Sakralnya Tenun Sidan, Perajin Bisa Celaka Jika Langgar Aturan

Yudistira Imandiar - detikNews
Rabu, 30 Des 2020 13:05 WIB
Kain tenun sidan
Foto: Rachman Haryanto/detikcom
Kapuas Hulu -

Perajin tenun sidan di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat memiliki aturan adat yang sakral. Jika aturan tersebut dilanggar, keselamatan jiwa bisa jadi taruhannya. Tenun sidan merupakan salah satu kain khas suku dayak iban.

Salah seorang perajin tenun sidan yang ditemui detikcom di Putussibau, Kapuas Hulu, Susana mengatakan perajin tenun sidan tidak boleh membuat motif tenun sembarangan. Ada beberapa motif yang disakralkan dan hanya bisa dibuat oleh pengrajin dengan batas usia tertentu.

"Kita hanya bisa membuat motif sesuai tingkatan usia. Motifnya itu seperti mempunyai kasta. Ada motif masyarakat biasa, bangsawan, dan raja," jelas Susana saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Meski begitu ditanya motif apa yang disakralkan, Susana mengaku tidak memahami hal itu. Sebab, para orang tua sengaja tidak mengajarkan Susana dan para penenun muda mengenai aturan tersebut. Hanya ada beberapa perajin dewasa yang diwarisi pengetahuan mengenai motif-motif sakral kain sidan.

"Hanya orang-orang tua yang kita khususkan seperti itu. Kita pandang umurnya, yang lebih tua kita khususkan untuk mengetahui arti motif supaya tidak hilang, kemudian yang muda-muda kita fokuskan membuat sembarang motif. Kalaupun si tua itu tahu mereka tidak akan bicara apapun (mengenai motif terlarang)," terang Susana.

Motif-motif sakral tersebut hanya dibuat ketika ada pesanan khusus oleh para perajin dewasa. Harganya, kata Susana, bisa mencapai Rp 5 juta per lembar kain ukuran 150 x 75 cm.

"Kecuali orang pesan (motif khusus). (Harga) bisa sampai 5 jutaan (rupiah), karena motifnya unik dari yang lain," kata Susana.

Perajin yang memahami aturan mengenai motif tenun sidan sangat pantang membuat motif yang tidak sesuai dengan tingkatan usianya. Sebab, menurut kepercayaan setempat hal itu dapat mendatangkan bala.

Kain tenun sidanKain tenun sidan Foto: Rachman Haryanto/detikcom

"Kalau kita memahami tingkatan ini tidak boleh sembarang kita membuatnya, walauapun motifnya bagus, orang mau pesan misalnya. Kita tidak boleh bikin motif itu," ungkap Susana.

Sudah banyak contoh penenun yang celaka karena melangkahi aturan adat tersebut. Kemalangan yang diterima ada yang berupa penyakit, bahkan sampai meninggal dunia.

"Karena ada kepercayaan bisa fatal akibatnya bisa mengakibatkan kematian, bisa bisu, nggak bisa bergerak," ungkap Susana.

Kain tenun sidanKain tenun sidan Foto: Rachman Haryanto/detikcom

Saat ini, Susana hanya membuat satu jenis motif tenun sidan, yakni cengkok pakis yang melambangkan kesuburan. Susana telah menekuni kerajinan tenun sejak pertengahan tahun 90'an.

Untuk mempopulerkan tenun khas Suku Iban ini, Susana mengolah tenun sidan menjadi berbagai produk fesyen, seperti tas, gelang, ikat kepala, dompet, dan sebagainya.

Kebanyakan produk buatan Susana diekspor ke Malaysia. Namun, di masa pandemi Susana menemui hambatan dalam penjualan produknya karena perbatasan Indonesia-Malaysia ditutup dan permintaan di dalam negeri juga menurun. Jika dalam kondisi normal dia bisa mendapat omzet Rp 10-15 juta sebulan, kini penghasilannya merosot tak menentu besarnya.

Dalam kondisi sulit tersebut, ia bersyukur mendapatkan relaksasi kredit dari BRI. Keringanan pembayaran angsuran mengurangi beban keuangan Susana di masa pandemi.

"Ya lumayan membantu karena sekarang sama sekali ndak ada penghasilan ya. Setelah direlaksasi kita bisa bayar setengahnya saja. Bahkan dikatakan kalau kondisi belum normal bisa diperpanjang lagi relaksasinya," jelas Susana.

Di ulang tahun yang ke-125 pada tahun ini, BRI hadir di perbatasan dengan tema BRILian memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan, termasuk bagi masyarakat Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu. BRI juga menghadirkan KUR hingga menyalurkan BPUM untuk membantu UMKM sekitar.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.

(prf/ega)