudah kami diskusikan di Satgas kepada pihak LaporCovid-19 untuk jelaskan kasus ini kepada warga seterang-terangnya agar tidak timbul miss persepsi. Nah ini pun akan bagus sebagai bahan evaluasi kami, kalau memang dari sisi tata laksana, informasi kepada warga kurang dan lain-lain," jelasnya

Ternyata kabar itu juga sampai ke telinga anggota dewan di Senayan. Pertama, respon datang dari anggota Komisi IX Fraksi PAN Saleh Partaonan Daulay.

Ia meminta kasus ini diusut dan dibongkar. Karena itu, Saleh mendorong LaporCovid-19, yang mengabarkan pertama kali adanya pasien positif COVID-19 meninggal di taksi, menyampaikan informasi secara utuh. Dari laporan lengkap LaporCovid-19 itu dapat ditelusuri secara utuh.

"Nah untuk mengusut ini ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama pihak yang melaporkan, saya lihat tadi tuh apa namanya itu sama apa tadi nama lembaganya itu kan, LaporCovid-19. Kita minta untuk melaporkan sebetulnya seperti apa kejadian sesungguhnya. Jadi apa yang terjadi di mana di kasus ini, itu yang pertama. Jadi ditelusuri dulu itu kepada pihak yang melaporkan," ujarnya.

Ia juga meminta nama 10 RS rujukan itu dibongkar. Menurut Saleh, pengusutan dan pembongkaran ini harus disertai bukti yang cukup.

"Kemudian yang kedua, disebutkan ada 10 rumah sakit yang menolak iya kan. Nah ini perlu juga dibongkar ini satu-satu rumah sakit mana saja yang melakukan penolakan itu beserta bukti-buktinya. Kadang-kadang kan ada juga rumah sakit nolak bukan karena nolak, mungkin bisa jadi karena dia penuh dan seterusnya. Karena itu, harus ada buktinya juga ini penolakannya seperti apa, apa yang menyebabkan mereka nolak," ucap anggota Komisi IX DPR RI ini.

Sementara, Legislator PDI Perjuangan (PDIP), Muchamad Nabil Haroen, mendorong pemerintah gerak cepat menangani kejadian tersebut. Anggota Komisi IX DPR RI ini menilai perlunya penambahan ruang isolasi dan perawatan darurat terkait COVID-19.

Nabil berharap tak ada lagi masyarakat meninggal di jalan akibat kesulitan mendapatkan akses ke rumah sakit, seperti pasien Corona yang dilaporkan meninggal di taksi online tersebut.

"Intinya jangan biarkan warga meninggal di jalan karena kesulitan cari rumah sakit," tegasnya.

Halaman

(ibh/eva)