Pemerintah Bentuk Tim Genomik Surveilans Antisipasi Mutasi Corona, Apa Itu?

Muhammad Ilman Nafi'an - detikNews
Kamis, 07 Jan 2021 14:59 WIB
Vaksin Merah Putih buatan Unair akan dilakukan uji tahap 4 validasi dan uji praklinis. Uji validasi akan dilakukan di lab BSL dan mitra BIOTIS mulai Desember 2020 hingga Oktober 2021.
Bambang Brodjonegoro (Foto: Esti Widiyana)
Jakarta -

Pemerintah membentuk tim genomik surveilans. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro, tim tersebut bertugas untuk meneliti mutasi virus Corona.

"Kebetulan saat ini kementerian kami dan Kemenkes. Saya dan Pak Menkes sudah sepakat akan membentuk namanya tim genomik surveilans. Apa itu? Di dalam upaya kita memahami mengenai virus COVID-19 termasuk mutasi yang mungkin terjadi. Ada proses yang dinamakan whole genome sequencing, pada intinya kita melihat seperti apa karakter virus yang ada di Indonesia," ujar Bambang dalam acara konferensi pers penyerahan alat GeNose C19 secara daring, Kamis (7/1/2021).

"Indonesia penduduknya 270 juta, sampai hari ini ke GSAID (lembaga nirlaba pengumpul data genome virus influenza dan Corona di dunia), GSAID itu adalah bank data untuk virus sejenis flu, termasuk virus yang masuk itu baru 115 whole genome sequencing di mana dari yang masuk tadi belum ada yang mengandung mutasi virus yang ada di Inggris. Itu penjelasannya, tapi baru 115 dan itu terakhir bulan Oktober," sambungnya.

Bambang kemudian membandingkan data whole genome sequencing dengan Singapura. Menurutnya, saat ini Singapura sudah memiliki 1.000 whole genome sequencing dan sudah menemukan mutasi virus.

"Kalau kita bandingkan dengan Singapura yang penduduknya hanya 5 juta. Mereka sudah memasukkan 1000 whole genome sequencing, dan karena itu kalau rekan-rekan tahu, Singapura sudah langsung menemukan yang satu apa namanya, individu yang punya mutasi virus dari Inggris tersebut. Kenapa? karena mereka sudah punya whole genome sequencing yang menyatakan itu. Kenapa Inggris bisa menemukan mutasi virus itu? Karena Inggris punya genomik surveilans salah satu yang terbaik di dunia," ucapnya.

Karenanya, lanjut Bambang, pemerintah segera membentuk tim untuk genomik surveilans. Tim tersebut didorong untuk memperbanyak sample whole genome sequencing.

"Karenanya Kami dengan Pak Menkes segera gerak cepat langsung membentuk tim untuk genomic surveilans. Tugasnya dua, yang pertama memperbanyak whole genome sequencing sendiri, targetnya diatas 1.000, Sekarang masih 115, kita akan perbanyak jadi 1.000," katanya.

Tugas kedua yakni melakukan analisa spesifik. Tugas ini merupakan tracing orang yang datang dari wilayah dengan mutasi virus Corona.

"Yang kedua akan melakukan analisa spesifik, untuk genomic ini, maksudnya akan dilakukan analisa. Misalkan ada orang yang ternyata punya record datang dari Inggris atau datang dari negara yang ada mutasi dari Inggris tersebut akan langsung dideteksi atau analisa cepat untuk tahu apakah mutasinya sudah ada atau belum. Itu yang akan dilakukan untuk bisa mendeteksi mutasi, tentunya bukan hanya mutasi yang Inggris. Kita juga akan lihat apakah mutasi yang di Afrika Selatan juga kemungkinan ada di Indonesia dan juga kita harus melihat mutasi yang mungkin terjadi di Indonesia sendiri," imbuh Bambang.

(man/tor)