Jangan Tolak Suguhan Kopi di Kapuas Hulu, Bisa Celaka!

Yudistira Imandiar - detikNews
Kamis, 31 Des 2020 16:47 WIB
tapalbatasbadau
Foto: Yudistira Imandiar/detikcom
Kapuas Hulu -

Ketika berkunjung ke rumah warga di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, jangan menolak jika disuguhkan makan dan minum, terutama kopi. Sebab, menurut kepercayaan setempat orang yang menolak suguhan dari tuan rumah bisa celaka.

Beberapa waktu lalu tim detikcom berkunjung ke salah satu rumah warga di Putussibau. Si tuan rumah mengingatkan agar setidaknya mencicipi suguhan kopi yang diberikan. Jika memang tidak bisa makan atau minum suguhannya, cukup sentuh saja wadahnya.

"Kalau di sini disuguhin kopi harus diminum. Karena katanya kalau sampai nggak diminum bisa celaka. Kalau misal nggak bisa minum yang disuguhkan, pegang saja gelasnya. Seperti saya kalau diajak minum tuak, ya sudah saya pegang saja gelasnya," jelas Edi Jumadi, salah seorang warga di Putussibau.

Pantangan menolak suguhan tersebut dibenarkan Staf Dinas Pariwisata Kabupaten Kapuas Hulu Bertonius. Ia menjelaskan budaya pantang menolak suguhan itu disebut 'kempunan'. Sejatinya budaya tersebut mengandung makna penghormatan dari tamu kepada tuan rumah yang sudah memberi suguhan.

Adapun aturan memegang wadah suguhan untuk menggugurkan kewajiban disebut 'melepus'. Berto mengatakan mlepus berarti si tamu dianggap sudah menerima suguhan yang diberikan. Budaya ini sudah berlangsung secara turun temurun sejak zaman leluhur warga Kapuas Hulu.

Berto mengatakan jika seseorang terkena kempunan, ia dapat mengalami musibah, seperti kecelakaan seperti jatuh sampai kejadian yang lebih fatal.

"Khususnya untuk kopi ya, itu paling berat risikonya kalau sampai nggak diminum atau setidaknya melepus. Karena kopi itu kan bisa dibilang sakral kalau di sini. Biasa disuguhkan di acara-acara kematian," terang Berto.

Berto menambahkan aturan kempunan tersebut tidak berlaku jika seseorang belum tahu mengenai budaya tersebut. Misalnya orang yang baru berkunjung ke Kapuas Hulu dan dia tidak menerima suguhan yang diberikan, warga setempat meyakini orang tersebut tidak akan tertimpa musibah.

"Kalau orang belum tahu lebih baik tidak dikasih tahu. Karena kalau dia sudah tahu ya bisa kena kempunan itu," ungkap Berto.

tapalbatasbadauFoto: Yudistira Imandiar/detikcom

Perjalanan ke Kapuas Hulu dilakukan dalam rangkaian tapal batas kerja sama detikcom dengan Bank BRI. Detikcom menyusuri daerah Putussibau dan Badau yang merupakan wilayah perbatasan Indonesia.

Di ulang tahun yang ke-125 pada tahun ini, BRI hadir di perbatasan dengan tema BRILian memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan, termasuk bagi masyarakat KecamatanBadau, Kabupaten Kapuas Hulu. BRI juga menghadirkan KUR hingga menyalurkan BPUM untuk membantu UMKM sekitar.

detikcom bersama BRI mengadakan programTapalBatasyang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.

(akn/ega)