Adaptif, Cara Pelaku Ekonomi Kreatif Bangkit dari Pandemi

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rabu, 16 Des 2020 10:39 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor yang terdampak oleh pandemi COVID-19.

Tantangan yang berat itu pun turut dirasakan oleh berbagai insan perfilman di Tanah Air, di antaranya Sutradara Film Lola Amaria hingga Hanung Bramantyo.

Menurut Lola, sejak bulan Maret aktivitas pembuatan film sudah terhenti. Baru mulai kembali saat memasuki masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi, pekerja film mulai berproduksi dalam protokol yang sangat ketat.

Kendati begitu, diungkapkannya, cepat atau lambat insan perfilman Tanah Air harus beradaptasi dengan digital. Sebab, di masa pandemi ini banyak tercipta peluang lain untuk membuat karya, dan bioskop bukan satu-satunya media bagi pembuat film saat ini.

"Menurut saya ada banyak sekali ide di masa pandemi seperti misalnya tentang hoax, tentang vaksin, apapun yang berkaitan dengan pandemi yang bisa diproduksi sebagai film edukasi. Platform tidak harus bioskop, bisa televisi, bisa digital, karena mengedukasi masyarakat itu penting," ujarnya dikutip dari situs resmi Satgas COVID-19, Rabu (16/12/2020).

Senada dengan Lola Amaria, Sutradara Film Hanung Bramantyo juga mengatakan, saat pandemi, film yang tengah diproduksinya mau tidak mau harus berhenti total, termasuk film yang sudah tayang pun harus diturunkan lantaran tidak ada penonton. Hal menuntutnya adaptif terhadap perubahan.

"Sda tiga proyek film saya sebenarnya di tahun ini, yang sudah gala premier tidak jadi tayang di bioskop sampai saat ini, yang sudah tayang langsung diturunkan karena tidak ada penonton, sedangkan yang sedang proses pengambilan gambar harus berhenti," tutur Hanung.

Diketahui, Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus berupaya membuat industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bisa bertahan melewati pandemi, baik dari kampanye, pelatihan, membuka akses antara pelaku ekonomi kreatif dengan Over-The-Top (OTT), hingga memberikan stimulus ekonomi seperti Bantuan Hibah Pariwisata dan Bantuan Insentif Pemerintah yang telah diluncurkan tahun ini.

Juru Bicara Kemenparekraf Prabu Revolusi mengatakan, saat ini Kemenparekraf memastikan seluruh pelaku industri bisa memahami terkait protokol kesehatan hingga saat vaksin sudah bisa dimaksud oleh masyarakat.

"Industri ekonomi kreatif mau tidak mau harus beradaptasi dengan protokol kesehatan, ini penting untuk dipahami agar ditanggapi dengan serius. Untuk itu kami membuat platform sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment) untuk segera diadopsi. Skenario stimulus juga tetap kita pikirkan, di 2020 kita sudah melakukan Bantuan Insentif Pemerintah, di tahun 2021 akan ada perhatian khusus di 16 sub sektor dan sesuai kebutuhan masing-masing sub sektor," jelasnya.

Prabu mengatakan di masa pandemi, optimisme para pelaku ekonomi kreatif sangat dibutuhkan, begitupun dengan kesadaran menjalankan protokol kesehatan.

"Semakin cepat kita mengendalikan pandemi COVID-19 semakin cepat kita memulihkan kondisi ini, baik sektor Pariwisata maupun Ekonomi Kreatif," pungkasnya.

Sebagai informasi dalam mendukung upaya pemerintah menghentikan kasus COVID-19, masyarakat harus berperan aktif dan #IngatPesanIbu untuk menerapkan 3M, yakni #memakaimasker, #menjagajarak dan #mencucitangan seperti yang selalu dikampanyekan Satgas COVID-19.

(ega/ega)