"Capaian ini tidak lepas dari peran provinsi-provinsi yang terus menggiatkan testing-nya," jelas Wiku dikutip dari covid19.go.id, Sabtu (5/12/2020).
Wiku kemudian merujuk pada penelitian dari Abbot et Al (2020), yang menyebutkan testing dan tracing yang efektif mampu mengendalikan situasi pandemi COVID-19 dalam kurun waktu 3 bulan. Hal ini juga sesuai temuan Kretzscamer et Al (2020) yaitu mengoptimalkan cakupan testing dan tracing serta meminimalkan penundaan tracing dapat mencegah hampir 80% transmisi (penularan).
"Pada prinsipnya testing dan tracing adalah dua upaya yang tidak dapat dipisahkan, harus dilakukan secara linear dengan treatment (perawatan) lanjutan jika diperlukan. Oleh karena itu masifkan 3T ( testing, tracing, dan treatment ) untuk dapat menekan angka kasus dan kematian serta meningkatkan kesembuhan nasional," ungkap Wiku.
Ia pun memaparkan data dalam satu bulan terakhir, terdapat 16 provinsi yang pernah mencapai target WHO. Bahkan dari 16 provinsi tersebut, ada 3 provinsi yang konsisten mencapai standar WHO dalam 5 minggu terakhir yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Timur dan Papua.
Untuk provinsi lainnya yang pernah mencapai target WHO adalah Riau, Papua Barat, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Yogyakarta, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Banten, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Barat. Ia pun berharap capaian 16 provinsi tersebut diharapkan dapat diikuti oleh provinsi-provinsi lainnya.
Lebih lanjut, Wiku mengatakan ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan tracing (pelacakan). Jika salah satu kasus positif telah dideteksi, maka segeralah mendata kontak erat kasus tersebut dan lakukan testing lanjutan.
"Karena tracing yang berjalan dengan baik juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan jumlah testing," imbuhnya.
Wiku juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh elemen masyarakat dan institusi yang telah kooperatif dalam mematuhi protokol kesehatan dari awal pandemi hingga saat ini secara konsisten. (mul/ega)











































