Hendropriyono Kenang Letjen Sayidiman sebagai Prajurit Jujur dan Cerdas

Sudrajat - detikNews
Minggu, 17 Jan 2021 08:30 WIB
Sayidiman Suryohadiprodjo saat bersama Hendropriyono. (Dok Hendropriyono)
Sayidiman Suryohadiprodjo saat bersama Hendropriyono. (Dok Hendropriyono)
Jakarta -

Mantan Kepala BIN Jenderal (Purn) AM Hendropriyono mengenang Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo sebagai prajurit yang setia, jujur, cerdas, dan berani. Sayidiman Suryohadiprojo wafat kemarin.

"Semoga beliau mendapat tempat yang layak di sisi-Nya," kata Hendropriyono kepada detikcom, Minggu (17/1/2021).

Sayidiman meninggal dunia pada usia 93 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebaroto, Jakarta Pusat. Dia dirawat di RSPAD sejak 30 Desember lalu.

Hendro pernah menyambangi seniornya itu di kediaman Jalan Kertanegara pada 15 Januari 2020. "Itu hari Rabu, jam 13.00," ujar Hendropriyono.

Lahir di Bojonegoro, 21 September 1927, Sayidiman pernah menjabat Wakil KSAD (1973-1974) lalu menjadi Gubernur Lemhannas hingga 1978. Setahun kemudian, Presiden Soeharto menugasinya sebagai Duta Besar RI di Jepang hingga 1982.

Pengalamannya sebagai diplomat di Negeri Matahari Terbit itu dia tuangkan menjadi buku, 'Belajar dari Jepang: Manusia dan Masyarakat Jepang dalam Perjuangan Hidup."

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya:

Semasa hidupnya, Sayidiman dikenal sebagai jenderal intelektual. Dia mengajar di lingkungan TNI, menjadi pembicara di forum-forum seminar, menulis artikel di berbagai media massa, dan menulis 13 buku.

Selain 'Belajar dari Jepang', buku karyanya yang populer antara lain 'Masalah Pertahanan Negara' (1964), 'Langkah-langkah Perjuangan Kita' (1970), serta 'Pancasila, Islam dan ABRI' (1992).

Terakhir, Sayidiman menulis pengantar otobiografi mantan Kepala BIN Jenderal (Purn) AM Hendropriyono, 'SPY SI', yang terbit pada 7 Mei 2020.

Hendropriyono pun mengikuti jejak seniornya itu untuk menulis buku. Selain otobiografi, dia telah menerbitkan 'Operasi Sandi Yudha', 'Filsafat Intelijen', 'Terorisme: Fundalisme Kristen, Yahudi, Islam', serta 'Dari Terorisme sampai Konflik TNI-Polri'.

Mantan petinggi TNI lainnya yang produktif menulis adalah Marsekal Chappy Hakim. Mantan KSAU ini sedikitnya telah merilis lebih dari 30 judul buku.

(jat/rfs)