KPK Geledah Kantor PT ANN Surabaya di Kasus Suap Proyek Jalan di Bengkalis

Farih Maulana Sidik - detikNews
Rabu, 06 Jan 2021 22:46 WIB
Poster
Foto: Ilustrasi suap (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

KPK melakukan penggeledahan di kantor PT Arta Niaga Nusantara di Surabaya, Jawa Timur. Penggeledahan itu terkait kasus suap proyek pembangunan jalan di Bengkalis tahun 2013-2015.

"Terkait penyidikan dugaan korupsi pembangunan Jalan Lingkar Barat Duri di Bengkalis TA 2013-2015 dengan tersangka HS (Handoko Setiono) dkk. Hari ini, tim penyidik KPK melakukan penggeladahan di kantor PT Arta Niaga Nusantara di Surabaya," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, kepada wartawan, Rabu (6/1/2021).

Ali menyebut PT ANN merupakan pemenang tender salah satu proyek multiyears pembangunan jalan di Bengkalis tersebut. Dalam penggeledahan itu, KPK mengamankan sejumlah dokumen.

"Dari kegiatan tersangka diamankan sejumlah dokumen terkait dengan keuangan perusahaan dan dokumen lain yang akan segera dilakukan analisa dan penyitaan sebagai BB (barang bukti) dalam perkara ini," ujar Ali.

Dalam perkara yang menjerat M Nasir ini, KPK juga menetapkan Bupati Bengkalis nonaktif Amril Mukminin sebagai tersangka. Amril diduga menerima suap Rp 5,6 miliar terkait proyek pembangunan jalan Duri-Sei Pakning di Kabupaten Bengkalis.

Selain itu, KPK menjerat Direktur PT Mitra Bungo Abadi, Makmur alias Aan, sebagai tersangka bersama M Nasir, dan Hobby Siregar. M Nasir bersama Hobby Siregar dan Makmur ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi proyek peningkatan jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih, Bengkalis.

M Nasir sudah divonis 10 tahun 6 bulan penjara oleh majelis hakim karena terbukti bersalah melakukan korupsi proyek peningkatan jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih, Bengkalis. M Nasir juga sudah dieksekusi ke Rumah Tahanan Kelas II-B Pekanbaru.

Kemudian, KPK kembali menjerat M Nasir bersama sembilan tersangka lainnya dalam kasus dugaan korupsi proyek jalan di Bengkalis lainnya. Berikut ini identitas sepuluh tersangka baru tersebut:

- M Nasir selaku mantan Kadis PU Bengkalis
- Handoko selaku kontraktor
- Melia Boentaran selaku kontraktor
- Tirtha Ardhi Kazmi selaku PPTK
- I Ketut Surbawa selaku kontraktor
- Petrus Edy Susanto selaku kontraktor
- Didiet Hadianto selaku kontraktor
- Firjan Taufa selaku kontraktor
- Viktor Sitorus selaku kontraktor
- Suryadi Halim alias Tando selaku kontraktor.

Kesepuluh orang itu ditetapkan sebagai tersangka karena diduga melakukan tindak pidana korupsi di empat proyek dari total enam paket proyek pembangunan jalan di Bengkalis, Riau. Keempat proyek tersebut adalah peningkatan Jalan Lingkar Bukit Batu-Siak Kecil, peningkatan Jalan Lingkar Pulau Bengkalis, pembangunan Jalan Lingkar Barat Duri, dan pembangunan Jalan Lingkar Timur Duri.

"Berdasarkan hasil penghitungan sementara terhadap keempat proyek tersebut, diduga mengakibatkan kerugian keuangan negara kurang-lebih sebesar total Rp 475 miliar," kata Ketua KPK Firli Bahuri di gedung KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (17/1).

(aud/aud)