Kolom Hikmah

Karena Rendah Hati Tak Menghapus Gengsi dan Reputasi

Erwin Dariyanto - detikNews
Selasa, 12 Jan 2021 04:58 WIB
Penulis kolom
Foto: Dokumentasi Pribadi
Jakarta -

Judul di atas penulis cuplik dari sebuah kalimat yang populer di tahun 2015-an. Beredar sebagai status netizen di media sosial juga di Blackberry Mesenger dan WhatsApp, 'Rendah Hati Tak Menghapus Gengsi dan Reputasi'.

Entah siapa yang pertama kali menganggit kalimat tersebut. Yang pasti pesan dan maknanya begitu mendalam. Di dalam Islam, rendah hati dikenal sebagai sifat Tawadhu. Ini adalah sifat terpuji bagi seorang mukmin. Allah SWT menggambarkan sifat orang mukmin yang tawadhu atau rendah hati di dalam Al Quran surat Al-Furqon ayat 63.

وَعِبَادُ الرَّحۡمٰنِ الَّذِيۡنَ يَمۡشُوۡنَ عَلَى الۡاَرۡضِ هَوۡنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الۡجٰهِلُوۡنَ قَالُوۡا سَلٰمًا

Artinya: Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan "salam".

Lawan kata tawadhu adalah sombong atau takabur, dan itu dilarang dalam Islam. Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda ,"Dan sesungguhnya Allah SWT mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu'. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain."

Banyak teladan sifat rendah hati yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sang penghulu Rasul kekasih Allah SWT itu tetap hidup sederhana. Padahal sebagai pemimpin umat Islam yang kala itu pengaruhnya makin luas tak sulit bagi putra Abdullah bin Abdul Muthalib itu untuk hidup mewah, dan dilayani oleh para pelayan segala kebutuhannya.

Toh, Nabi Muhammad SAW tak segan untuk mengerjakan sendiri pekerjaan rumah tangganya. Pernah suatu Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya oleh salah seorang sahabat mengenai kebiasaan Rasulullah SAW saat di rumah. Seperti disebutkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Aisyah menjawab, "Beliau (Nabi Muhammad) menjahit pakaiannya dan memperbaiki sandalnya sendiri. Beliau juga senantiasa mengerjakan apa yang dikerjakan para lelaki di rumah mereka."

Sifat rendah hati Rasulullah SAW juga ditunjukkan saat peristiwa Hudaibiyah. Ribuan umat Islam kecewa lantaran tak jadi pergi ke Mekah untuk menunaikan umrah ke Baitullah. Tiga kali perintah Nabi Muhammad SAW agar mereka menyembelih hewan kurban dan memotong rambut tak dilaksakan.

Nabi Muhammad SAW pun kecewa lantas masuk ke dalam tenda. Dengan lembut, sang istri Ummu Salamah yang saat itu berada di dalam tenda berkata kepada Rasulullah SAW. "Wahai Rasulullah, engkau tak bisa membuat 1.500 orang ini melakukan apa yang tidak mereka inginkan. Lakukan saja kewajibanmu yang telah Allah tetapkan atasmu. Majulah dan laksanakanlah ibadahmu sendiri di tempat terbuka agar setiap orang bisa melihatmu."

Dengan rendah hati, Rasulullah SAW menuruti saran Ummu Salamah. Dan benar saja, ketika umat Islam melihat Nabi Muhammad SAW memotong hewan kurban dan mencukur rambut mereka pun mengikuti.

Syekh Nawawi Al Bantani dalam kitab Maraqi Al-'Ubudiyyah mengatakan, sifat rendah hati ini penting dimiliki oleh seseorang yang sedang menuntut ilmu. Sebab mustahil ilmu bisa meresap ke dalam jiwa yang memiliki sifat sombong atau takabur.

Ada sebuah cerita tentang Imam Al Ghazali, penulis kitab populer Ihya 'Ulumiddin. Setiap Imam Al Ghazali menjadi imam sholat di masjid, saudaranya yang bernama Ahmad tidak mau menjadi makmum di belakangnya. Pernah Ahmad menjadi makmum Imam Al Ghazali, namun belum selesai sholat dia bergeser memisahkan diri.
Selesai sholat, Al Ghazali pun bertanya kepada Ahmad mengapa memisahkan diri. "Karena aku melihat perutmu penuh dengan darah," jawab Ahmad.

Marahkan Imam Al Ghazali?

Tidak. Dia sadar ternyata tidak khusyuk di dalam sholatnya. Al Ghazali teringat beberapa hal ketika dalam sholat. Dia pun bertanya kepada Ahmad, "Dari mana kamu mendapatkan ilmu itu?"

"Aku mempelajarinya dari seorang syekh yang bekerja sebagai tukang sandal dan sepatu," jawab Ahmad.

Imam Al Ghazali yang ketika itu sudah dikenal sebagai ulama berilmu tinggi dan memiliki serta mengajar puluhan murid di Madrasahnya tak perlu merasa minder untuk menimba ilmu dari syekh tukang sepatu dan sandal. Dia pun mendatangi sang syekh untuk menimba ilmu dan menuruti semua perintahnya. Termasuk ketika sykeh memintanya untuk membersihkan lantai yang kotor menggunakan tangan dan bajunya.

Pada akhirnya, sifat rendah hati Nabi Muhammad SAW tak mengurangi keagungannya sebagai kekasih Allah SWT. Begitu juga dengan Imam Al Ghazali, sifat rendah hati tak melunturkan gelarnya sebagai Hujatul Islam.

Berdoa kita agar senantiasa menjadi hamba yang rendah hati.


اللهم أحيني مسكينا وأمتني مسكينا واحشرني في زمرة المساكين

Allahuma ahyini miskinan, wa amitni miskinan, wahsyurni fi zumratil masakin

"Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan khusyu dan rendah hati dan matikanlah aku dalam keadaan khusyu dan rendah hati dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang yang khusyu dan rendah hati."

Wallahualam Bishawab


Erwin Dariyanto

Redaktur Pelaksana Special Content dan Hikmah detikcom

*Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis. Isi artikel bukan menjadi tanggung jawab redaksi detikcom. -Terima kasih (redaksi)

(erd/erd)