Dilakukan Rektor USU Terpilih, Apa Itu Self-plagiarism?

Haris Fadhil - detikNews
Sabtu, 16 Jan 2021 07:25 WIB
Dr Muryanto Amin (dok. situs resmi FISIP USU)
Rektor terpilih USU, Dr Muryanto Amin (dok. situs resmi FISIP USU)
Medan -

Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) terpilih, Muryanto Amin, dinyatakan bersalah melakukan self-plagiarism atau memplagiat diri sendiri. Sebenarnya, apa itu self-plagiarism?

Muryanto dinyatakan bersalah terkait karya ilmiahnya berjudul 'A New Patronage Network of Pemuda Pancasila in Governor Election of North Sumatera' yang dipublikasikan pada jurnal Man in India. Karya tersebut dinilai plagiat dari karya Muryanto sendiri yang dalam bahasa Indonesia berjudul 'Relasi Jaringan Organisasi Pemuda dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Utara'.

"Menyatakan bahwa Dr Muryanto Amin, S. Sos , M.Si., telah terbukti secara sah dan meyakinkan dengan sengaja dan berulang melakukan perbuatan plagiarisme dalam bentuk self-plagiarism atau autoplagiasi (plagiasi diri sendiri)," demikian isi salah satu poin surat keputusan yang diteken Rektor USU saat ini, Prof Runtung Sitepu seperti dilihat pada Jumat (15/1/2021).

Ada sejumlah sanksi yang dijatuhkan terhadap Muryanto. Mulai dari penundaan kenaikan golongan hingga diminta mengembalikan insentif.

Aturan soal Plagiarisme

Plagiarisme diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 17 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi. Dalam pasal 1 ayat 1 Permen tersebut, plagiat diartikan sebagai 'perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai'.

Pasal 2 ayat 1 Permen ini memuat penjelasan tentang lingkup plagiat. Isinya:

Plagiat meliputi tetapi tidak terbatas pada :

a. mengacu dan/atau mengutip istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai;

b. mengacu dan/atau mengutip secara acak istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai;

c. menggunakan sumber gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai;

d. merumuskan dengan kata-kata dan/atau kalimat sendiri dari sumber kata-kata dan/atau kalimat, gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai

e. menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan/atau telah dipublikasikan oleh pihak lain sebagai karya ilmiahnya tanpa menyatakan sumber secara memadai.

Permen ini tak secara spesifik mengatur soal self-plagiarism. Meski demikian, ada sejumlah sanksi yang menanti bagi para pelaku plagiat mulai dari teguran hingga pembatalan ijazah.

Apa itu Self-plagiarism? simak selengkapnya di halaman berikutnya>>>

Selanjutnya
Halaman
1 2