Sebut Isu Klaster GSKI Rehobot Hoax, Ini Penjelasan Pendeta Erastus Sabdono

Audrey Santoso - detikNews
Selasa, 29 Des 2020 09:06 WIB
Pendeta Erastus Sabdono
Pendeta Erastus Sabdono (Dok. Pribadi)
Jakarta -

Beredar isu melalui WhatsApp mengenai adanya klaster Corona (COVID-19) yang muncul akibat kegiatan ibadah di Gereja Suara Kebenaran Injil (GSKI) Rehobot Kelapa Gading, Jakarta Utara (Jakut). Pimpinan gereja atau Gembala Sidang GSKI Rehobot Kelapa Gading, Pendeta Erastus Sabdono, menegaskan informasi tersebut adalah hoax alias berita bohong.

"Tidak, itu tidak benar (ada klaster COVID-19 GSKI Rehobot Kelapa Gading)," kata Erastus ketika dikonfirmasi detikcom, Selasa (29/12/2020).

Erastus menjelaskan, anggota gerejanya memang ada yang dinyatakan positif Corona, namun karena kegiatan sehari-hari mereka di luar gereja. Bahkan, jelas Erastus, anggota gerejanya yang dinyatakan positif Corona tak lagi mengikuti kegiatan peribadatan secara tatap muka.

"Jadi begini, kita itu bergereja tidak hanya berkegiatan di dalam gereja. Ada yang sehari-hari jual bubur, ada yang bekerja di perusahaan. Mungkin dapatnya (virus Corona) dari luar, penyebarannya bukan dari dalam gereja, tidak ada. Karena memang sejak PSBB, kami belum mengadakan ibadah offline (tatap muka), semua dilakukan secara online." jelas dia.

Dia juga memaparkan hanya ada tiga orang pendeta GSKI Rehobot Kelapa Gading yang terpapar Corona. Mereka baru dinyatakan positif (baru diketahui) pada 28 Desember kemarin.

Dua pendeta GSKI Rehobot yang positif Corona tidak hadir di gereja sejak 16 Desember karena pihak gereja membuat surat edaran larangan hadir, mengingat saat itu kasus positif Corona di DKI meningkat. Sementara satu pendeta sempat datang ke gereja hanya pada 24 Desember 2020, tetapi Erastus mengatakan kegiatan gereja tetap menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.

"Kalau di Kelapa Gading hanya 3 (pendeta), itu pun kenanya bukan di dalam gereja. Dua tidak hadir lagi di perayaan Natal 24 dan 25, di 16 dan 17 Desember juga mereka sudah tidak berkegiatan di gereja karena memang gereja memberi surat imbauan agar tidak hadir karena saat itu terjadi lonjakan COVID-19 di DKI. Yang satu (pendeta positif Corona) memang hadir, tapi itu juga yang bersangkutan dan kami baru tahu (satu pendeta itu Corona) hari ini setelah hasil pemeriksaan COVID," jelas Erastus.

"Selain dari yang 3 itu, jika diberitakan ada belasan pendeta yang terpapar COVID 19, mereka bukanlah pendeta GSKI Rehobot Kelapa Gading, melainkan gereja di gereja wilayah lainnya yang tidak berkegiatan di Kelapa Gading. Jadi tidak tepat bila dikatakan ada klaster GSKI Rehobot Kelapa Gading," papar Erastus.

Erastus menerangkan gerejanya mampu menampung 2.500 sampai 3.000 orang. Saat persiapan ibadah Natal, ada pemain musik hadir di gereja, namun mereka tetap menjalankan protokol kesehatan dengan jaga jarak. Pihak Gereja bahkan melarang jemaat datang ke gereja.

"Jadi kita itu kebaktian waktu mau Natal dan Natal, memang ada pemain musik. Jemaat tidak ada, kami belum membuka kegiatan ibadah jemaat di gereja. Gereja luas, mampu menampung 2.500 sampai 3.000 orang sebelum COVID," tutur Erastus.

"Selama (pandemi Corona) ini tidak pernah ada kegiatan ibadah tatap muka, selalu online. Untuk petugas gereja, kita melakukan rapid semua. Contohnya ada pemain musik reaktif, langsung kita minta pulang. Terus untuk yang tugas ibadah Natal tanggal 24 Desember, latihannya tanggal 22, 23 Desember. Dua hari sebelum hari-H mereka latihan, sebelum latihan selalu di-rapid," terang Erastus.

Masih kata Erastus, ada dua pemimpin pujian GSKI Rehobot yang terpapar Corona. Keduanya dipastikan tak datang ke gereja pada ibadah Natal, bahkan mereka sama sekali tak ikut kegiatan latihan musik dalam rangka persiapan ibadah Natal.

"Sebelum acara itu ada dua worship leader (pemimpin pujian) yang harusnya dia bernyanyi, tapi tidak jadi datang karena sudah kena COVID. Jadi mereka tidak sempat latihan, tidak sempat bernyanyi di tanggal 24 dan 25 Desember itu," sambung Erastus.

Erastus juga membantah informasi bahwa ada ratusan anggota jemaatnya yang datang ke gereja pada 16 dan 17 Desember kemarin. "Tidak ada, tidak ada sama sekali ratusan orang di tanggal itu. Itu hoax. Jaraknya saja kita (pelayan gereja) 1,5 meter loh," ucap Erastus.

Erastus kemudian menanggapi isu 20 orang dari Sekolah Tinggi Teologia (STT) yang dipimpinnya terjangkit Corona. Erastus mengatakan jumlah sebenarnya 17 orang, dan dari hasil swab PCR, ada 5 orang yang dipulangkan kembali oleh pihak Wisma Atlet. Jadi hanya 12 orang yang ada dirawat di Wisma Atlet.

"STT memang ada yang kena karena mereka kan satu lingkup pergaulan. Jadi mereka memang kena. Begitu kita tahu mereka kena, mereka langsung kita bawa ke Wisma Atlet. Kita nggak tutup-tutupi, ini bukan suatu aib," ujar Erastus.

Terakhir, Erastus menuturkan GSKI Rehobot memiliki 8 cabang gereja dan saat ini kedelapan cabang sudah berdiri sendiri yang digembalakan oleh masing-masing Gembala Jemaat. Erastus menjelaskan, GSKI di tiap wilayah tak lagi melakukan ibadah bersama dengan GSKI Rehobot Kelapa Gading.

"Jadi tidak ada itu klaster GSKI Kelapa Gading. Gereja kita sekarang ini sudah mandiri, 8 cabang sekarang sudah mandiri, sudah masing-masing yang di Pluit, Gajah Mada, Taman Harapan Baru Bekasi, Citicon Slipi, Kebon Jeruk, Pantai Indah Kapuk, Perdatam dan Kelapa Gading. Tidak berkumpul lagi di Kelapa Gading, masing-masing sudah memiliki gembala sendiri, mereka punya kegiatan masing-masing," terang Erastus.

"Misalnya ada yang kena (Corona) di GSKI Pluit, tapi mereka kan tidak ke Kelapa Gading. Jadi memang ada yang kena, tapi hoax-nya itu dikesankan seakan-akan kami itu ngumpul, lalu menimbulkan penyebaran. Itu yang tidak benar informasinya," pungkas dia.

Tonton juga 'Satgas Covid-19: Sekarang Klaster Keluarga Paling Tinggi':

[Gambas:Video 20detik]

(aud/hri)