Saksi Akui Bantu Anak-Menantu Nurhadi Beli Lahan Sawit di Padang Lawas

Zunita Putri - detikNews
Jumat, 11 Des 2020 18:11 WIB
Kebun sawit Nurhadi
Kebun sawit Nurhadi. (Foto: dok KPK)
Jakarta -

Jaksa KPK mengungkapkan adanya masalah dalam proses pembelian lahan sawit yang dilakukan menantu mantan Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi, Rezky Herbiyono. Masalah itu diungkap Kepala Desa Pancaukan, Kabupaten Padang Lawas, Syamsir.

Syamsir mengatakan Rezky dan anak Nurhadi bernama Rizqi Aulia Rachmi membeli lahan sawit 150 hektare di Desa Pancaukan, Padang Lawas, milik Amir Wijaya. Sebelum melakukan proses jual-beli, Syamsir mengaku pernah diminta Sekretaris Pengadilan Tinggi Agama Medan Hilman Lubis, yang merupakan perantara jual-beli lahan sawit ini, membuat surat keterangan domisili untuk Aulia dan Rezky.

"Saya ditelepon Hilman, apa bisa diterbitkan untuk keterangan domisili untuk beli lahan," ujar Syamsir dalam sidang di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (11/12/2020).

Menurut Syamsir, surat keterangan itu dibuat empat nama, yakni Rezky Herbiyono, Rizqi Aulia Rachmi, Heri Purwanto, dan Yoga Hartiar. Surat keterangan domisili ini menjadi syarat ketika Aulia dan Rezky hendak membeli lahan sawit. Hal itu, menurut Syamsir, biasa terjadi.

Dia mengaku sering membuat surat keterangan domisili untuk pembeli lahan, meskipun orang yang dibuat surat keterangan itu tidak berdomisili di Padang Lawas.

"Kata Pak Hilman, inilah orang yang mau beli kebun. Kemudian saya minta datanya itu biasanya dibuat untuk sertifikat. Kalau di Padang Lawas, biasa buat dokumen domisili, biasa di Padang Lawas itu kalau beli lahan selalu buat itu (surat keterangan domisili)," jelasnya.

Syamsir mengaku menerbitkan surat itu tanpa dijanjikan fee. Namun dia mengaku sempat diberi uang oleh Hilman sebesar Rp 5 juta, tapi dia menegaskan uang itu tidak berkaitan dengan pengurusan surat keterangan.

"Kalau buat surat itu nggak ada (fee). Tapi pas kebetulan mau dekat Idul Fitri, Pak Hilman panggil saya ngopi-ngopi, kasih saya Rp 5 juta bilangnya untuk 'beli baju anakmu'," jelasnya.

Jaksa lantas mengonfirmasi kepada Hilman selaku pemberi uang kepada Syamsir. Hilman mengatakan tidak memiliki maksud tertentu ketika memberikan uang itu.

"Iya benar (memberi uang) karena mau hari raya itu. (Tujuan) bagi-bagi rezeki saja. Ada rezeki, mau hari raya, ya sudah, saya kasih," kata Hilman.

Duduk sebagai terdakwa di sidang ini adalah Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono. Dalam kasus ini, Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi Rp 83 miliar terkait pengurusan perkara di pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, ataupun peninjauan kembali. Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi dalam kurun 2012-2016.

Uang suap ini diterima Nurhadi dan Rezky dari Hiendra Soenjoto selaku Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) agar keduanya membantu Hiendra mengurus perkara. Jaksa menyebut tindakan Nurhadi itu bertentangan dengan kewajibannya sebagai Sekretaris MA.

Di surat dakwaan, jaksa mengungkapkan uang suap yang diterima Nurhadi dan Rezky Herbiyono itu dibelikan lahan sawit, kendaraan, dan tas bermerek hingga melakukan renovasi rumah di kawasan Senayan, Jakarta Selatan.

(zap/idn)