Bagaimana Hukum Kebiri Kimia dalam Islam?

Rosmha Widiyani - detikNews
Rabu, 06 Jan 2021 13:38 WIB
Ilustrasi Penjahat Seksual di Kebiri
Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo/Bagaimana Hukum Kebiri Kimia dalam Islam?
Jakarta - Presiden Jokowi mengesahkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 70, yang salah satunya membahas hukum kebiri kimia pada predator seksual. Pro kontra muncul dengan adanya aturan yang diterapkan pada pelaku kekerasan seksual pada anak ini.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendukung hukum kebiri kimia pada PP tersebut. Aturan ini menjadi dasar penegak hukum menjalankan vonis pada pelaku predator seksual yang membahayakan anak-anak.

"PP 70 menjadi dasar menjalankan vonis kebiri kimia, pengumuman identitas pelaku, dan pemasangan alat pendeteksi elektronik kepada terpidana kekerasan seksual bagi anak," ujar Komisioner KPAI Putu Elvina pada Minggu (3/1/2021).

Aturan hukum kebiri kimia dalam PP 70 merupakan turunan UU Perlindungan Anak direvisi pada 2016. Komnas Perempuan tidak setuju hukum kebiri, karena dinilai tidak mencegah kekerasan seksual terjadi pada anak.

Kekerasan seksual pada anak tidak terjadi hanya karena dorongan libido untuk kepuasan seksual. Tindakan predator seks adalah bentuk penaklukan, ekspresi inferioritas, menunjukkan kekuasaan maskulin, kemarahan atau pelampiasan dendam.

"Komnas Perempuan menentang pengebirian apapun bentuknya. Mengontrol hormon seksual tidaklah menyelesaikan kekerasan seksual. Pengebirian tidak akan mencapai tujuan tersebut," kata Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi.

Lantas, bagaimana hukum kebiri kimia dalam Islam?

Hukum kebiri dalam Islam dijelaskan Isnawati Rais, dkk, dalam tulisan berjudul The Review Of Castration Punishment For Pedophile In Islamic Law Perspective. Tulisan ini terbit di International Journal of Advanced Science and Technology.

"Sanksi pelaku paedofil yang disebut kebiri bagi predator seks bertentangan dengan hukum Islam karena mengurangi sifat alami seorang pria. Hukuman bagi kejahatan pedofilia menurut hukum Islam dari Al Quran dan hadist adalah dirajam hingga meninggal," tulis dosen UIN Jakarta tersebut.

Dalam tulisan soal hukum kebiri dalam Islam ini dijelaskan beberapa hadis yang tidak mendukung sanksi kastrasi. Salah satunya yang dinarasikan Sa'd bin abi Waqqas

يَقُولُ رَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ، وَلَوْ أَذِنَ لَهُ لاَخْتَصَيْنَا

Artinya: "Rasulullah SAW melarang Uthman bin Maz'un untuk tidak menikah, jika Rasulullah SAW mengizinkan maka kami telah melakukan kebiri." (HR Bukhari).

Dalam arsip berita detikcom mantan Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim Nadjib Hamid menyatakan, hukum kebiri kimia tidak setimpal dengan perbuatannya. Pelaku seharusnya dikenai sanksi kebiri fisik akibat perbuatannya.

"Dalam hukum Islam membunuh ya dibunuh, berzina ya dirajam. Kalau ternyata terbukti, artinya belum setimpal kebiri kimiawi itu, kebiri fisik baru setimpal," kata Nadjib pada Jumat (30/9/2019).

Hukum kebiri dalam Islam tampaknya menjadi pertimbangan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Ulama Aceh telah menerbitkan fatwa yang tidak membolehkan hukum kebiri bagi manusia.

"MPU Aceh sudah ada fatwa nomor 2 tahun 2018 yang menyatakan hukum kebiri tidak boleh. Kebiri kimia itu bukan mematikan nafsu, hanya melemahkan zakar atau alat kelamin," kata Wakil MPU Aceh Teungku Faisal Ali.

Faisal mengatakan, fatwa diterbitkan setelah konsultasi dengan para ahli. Hukum kebiri tidak dapat dijadikan solusi, bahkan berisiko mengakibatkan pelaku lebih berbahaya.

Salah satunya, pelaku akan menerapkan berbagai upaya demi menyalurkan keinginan biologisnya. Menurut Faisal masih banyak solusi yang bisa dilakukan untuk menghukum predator seksual, misal penjara seumur hidup.

Hukum kebiri dalam Islam dan penerapannya memang menimbulkan pro kontra, namun Menteri Sosial periode 2014-2018 Khofifah Indar Parawansa berharap sanksi ini menjadi rehabilitasi bagi pelaku. Selanjutnya pelaku tak lagi mengulangi perbuatannya.

"Kebiri kimia bagi pelaku paedofil yang korbannya berkali-kali harus dilihat sebagai terapi supaya dia tidak menimbulkan korban baru. Pada tahun 2014, sebanyak 100 warga Inggris dikebiri guna menghindari bertambahnya korban," kata Khofifah.

Khofifah juga menjelaskan, hukum kebiri kimia adalah sanksi tambahan bagi pelaku paedofil. Sifat sanksi hanya sementara dan pelaku tetap menjalani hukuman pokok minimal 10 tahun. Kebiri kimia yang tidak bersifat permanen diberikan setelah menjalani hukuman pokok. (row/erd)