Duka di Perbatasan, Listrik Cuma Nyala 12 Jam

Wahyu Setyo Widodo - detikNews
Sabtu, 26 Des 2020 23:07 WIB
Agen BRILink di Badau
Foto: Rachman Haryanto/detikcom
Badau - Tak jauh dari megahnya perbatasan RI-Malaysia, terselip duka yang masih dirasakan masyarakat. Terutama soal listrik yang cuma menyala 12 jam di malam hari.

Hanya berjarak kurang dari 1 jam perjalanan dari perbatasan Indonesia-Malaysia di Badau, Kalimantan Barat masih ada daerah yang nasibnya miris. Daerah tersebut bernama Lanjak Deras.

Di Lanjak, listrik hanya menyala selama 12 jam saja, dari sore hari hingga menjelang pagi. Tepatnya dari pukul 17.00 WIB hingga 06.00 WIB.

Secara administratif, Lanjak masuk ke dalam wilayah Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu. Letaknya yang berada di antara Putussibau sebagai ibu kota kabupaten dan Badau sebagai perbatasan RI-Malaysia menjadikan Lanjak cukup strategis sebagai tempat persinggahan.

Namun sayang, sejak dulu Lanjak dilanda permasalahan yang tak kunjung usai yaitu soal listrik. Puluhan tahun silam hingga sekarang, listrik di Lanjak cuma akan menyala di sore hari sampai menjelang pagi. Sisanya, tidak ada listrik yang menyala.

"Sudah dari dulu, dari sejak saya kecil. Listrik nyala cuma malam sampai pagi. Sisanya tidak nyala. Dari pagi sampai sore mati," ujar Bianor Evodius Stanley, warga asli Lanjak yang ditemui detikcom belum lama ini.

Evo, nama panggilannya mengaku sudah puluhan tahun kondisi tersebut dialami masyarakat Lanjak. Namun sampai saat ini, masalah tersebut tak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah. Padahal kebutuhan listrik sangat penting bagi masyarakat di Lanjak.

Agen BRILink di BadauAgen BRILink di Badau Foto: Rachman Haryanto/detikcom

Evo yang juga menjadi agen dari BRILink membutuhkan listrik untuk mengoperasikan mesin EDC Bank BRI yang digunakan di tokonya. Jika tidak ada listrik, Evo kesulitan untuk melayani nasabah BRI yang butuh bantuan perbankan.

"Mesin EDC BRI ini mesti di-charge. Dulu sih masih bisa awet. Tapi mesin yang baru harus di-charge tiap 2 jam sekali," imbuh Evo.

Pun demikian untuk kebutuhan mesin fotokopi dan usaha studio foto miliknya. Jika listrik tidak menyala, otomatis Evo tidak bisa menjalankan usahanya di pagi hingga sore hari.

Untuk mengakalinya, Evo sampai harus keluar modal banyak buat membeli panel sinar surya dan genset supaya bisa tetap memakai listrik di pagi dan siang hari.

Transaksi perbankan di BadauTransaksi perbankan di Badau Foto: Rachman Haryanto/detikcom

"Terpaksa harus keluar modal sendiri, beli panel surya sama genset. Habis Rp 20 juta sendiri itu. Ya mau bagaimana lagi," ujar Evo pasrah.

Evo pun berharap agar pemerintah bisa memberi solusi atas permasalahan listrik yang ada di Lanjak. Evo pun bingung mengapa masalah itu bisa terjadi, padahal di Badau atau di daerah lain listrik menyala 24 jam. Cuma di Lanjak saja listrik menyala hanya di sore hari sampai pagi hari.

"Harapannya agar listrik ini bisa dinikmati 24 jam. Kasihan masyarakat," pungkasnya.

Program Tapal Batas mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com! (prf/wsw)