IPW Kritik Polisi Tembak Laskar FPI di Mobil, Ini Kata Polri

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Senin, 14 Des 2020 16:09 WIB
Anggota tim penyidik Bareskrim Polri memperagakan adegan saat rekonstruksi kasus penembakan enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) di Karawang, Jawa Barat, Senin (14/12/2020) dini hari. Rekonstruksi tersebut memperagakan 58 adegan kasus penembakan enam anggota laskar FPI di tol Jakarta - Cikampek KM 50 pada Senin (7/12/2020) di empat titik kejadian perkara. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/aww.
Tim penyidik Bareskrim Polri memperagakan adegan saat rekonstruksi kasus penembakan enam anggota laskar. (Muhamad Ibnu Chazar/Antara Foto)
Jakarta -

Indonesian Police Watch (IPW) menyebut ada tiga kejanggalan dalam rekonstruksi penembakan 6 laskar FPI di Tol Jakarta-Cikampek (Japek). Pertama adalah tidak diborgolnya pengikut Habib Rizieq Shihab (HRS) tersebut saat diringkus ke dalam mobil polisi, hingga akhirnya melawan dan ditembak.

"Pertama, keempat anggota FPI yang masih hidup, setelah dua temannya tewas (versi polisi tewas dalam baku tembak) dimasukkan ke dalam mobil polisi tanpa diborgol. Ini sangat aneh, Rizieq sendiri saat dibawa ke sel tahanan di Polda Metro Jaya tangannya diborgol aparat. Kenapa keempat anggota FPI yang baru selesai baku tembak dengan polisi itu tangannya tidak diborgol saat dimasukkan ke mobil polisi?" kata Presidium IPW Neta S Pane melalui keterangan tertulis kepada wartawan, Senin (14/12/2020).

Neta menuturkan kejanggalan berikutnya adalah ketika empat pengikut HRS diringkus ke dalam mobil. Neta menilai hal itu aneh dan tidak masuk akal karena kapasitas mobil hanya untuk 8 orang.

"Kedua, memasukkan keempat anggota FPI yang baru selesai baku tembak dengan polisi ke dalam mobil polisi yang berkapasitas delapan orang, yang juga diisi anggota polisi, adalah tindakan yang tidak masuk akal, irasional, dan sangat aneh," tuturnya.

Neta kemudian menyinggung jargon Polri, yakni profesional, modern, tepercaya, atau promoter. Neta menyebut tak promoter.

"Ketiga, anggota Polri yang seharusnya terlatih terbukti tidak promoter dan tidak mampu melumpuhkan anggota FPI yang tidak bersenjata, sehingga para polisi itu main hajar menembak dengan jarak dekat hingga keempat anggota FPI itu tewas," tutur dia.

"Dari ketiga kecerobohan ini, terlihat nyata bahwa aparatur kepolisian sudah melanggar SOP yang menyebabkan keempat anggota FPI itu tewas di satu mobil," imbuh dia.

Menanggapi soal tak diborgolnya tersangka hingga akhirnya melakukan perlawanan di mobil, Polri menjelaskan anggota yang saat itu mengikuti rombongan Habib Rizieq adalah tim surveilans. Maka mereka tak dibekali borgol.

"Kenapa itu terjadi (tidak diborgol), yang pertama itu memang dia tidak diborgol karena memang tim yang mengikuti ini bukan tim untuk menangkap, tim surveilans untuk mengamati," kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian Djajadi, saat dihubungi,

"Mereka tidak dipersiapkan untuk menangkap tetapi apa bila menerima serangan mereka siap. Nah kejadian di TKP 4 itu," sambung Andi.

Andi mengungkapkan dua pelaku mencoba mencekik polisi yang duduk di bangku depan mobil. Sementara tersangka lain hendak merebut pistol polisi.

"Dua tersangka, dua pelaku itu, yang satu mencoba mencekik anggota dari belakang, yang disamping mencoba merebut (senjata). Terus dalam kondisi begitu kan nggak mungkin lagi kan pakai omongan-omongan kan. (Pelaku saat diringkus) Tangan kosong, makanya mau merebut senjata," lanjutnya.

Andi menuturkan Polri terbuka dalam mengungkap peristiwa ini secara terang benderang. Dia mengimbau semua pihak yang mengetahui dan memiliki bukti terkait peristiwa ini untuk menyampaikannya melalui hotline yang sudah disediakan.

"Saya tidak dalam kapasitas untuk menanggapi komentar-komentar orang di publik. Saya tidak dalam kapasitas untuk itu. Kalau misalnya mereka punya fakta, buktikan, kita kan terbuka. Dari awal Pak Kabareskrim (Komjen Listyo Sigit Prabowo) sudah menyampaikan hotline, terbuka kepada masyarakat, siapapun yang punya informasi terkait ini silakan," imbuhnya.

(aud/aud)