Pengacara: Biaya Renovasi Rumah Nurhadi dari Usaha Burung Walet

Zunita Putri - detikNews
Jumat, 18 Des 2020 18:39 WIB
Mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi menjadi saksi bagi Dirut PT Artha Pratama Anugerah, Doddy Aryanto Sumpeno di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (15/8/2016). Doddy merupakan terdakwa untuk kasus suap Panitera PN Jakarta Pusat, Edy Nasution.
Eks Sekretaris MA Nurhadi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Pengacara Nurhadi, Muhammad Rudjito, menyebut uang miliaran rupiah yang digunakan mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi untuk merenovasi rumah dan apartemen berasal dari hasil usaha Nurhadi terkait sarang burung walet. Rudjito menyebut Nurhadi memiliki banyak keuntungan dari situ.

"KPK sedang mencari-cari apakah ada tindak pidana lain, numpang dalam perkara ini. Ada predicate crime sehingga nanti dikaitkan dengan perkara ini. Ya kalau itu memang benar menurut tuduhan KPK itu uang nggak bener, silakan buktikan saja," kata Rudjito seusai persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (18/12/2020).

Rudjito menyebut saat ini usaha Nurhadi masih berjalan. Dia mengaku akan membuktikan di pemeriksaan terdakwa nanti.

"Kita punya bukti kok, Pak Nurhadi punya usaha burung walet. Sampai saat ini masih jalan. Nanti akan dibuktikan oleh beliau pada saat pemeriksaan terdakwa," katanya.

Menurut Rudjito, Nurhadi memiliki sekitar 12 sarang walet. Dia menyebut usaha Nurhadi sudah tercatat di LHKPN.

"Yang jelas lebih dari delapan, itu semua ada di LHKPN. Ada 12-an," ucapnya.

Sementara itu, jaksa KPK Takdir Suhan menanggapi pernyataan Rudjito. Menurutnya, hingga saat ini belum ada saksi yang menyebut sumber asal-usul uang yang digunakan Nurhadi untuk bayar renovasi rumah, namun KPK akan terus mendalami hal itu.

"Sejauh ini belum ada fakta yang muncul di sidang. tetap bahwa kami yakini pembelian aset-aset itu sumber asalnya belum jelas. Dan masih tetap akan kami buktikan bahwa penyampaian itu hanya sebatas klaim sepihak yang belum bisa diuji kebenarannya di depan persidangan," kata Takdir.

Takdir juga menjelaskan alasan jaksa KPK membongkar biaya renovasi rumah dan apartemen Nurhadi, meski biaya itu tidak tercantum di dakwaan Nurhadi. Takdir mengatakan hal itu salah satu bukti untuk memperkuat dakwaan jaksa.

"Bahwa memang di dakwaan, apa yang tadi kami ungkapkan di fakta sidang, itu memang kami menyusun dakwaan global, tujuannya untuk kita merangkum fakta-fakta hukum yang lain. Bahwa tetap ada keterkaitan masing-masing saksi dan alat bukti lain dalam pembuktian dakwaan kami," kata Takdir.

Dalam sidang ini, Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi Rp 83 miliar terkait pengurusan perkara di pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, ataupun peninjauan kembali. Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi dalam kurun 2012-2016.

Uang suap ini diterima Nurhadi dan Rezky dari Hiendra Soenjoto selaku Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) agar keduanya membantu Hiendra dalam mengurus perkara. Jaksa menyebut tindakan Nurhadi itu bertentangan dengan kewajibannya sebagai Sekretaris MA.

Di surat dakwaan, jaksa mengungkapkan uang suap yang diterima Nurhadi dan Rezky Herbiyono itu dibelikan lahan sawit, kendaraan, dan tas bermerek hingga melakukan renovasi rumah di kawasan Senayan, Jakarta Selatan.

Tonton video 'Cerita Saksi Diberitahu Bahwa Nurhadi 'Orang Top'':

[Gambas:Video 20detik]



(zap/dhn)