Novel Baswedan Bicara Wacana Ancaman Mati di Kasus Bansos Corona

Farih Maulana Sidik - detikNews
Kamis, 10 Des 2020 19:17 WIB
Penyidik KPK Novel Baswedan memenuhi panggilan Komisi Kejaksaan RI (Komjak RI) hari ini soal polemik tuntutan 1 tahun penjara terhadap dua terdakwa kasus teror terhadapnya.
Penyidik KPK Novel Baswedan (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Wacana ancaman hukuman mati terhadap pelaku korupsi bansos Corona jadi pembahasan hangat setelah Menteri Sosial (Mensos) nonaktif Juliari P Batubara terjerat korupsi dana bansos Corona. Penyidik senior KPK Novel Baswedan memberikan pandangan terkait wacana ancaman hukuman mati dalam perkara korupsi tersebut.

"Memang ada plus-minus ya. Di sana orang berharap ada hukuman mati karena ingin ada efek jera. Padahal efek jera itu kebanyakan bisa diperoleh dan tindakan segera ketika orang berbuat jahat maupun adanya kepastian dalam teoretisnya begitu," kata Novel dalam diskusi virtual, Kamis (10/12/2020).

Novel memberikan contoh hukuman yang berefek jera di Singapura agar tak buang sampah sembarangan. Menurutnya, warga Singapura memiliki kesadaran tinggi terhadap ketertiban yang harus dijalankan dalam aturan.

"Masalah ketertiban di sana baik, itu karena adanya keyakinan orang kalau berlaku melanggar, dia yakin akan segera kena dan pasti kena. Keyakinan itu membuat orang menjadi tidak berani berbuat, itu efek jera," ujar Novel.

Lalu apakah Juliari akan kena hukuman mati? Menurut Novel, saat ini pasal yang menjerat Juliari dkk baru pasal suap.

"Pasal suap ancamannya bukan hukuman mati. Ancaman hukuman mati dalam UU Tipikor hanya ada di Pasal 2 ayat 2, yaitu korupsi karena merugikan keuangan negara yang dilakukan dalam keadaan bencana. Tapi sekarang pasal yang diterapkan baru terkait dengan masalah suap. Jadi apakah pasal suap bisa kena hukuman mati, tentu tidak," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2