Terdampak Pandemi, Ibu-ibu di Bogor Cari Cuan dari Kain Perca

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Rabu, 09 Des 2020 22:02 WIB
Pemkot Bogor
Foto: dok. Pemkot Bogor
Jakarta -

Siapa yang sangka, hanya dari potongan-potongan kain perca (kain bekas) konveksi, bisa membantu perekonomian 14 ibu rumah tangga di RW 01, Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor. Ibu-ibu rumah tangga yang empat bulan lalu hanya di rumah saja, kini sudah bisa menghasilkan sejumlah produk berdaya jual seperti masker kain, sarung bantal, ikat rambut, celemek dan kain lap.

Semua ini berawal dari keprihatinan Ketua RW 01 Nining Sriningsih yang melihat banyaknya ibu-ibu di RW 01 terjerat utang di bank keliling akibat terdampak ekonomi pandemi COVID-19. Ia kemudian menyampaikan keresahannya kepada Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Sindangsari Eny Wulan.

Akhirnya dalam waktu seminggu terbentuklah pelatihan menjahit Harapan Antar Sesama (HAS) Sabilulungan pada Agustus lalu. Kemudahan membentuk pelatihan menjahit HAS Sabilulungan dalam waktu seminggu, diakui Eny, berkat bantuan dari Owner Kursus Menjahit dan Konveksi HAS yang kini konveksinya tidak beroperasi lagi.

Dengan modal mesin jahit, limbah benang dan kain perca dari HAS ini, ibu-ibu yang awalnya tidak bisa menjahit menjadi bisa menjahit. Perlahan perekonomian mereka pun membaik karena mendapatkan penghasilan dari penjualan masker dan lainnya.

"Sekarang kami sedang berkolaborasi dengan desainer Adrie Basuki. Kami mengumpulkan perca sebanyak-banyaknya, lalu menyambung perca menjadi satu lembar kain yang akan digunakan desainer Adrie Basuki untuk aplikasi desain bajunya," ujar Eny dalam keterangan tertulis, Rabu (8/12/2020).

Owner HAS Mardianto (58) mengatakan daripada mesin-mesin terbengkalai dan sisa kain terbuang, tidak ada salahnya menjadi tempat pelatihan untuk masyarakat. Apalagi sebelumnya ia juga sudah berniat untuk membantu warga sekitar belajar menjahit.

"Sehari-hari saya tetap mengajar kursus, saya senang, niat saya bantu warga bisa terwujud dan kalau ada alat yang kurang akan saya carikan juga tidak perlu bayar listrik," ujarnya.

Sementara itu, salah satu peserta pelatihan Warsinah (47) mengatakan sebelum pandemi COVID-19, ia berjualan sembako kecil-kecilan di rumahnya. Namun sejak COVID-19, usahanya mengalami hambatan dan membuatnya terpaksa meminjam modal ke bank keliling yang berujung tidak balik modal.

"Alhamdulillah ada pelatihan ini saya jadi bisa menjahit dan karena dipinjamkan mesin jahit juga sekarang sedikit-sedikit bisa terima potong dan mengecilkan celana," imbuhnya.

Sementara itu, usai menyambangi Pelatihan Kain Perca, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor Syarifah Sofiah mengatakan sejauh ini sudah bagus tapi harus tetap ada perbaikan dari desain dan kualitas agar harga jual bisa naik. Ia pun mengingatkan ke depan ada lomba fashion kain perca antar wilayah. Tujuannya untuk menstimulasi lahirnya pelatihan menjahit di wilayah lainnya.

"Pemkot juga sekarang sedang menjajaki kerja sama dengan BI untuk pengembangan UMKM, mengingat kegiatan ini mempunyai potensi ekonomi jangka panjang," katanya.

(prf/ega)