Saksi Ngaku Dihubungi Maqdir Ismail, Ini Penjelasan Pengacara Nurhadi

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 23 Des 2020 18:57 WIB
Eks Sekretaris MA Nurhadi bersama menantunya Rezky Herbiyono kembali diperiksa KPK. Berikut foto-fotonya.
Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta -

Saksi sidang kasus suap dan gratifikasi mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi bernama Bashori mengaku pernah berkomunikasi dengan pengacara Nurhadi, Maqdir Ismail. Apa respons tim pengacara Nurhadi?

"Ternyata menurut beliau kan tidak identik ya, menurut beliau tidak identik. Yang paling tahu adalah saudara saksi mendengarkan apakah itu suara Pak Maqdir atau tidak," kata M Rudjito di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (23/12/2020).

Rudjito menyebut dalam sidang saksi Bashori mengatakan suara yang menghubunginya berbeda dengan suara Maqdir di sidang. Oleh karena itu, Rudjito meyakini Bashori tidak pernah dihubungi oleh Maqdir.

"Tapi ketika Pak Maqdir berbicara itu saat memberikan keterangan tidak identik. Logatnya itu orang Madura, Pak Maqdir itu orang Lampung bukan Madura," katanya.

Sementara itu, jaksa KPK Takdir Suhan mengatakan terkait penyebutan nama Maqdir di sidang ini akan disimpulkan jaksa KPK pada tuntutan nanti. Takdir juga mengatakan pihaknya akan menyimpulkan perbuatan Maqdir ini termasuk merintangi penyidikan atau tidak.

"Memang tadi sudah menjadi fakta sidang ada penyebutan nama yang diklaim saksi adalah nama Maqdir, yang sempat katanya 3 kali menyebut, mengenalkan bahwasanya dia adalah Maqdir, dan sempat ada penyampaian pengajuan praperadilan di sidang. Nanti akan kami simpulkan di tuntutan bahwa ada indikasi bahwa pihak-pihak yang mencoba merintangi pada saat penyidik akan melakukan penangkapan kepada Hiendra Soenjoto pada saat dia jadi DPO, itu akan kami ulas di tuntutan kami karena ini sudah jadi fakta hukum," kata Takdir.

Dalam sidang ini, Nurhadi didakwa menerima suap dan gratifikasi Rp 83 miliar bersama-sama dengan menantunya bernama Rezky Herbiyono terkait pengurusan perkara di pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, ataupun peninjauan kembali. Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi dalam kurun 2012-2016.

Uang suap ini diterima Nurhadi dan Rezky dari Hiendra Soenjoto selaku Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) agar keduanya membantu Hiendra dalam mengurus perkara. Jaksa menyebut tindakan Nurhadi itu bertentangan dengan kewajibannya sebagai Sekretaris MA.

(zap/isa)