Jaksa Minta Hakim Tolak Pleidoi Andi Irfan di Kasus Fatwa MA Djoko Tjandra

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 06 Jan 2021 11:51 WIB
Tersangka skandal suap Djoko Tjandra-Jaksa Pinangki Sirna Malasari, Andi Irfan Jaya (AIJ) selesai menjalani pemeriksaan di KPK. Andi Irfan bungkam.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Jaksa penuntut umum meminta majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menolak semua nota pembelaan atau pleidoi Andi Irfan Jaya. Jaksa meminta hakim menghukum Andi Irfan 2 tahun dan 6 bulan dan denda Rp 100 juta subsider 4 bulan kurungan.

"Kami memohon pada majelis hakim memutuskan, menolak seluruh nota pembelaan yang disampaikan tim penasihat hukum dan terdakwa. Menyatakan terdakwa Andi Irfan Jaya melakukan tindak pidana korupsi, sebagaimana dakwaan. Menjatuhkan pidana 2 tahun 6 bulan dengan perintah terdakwa tetap ditahan, dan menghukum denda Rp 100 juta apabila tidak diganti dihukum pidana 4 bulan kurungan," kata jaksa saat membacakan replik di PN Tipikor Jakarta, Rabu (6/1/2021).

Dalam pleidoinya, Andi Irfan mengaku sebagai alumni S1 jurusan seni musik. Karena itulah dia berdalih tidak berkompeten membuat perencanaan dari aspek hukum.

"Bahkan nalar saya hingga saat ini sangat sulit untuk menerima pendapat beberapa saksi yang menuduh saya membuat action plan. Terlebih saya berada di antara dua orang Doktor Ilmu Hukum yang berprofesi di bidang hukum pula. Sementara saya sebagai tertuduh hanyalah seorang alumni S1 jurusan pendidikan seni musik yang berprofesi sebagai pengusaha kuliner," terang Andi Irfan saat membacakan pleidoi, Senin (4/1).

"Maka dari lubuk hati saya terdalam. Saya sangat percaya bahwa bahkan bapak dan ibu jaksa, serta majelis hakim yang mulia, juga merasakan keanehan terhadap tuduhan yang ditujukan kepada saya," lanjutnya.

Andi Irfan juga membantah menerima uang sebagaimana dalam dakwaan, yakni USD 500 ribu, dari Djoko Tjandra melalui mantan adik iparnya, Heryadi Angga Kusuma. Heryadi diketahui sudah meninggal dunia.

"Jangankan menerima uang dari Heryadi Angga Kusuma, bertemu pun tak pernah. Jangankan bertemu, berkomunikasi pun tak pernah," sebut Andi Irfan.

Jaksa pun menanggapi alasan Andi Irfan itu. Menurut jaksa, pendidikan terakhir S1 Seni Musik itu tidak patut dijadikan alasan karena melihat sepak terjang Andi Irfan yang berkecimpung di dunia politik Indonesia.

"Yang dijadikan alasan penasihat hukum bahwa terdakwa berlatar belakang pendidikan seni bukan hukum, dan terdakwa tidak punya relasi pejabat di Kejagung, sehingga hal ini nggak rasional adalah pemikiran sempit mengada-mengada, terlalu merendahkan kapasitas terdakwa," kata jaksa.

"Terdakwa memang seorang Sarjana di pendidikan seni, akan tetapi terdakwa seorang politikus dari salah satu partai politik di Indonesia, dan terdakwa juga dulu pernah berkiprah di lembaga survei jaringan suara Indonesia atau JSI. Sampai jadi direktur strategis pemenangan Pilkada, dan merupakan seorang pengusaha kuliner, dan untuk mencapai pada hal tersebut dibutuhkan pemikiran strategi sosial tinggi, sehingga alasan itu harus lah dikesampingkan," tambahnya.

Andi Irfan Jaya sebelumnya dituntut jaksa 2 tahun 6 bulan dan denda Rp 100 juta subsider 4 bulan kurungan. Andi Irfan diyakini terbukti menjadi perantara suap dan melakukan pemufakatan jahat dengan Pinangki dan Djoko Tjandra terkait upaya fatwa MA.

Andi Irfan disebut jaksa melanggar Pasal 11 dan Pasal 15 juncto Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Simak video 'Kasus Fatwa MA Djoko Tjandra, Andi Irfan Jaya Dituntut 2,5 Tahun Bui':

[Gambas:Video 20detik]



(zap/isa)