Demo di Mapolda Riau, Massa Minta Polisi Usut Dugaan Perambahan Hutan Bengkalis

Raja Adil Siregar - detikNews
Rabu, 13 Jan 2021 19:36 WIB
Raja Adil Siregar
Foto: Raja Adil/detikcom
Pekanbaru -

Massa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Riau Bersih (GMRB) menggelar aksi di Mapolda Riau. Mereka menuntut polisi mengusut tuntas dugaan perambahan hutan di Bengkalis.

Koordinator aksi GMRB Muhammad Eko Saputra mengatakan perambahan hutan itu diduga dilakukan oleh mantan anggota DPRD Bengkalis Sihol Pangaribuan. Menurutnya, Sihol menggunakan lahan seluas 500 hektare untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.

"Saat ini umur kelapa sawit sekitar 8 tahun. Kebun itu juga tidak mengantongi izin dari Kementerian. Dikelola Sihol Pangaribuan, anggota DPRD Bengkalis periode 2014-2019 itu," ujar Eko saat menemui perwakilan polisi, Rabu (13/1/2021).

Eko mengatakan dugaan adanya perambahan hutan itu sudah dilaporkan ke Ditreskrimsus Polda Riau. Pada 9 September 2020, polisi telah memeriksa Sihol.

"Kami minta Polda Riau responsif dalam mengusut kasus tersebut. Apalagi diduga melanggar Pasal 17 ayat (2) huruf a, b, c, dan d juncto Pasal 92 ayat (1) huruf a juncto pasal 93 ayat (1) huruf a dan huruf b UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan," katanya.

Dalam kesempatan itu, Eko meminta polisi segera mengusut dan menetapkan tersangka pada kasus tersebut. Massa GMRB juga meminta polisi profesional dan transparan dalam menangani kasus tersebut.

"Kita minta Polda Riau agar tersangkakan dan tahan Sihol Pangaribuan yang diduga sudah melakukan perambahan hutan dan merugikan negara. Kami atas nama GMRB mendukung penuh pihak Ditreskrimsus Polda Riau untuk menangani perkara ini secara transparan dan seadil-adilnya tanpa adanya indikasi tebang pilih," katanya.

Pada kesempatan itu, Kapolsek Limapuluh Kompol Sanny Handityo meminta kepada massa untuk bubar. Sebab, aksi tersebut tidak berizin.

"Tidak ada dikasih izin, makanya tadi kami minta untuk bubar. Saya tegaskan aksi ini tidak boleh karena lagi pandemi COVID-19, jangan ada lagi," kata Sanny.

"Bukan kami tidak menerima, besok-besok kalau mau menyampaikan aspirasi, pakai surat saja. Karena sekarang sedang pandemi. Pasti suratnya saya sampaikan ke tujuan," imbuh Sanny.

(ras/man)