Warga Bogor Ricuh di Kantor Kelurahan, Polisi Lepaskan Tembakan Peringatan

M Sholihin - detikNews
Selasa, 05 Jan 2021 00:14 WIB
Inilah aksi perburuan yang dilakukan pihak kepolisian terhadap pelaku pencurian sepeda motor di Kelurahan Tampo, Kecamatan Napabalano, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Selasa (14/1). Beberapa tembakan peringatan diletuskan, mirip film action!
Ilustrasi tembakan peringatan (Foto: 20detik)
Bogor -

Kericuhan terjadi di Kantor Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Seratusan warga yang tidak terima kantor kelurahan digembok oleh pihak yang mengklaim sebagai pemilik lahan menggeruduk dan meminta gembok dibuka.

Kericuhan itu terjadi pada Senin (4/1). Camat Tanah Sareal, Sahib Khan, mengatakan warga yang datang itu ingin agar kantor kelurahan tidak digembok karena mengganggu pelayanan.

"Warga tuh merasa tidak terima kalau kantor kelurahan digembok. Sehingga mereka berprinsip, kalau masalah hukum silakan saja diatur sesuai proses hukum. Tapi untuk pelayanan publik, jangan sampai menggembok (kantor kelurahan). Keinginan warga itu supaya pemilik lahan membuka gembok tersebut," ujar Shahib, Senin (4/1/2021).

Kericuhan mulai terjadi ketika ada dua pria diduga pendukung pemilik lahan datang ke kantor kelurahan. Sejumlah warga yang semula berada di luar gerbang Kantor Kelurahan Kencana merangsek masuk dan mengejar kedua pria tersebut.

Untuk membubarkan massa yang ricuh, seorang anggota kepolisian berpakaian preman terpaksa melepaskan tembakan peringatan agar massa membubarkan diri. Tak berhenti di situ, warga yang sudah membubarkan diri kemudian mendatangi posko salah satu ormas yang tak jauh dari kantor Kelurahan Kencana dan merusaknya.

Sahib mengatakan, pihak yang mengklaim sebagai pemilik lahan menyegel dan menggembok kantor Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor sejak beberapa hari lalu. Mereka meminta agar pihak Kelurahan Kencana membayar lahan yang ditempati kantor Kelurahan Kencana.

"Informasinya digembok oleh pihak H. Edison, dia (Edison) itu direktur BMU Bumi Mutiara Utama, sebagai pengembang perumahan disini. Singkat cerita, BMU pailit, kemudian dia merasa bahwa seluruh aset yang ada di kelurahan ini masuk aset pribadi. Nah ini yang jadi kendala adalah pihak BMU meminta agar lahan yang ditempati oleh kantor Kelurahan itu dibayar, sementara dari kita, aparat pemerintah, bahwa ini adalah masuk PSU, Prasarana dan Sarana Umum, Perumahan PT BMU. Sudah ada di site plan-nya, cuma belum diserahterimakan, dari developer ke Pemkot Bogor," papar Sahib kepada wartawan.

Sementara itu, kuasa hukum Edison selaku pemilik lahan Oktri Tian mengatakan, kejadian ini berawal adanya sengketa lahan antara Edison sebagai pemilik lahan dengan pihak Kelurahan Kencana.

"Bahwa telah terjadi gesekan antara orang-orangnya H. Edison dengan warga setempat. Perihal kejadian ini bermula adanya sengketa lahan, antara H. Edison dengan Kelurahan Kencana, dan itu sebenarnya salah satu triger saja, karena perselisihan yang sebenarnya yaitu kepemilikan secara keseluruhan yaitu lahan seluas 12 hektare area yang diklaim oleh H Edison, yang sekarang tengah digugat di pengadilan," kata Oktri.

"Kemudian ini berkelanjutan dengan di-triger dengan perselisihan dengan lurah kelurahan kencana, kemudian itu warga mencapai titik kulminasi atas ketidaksabarannya, sehingga bertindak sendiri, main hakim sendiri, melakukan tindakan yang menurut kami, sudah masuk kategori anarkis, terlepas daripada itu kerugian-kerugian pada beberapa sarpras, tidak ada korban jiwa,"

Oktri mengatakan, pihaknya membuka ruang untuk bermediasi baik terkait kejadian hari ini, maupun terkait sengketa lahan. "Mengenai ke depan seperti apa tentu ada ranah hukumnya, akan diproses secara hukum, dan kalau memang memungkinkan terjadi mediasi adan kedua belah pihak atau pihak-pihak terkait, dalam sengketa lahan ini, tentu tidak akan menutup ruang untuk mediasi. Sehingga kejadian ini menjadi titik awal agar sengketa lahan 12 hektare ini menjadi kemaslahatan bagi semua pihak," paparnya.

(man/man)