Round-Up

Sempat Tutupi Hasil Positif Corona Bikin Kritik ke Habib Rizieq Mencuat

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Sabtu, 16 Jan 2021 05:03 WIB
Habib Rizieq Shihab tiba di Polda Metro Jaya sebagai tersangka kasus kerumunan di Petamburan. Setiba di Polda Metro Jaya, ia sempat mengacungkan jempol.
Habib Rizieq Shihab. (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Tindakan Habib Rizieq Shihab yang merahasiakan hasil tes swab positif Corona (COVID-19) dinilai telah membohongi publik. Kritik terhadap Habib Rizieq pun mencuat.

Awalnya Polri mengungkap Habib Rizieq Shihab sempat dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 berdasarkan hasil tes swab beberapa waktu lalu. Namun, kata Polri, saat itu Habib Rizieq mengaku dalam keadaan sehat walafiat.

"Kan diketahui bahwa (Habib Rizieq) sudah positif (COVID-19) itu tanggal 25, 25 November. Tapi di 26 November itu mereka ngomong tidak ada masalah, sehat walafiat tidak ada sakit apa pun," kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi saat dihubungi detikcom, Selasa (12/1).

Andi menuturkan Habib Rizieq telah menyebarkan berita bohong saat yang bersangkutan mengumumkan dalam keadaan sehat walafiat. Pengumuman Habib Rizieq dalam keadaan sehat walafiat, kata Andi, diumumkan melalui Front TV sehari setelah yang bersangkutan dinyatakan positif COVID-19.

Terkait hal itu, pihak Habib Rizieq juga sudah angkat bicara. Kuasa hukum Habib Rizieq, Aziz Yanuar, mengatakan pasien mempunyai untuk tidak mempublikasikan rekam medisnya kepada publik.

"Adalah merupakan hak asasi dari HRS selaku pasien untuk tidak mengizinkan dan mempublikasikan rekam medis kondisi kesehatan beliau," ujar kuasa hukum Habib Rizieq, Azis Yanuar, dalam keterangan tertulis, Selasa (12/1).

Azis mengatakan tidak boleh ada upaya pemaksaan dalam masalah kesehatan pasien. Hal tersebut juga telah diatur dalam undang-undang.

"Hal tersebut sebagaimana ketentuan Pasal 28G ayat (1) UUD 1945, Pasal 12 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Pasal 17 Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik, Pasal 17 Huruf h dan i, Pasal 54 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, Pasal 22 ayat (1) b Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996, Pasal 52 UU No 29/2004 tentang Praktik Kedokteran, Pasal 32 Undang-Undang No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dan Pasal 79 huruf b dan c UU 29/2004 jo Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 4/PUU-V/2007 (hal. 120)," jelas Aziz.

Terbongkarnya polemik ini menyedot perhatian Dewan. Anggota DPR menilai tindakan Habib Rizieq telah membahayakan umat. Kebohongan Habib Rizieq juga harus diusut tuntas.

PDIP: Bahayakan Umat

Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDIP Rahmad Handoyo mengingatkan tindakanHabib Rizieq menutupi hasil tes awab bisa membahayakan umat sekitar.

"Untuk itu, dalam kesempatan ini, saya mengimbau kepada siapa pun, yang telah dinyatakan positif bukanlah aib. Toh, justru harus berterus terang diberikan informasi kepada para pihak yang kontak erat untuk lebih hati-hati dan tracing, dalam rangka pengendalian penyebaran COVID," kata Handoyo kepada wartawan, Jumat (15/1/2021).

Handoyo mengatakan siapa pun yang dinyatakan positif bisa berpotensi membahayakan orang sekitar. Dia menilai sikap Habib Rizieq yang seolah menutupi itu tidak membantu pemerintah menangani COVID.

Handoyo mengatakan butuh kerja sama di antara masyarakat individu dalam penanganan COVID ini. Jika tidak berterus terang mengenai hasil positif Corona, kata dia, bisa membahayakan orang-orang terdekat.

"Butuh kerja sama dengan lingkungan sehingga tidak menyebarkan, serta lingkungan sekitar membantu untuk keperluan dasar lainnya ketika menjalani isolasi mandiri," ucapnya.

"Kalau tidak berterus terang, sesungguhnya telah membahayakan keluarganya, lingkungan sekitar, dan membahayakan orang yang pernah kontak erat, dan menjadi klaster baru penyebaran COVID-19," tambah Handoyo.

Selanjutnya
Halaman
1 2