PKS soal Gatot Ajak Hentikan 'Kadrun-Kampret': Tak Selesaikan Masalah

Ibnu Hariyanto - detikNews
Jumat, 18 Des 2020 05:59 WIB
Mardani Ali Sera
Mardani Ali Sera (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Eks Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengajak masyarakat berhenti menggunakan istilah 'kadrun' dan 'kampret'. PKS menilai tak menyelesaikan masalah.

"Cara menghilangkan kampret dan cebong atau kadrun dan dungu bukan dengan imbauan tapi dengan menegakkan keadilan," kata Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera saat dihubungi, Kamis (17/18/2020).

"Imbauan boleh saja. Tapi tidak menyelesaikan masalah," imbuhnya.

Ia menyebut istilah itu muncul karena adanya ketimpangan dalam penegakan hukum di Indonesia. Ia mengatakan dengan adanya keadilan dalam penegakan hukum maka masyarakat bisa bersatu kembali.

"Masyarakat perlu melihat ada keadilan ditegakkan. Pada siapapun. Hukum harus tajam baik ke atas ataupun ke bawah, ke kawan atau ke kompetitor. Dengan keadilan semua merasa satu kembali. Negeri ini ada karena wujudnya rasa adil," sebutnya.

Diberitakan sebelumnya, Gatot Nurmantyo meminta semua pihak menghentikan sebutan 'kadrun' dan 'kampret'. Bagi Gatot, sebutan itu telah melecehkan Tuhan Yang Maha Esa.

Pernyataan itu disampaikan Gatot dalam video yang dibagikan akun Instagram-nya, @nurmantyo_gatot, yang bercentang biru seperti dilihat detikcom, Kamis (17/12/2020). Gatot juga menyertakan caption 'jangan merendahkan bangsaku' di unggahannya itu.

"Dalam kesempatan ini juga saya mengimbau, secara tidak sadar ataupun sadar, sengaja ataupun tidak sengaja, kita anak bangsa ini sudah merendahkan bahkan melecehkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan mempunyai sebutan masing-masing ada yang menyebutkan kadrun, ada yang menyebutkan kampret, itu kan nama binatang, padahal itu ciptaan Tuhan, manusia kita semua," kata Gatot dalam video.

Gatot mengajak semua pihak bernegara dengan santun. Dia ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang terhormat.

"Mari kita sama-sama bernegara dengan santun. Hilangkan kata-kata seperti itu. Kembalilah kepada bangsa Indonesia yang berbudaya tinggi. Memanggil dengan kata 'mas', 'kakak', 'abang', panggilan 'ucok' dan sebagainya, sehingga bangsa lain melihat kita bangsa yang terhormat," tutur dia.

(ibh/idn)