Geledah Perusahaan Terkait Kasus Bansos di Jakbar, KPK Bawa 2 Koper

Ibnu Hariyanto - detikNews
Senin, 11 Jan 2021 18:11 WIB
KPK
Penggeledahan KPK terkait kasus bansos Corona. (Ibnu Hariyanto/detikcom)
Jakarta -

Penyidik KPK selesai melakukan penggeledahan di PT Mesail Cahaya Berkat terkait kasus suap bantuan sosial (bansos) Corona yang menjerat eks Menteri Sosial Juliari Batubara. Penyidik KPK membawa dua koper usai penggeledahan.

Pantauan detikcom, penyidik keluar dari PT Mesail Cahaya Berkat yang berlokasi di Soho Capital, Jl Letjen S Parman, Jakarta Barat, Senin (11/1/2021) sekitar pukul 17.15 WIB. Terlihat para penyidik KPK memakai masker.

Terlihat dua koper dibawa dua orang. Tak lama kemudian, ada lima mobil yang merapat ke depan lobi gedung. Dua koper itu dimasukkan ke mobil yang berbeda. Belum diketahui apa isi koper tersebut.

Setelah itu, para penyidik satu per satu masuk ke mobil. Mobil-mobil yang ditumpangi penyidik itu langsung meninggalkan gedung Soho Capital.

Sebelumnya, KPK kembali melakukan penggeledahan terkait perkara suap bantuan sosial (bansos) Corona yang menjerat Juliari Batubara hari ini. Penggeledahan kali ini dilakukan di dua perusahaan di Jakarta.

"Terkait penyidikan dugaan korupsi di Kemensos dengan tersangka JPB (Juliari Batubara) dkk, hari ini, Senin (11/1/2021), Tim Penyidik KPK melakukan penggeledahan di 2 lokasi," kata Plt Jubir KPK Ali Fikri kepada wartawan, Senin (11/1).

Dua perusahaan itu adalah PT Mesail Cahaya Berkat di Soho Capital, Podomoro City, Jl Letjend S Parman Kav 28, Jakarta Barat; dan PT Junatama Foodia Metropolitan Tower TB Simatupang, Jl RA Kartini lantai 13.

Juliari Batubara ditetapkan KPK sebagai tersangka dalam kasus korupsi bansos Corona. Dia dijerat bersama empat orang lainnya, yaitu Matheus Joko Santoso, Adi Wahyono, Ardian IM, dan Harry Sidabuke.

Dua nama awal merupakan pejabat pembuat komitmen atau PPK di Kemensos. Sedangkan dua nama selanjutnya adalah pihak swasta sebagai vendor dari pengadaan bansos.

KPK menduga Juliari menerima jatah Rp 10 ribu dari setiap paket sembako senilai Rp 300 ribu per paket. Total setidaknya KPK menduga Juliari Batubara sudah menerima Rp 8,2 miliar dan Rp 8,8 miliar.

"Pada pelaksanaan paket bansos sembako periode pertama, diduga diterima fee kurang-lebih sebesar Rp 12 miliar yang pembagiannya diberikan secara tunai oleh MJS (Matheus Joko Santoso) kepada JPB (Juliari Peter Batubara) melalui AW (Adi Wahyono) dengan nilai sekitar Rp 8,2 miliar," ucap Ketua KPK Firli Bahuri dalam konferensi pers sebelumnya.

"Untuk periode kedua pelaksanaan paket bansos sembako, terkumpul uang fee dari bulan Oktober 2020 sampai Desember 2020 sejumlah sekitar Rp 8,8 miliar, yang juga diduga akan dipergunakan untuk keperluan JPB," imbuh Firli.

(ibh/dhn)